CHAPTER 10

1165 Kata
Langkah kaki Isabelle menggema di sepanjang lantai tempatnya berpijak. Sedari pertama menginjakkan kaki ke dalam gedung kantor, semua mata tertuju padanya dan anak laki-laki yang berada di gendongannya. Mereka berhenti beraktivitas dan memandangnya dengan terbengong-bengong, membuat Isabelle sedikit tidak nyaman. Damien tadi telah menawarkan diri untuk membawa Caleb masuk, namun anak itu masih menempel erat padanya, membuatnya tidak tega untuk melepaskan rengkuhannya. Kini ia sendiri yang merasakan akibatnya. Secepat mungkin Isabelle melangkah menuju ruangan Rafael untuk menghindari mata-mata yang membuatnya risih. Saat Isabelle membuka pintu ruangan Rafael, pria itu sudah berdiri menyambutnya. Kegugupan jelas terlihat dalam tatapan mata pria itu. Isabelle menatapnya dengan tajam dan menusuk, dan Rafael menggaruk tengkuknya, menunggu Isabelle mengatakan sesuatu. Mereka bertatapan dalam waktu yang lama, menanti siapa yang akan berbicara terlebih dahulu. Isabelle menghembuskan napasnya kesal. "Apa maksudnya ini?" tanyanya dengan suara sepelan mungkin agar tidak membangunkan Caleb. Rafael menunjukkan cengirannya, walaupun masih terbersit rasa bersalah dalam tatapannya. "Emm, Caleb adalah anakku. Dan kuharap sebentar lagi akan menjadi anakmu juga," jawabnya dengan penuh harap membuat Isabelle mendengus pelan. "Dan kau tidak memberitahuku sebelum mengatakan usulan konyolmu tadi?" tanya Isabelle sedikit emosi, dan harapan yang ada di mata Rafael meredup, bahunya terkulai. "Argh," erang Isabelle menunjukkan kekesalannya. Ia melangkah menuju sofa dan mendudukkan diri. Rafael masih termenung di tempatnya tadi. "Apakah kau tidak memikirkan konsekuensi dari perbuatanmu? Bagaimana perasaan Caleb kalau hubungan kita tidak berjalan dengan baik, Rafe?" tanyanya dengan perasaan resah. Rafael bejalan mendekatinya dan berlutut di depan Isabelle. "Aku berjanji akan berusaha sebisaku agar hubungan kita tidak rusak, Belle. Maaf jika aku baru memberitahumu soal Caleb. Aku harus memastikan bahwa kau bersedia menjalin hubungan denganku sebelum memberitahumu mengenai keberadaannya," ucap Rafael dengan tatapan memohon. "Tapi kenapa kau meminta dia memanggilku Mommy? Bukankah itu tidak adil untuk ibu kandungnya? Aku tidak yakin itu adalah ide yang bagus, Rafe," kata Isabelle dengan ragu. Tatapan Rafael meredup dan bahunya merosot lesu. "Caleb tidak pernah bertemu dengan ibu kandungnya, Belle. Setidaknya tidak ketika dia sudah memahami lingkungan sekitarnya. Dia selalu menanyakan tentang kapan mommy-nya akan datang dan aku selalu menjawab 'Tunggu saja, Nak.' Dan itu sangat menyakitiku kalau boleh jujur," kata Rafael dengan suara pelan, hampir seperti bisikan. Tapi Isabelle masih bisa mendengarnya. Isabelle mengamati Rafael yang masih menunduk. Hatinya ikut sakit membayangkan laki-laki tegar dan kuat seperti Rafael memiliki sisi rapuhnya juga. Dan laki-laki itu menunjukkannya pada Isabelle. Ia iba pada Rafael, tapi juga masih penasaran dengan cerita sebenarnya. 'Apakah aku boleh menanyakannya?' batinnya dengan perasaan bimbang. "Rafe, bolehkah aku bertanya apa yang terjadi pada ibu kandung Caleb?" tanyanya pelan, berusaha untuk tidak terdengar memaksa. Bahu Rafael menegang, tangannya terkepal, seolah dengan itu ia bisa menguatkan diri, kemudian dihembuskannya napas panjang. Laki-laki itu mengangkat wajahnya menghadap Isabelle. Raut wajah yang ditampakkannya membuat Isabelle merasa sesak. Air mata Rafael menggenang di pelupuk matanya, mengancam akan terjatuh. Laki-laki kuat itu sedang berada di titik paling rapuh yang pernah dilihat oleh Isabelle. "Rafe," panggil Isabelle sambil mengulurkan tangannya yang bebas untuk mengusap air mata yang akhirnya menetes di pipi Rafael. "Kau tidak perlu menjawabnya kalau belum siap, oke? Aku akan menunggu selama apapun itu. Tapi satu yang harus kupastikan. Kehadiranku tidak akan menganggu dan merusak hubungan apapun yang kau miliki dengan ibu kandung Caleb, kan? Aku tidak mau jadi orang ketiga di antara kalian," kata Isabelle dengan lembut namun tegas. Rafael menggeleng, lalu mengangkat tubuhnya untuk memeluk Isabelle yang masih memangku Caleb. Berulang kali ia membisikkan kata terima kasih pada Isabelle sebelum menangkup kedua pipi perempuan itu untuk menatapnya dengan tatapan yang sangat dalam. "Kuyakinkan kau, Belle. Kau adalah perempuan terpenting bagiku selain ibuku. Tidak akan ada yang lainnya. Hanya kau yang akan menjadi satu-satunya wanita yang dipanggil Mommy oleh Caleb. Kau mengerti kan?" pinta Rafael dengan nada memohon. Isabelle mengangguk, tanpa terasa air mata menggenang di pelupuk matanya. Ia tidak menyangka bahwa hari ini ia akan mendapatkan begitu banyak kejutan. Isabelle tidak tahu apa yang dilihat Rafael darinya. Selama mereka bekerja bersama, Rafael tidak pernah bertingkah melebihi batas padanya, walaupun kemanjaannya terkadang membuat Isabelle geleng-geleng kepala. Beberapa kali pria itu juga bergurau ingin menjadikan Isabelle istrinya di sela-sela aktivitas mereka. Namun hanya sampai di sana saja. Tidak ada pembahasan lebih lanjut dan Isabelle juga hanya menganggap itu sebagai candaan belaka. Namun hari ini rupanya Rafael tidak mengalihkan pembicaraan mereka ketika percakapan tadi berlangsung. Bayangkan betapa kagetnya Isabelle saat Rafael memasang wajah serius dan tidak berganti menjadi tawa yang seharusnya mengikuti sebuah gurauan. "Mommy?" Suara anak kecil menyadarkan Isabelle dari lamunannya. Caleb mengernyit menatapnya. "Kenapa menangis?" Tangan kecilnya mengusap pipi Isabelle, membuat hatinya menghangat. Kemudian Caleb membalikkan tubuh dan menatap ayahnya dengan wajah khawatir. "Daddy juga kenapa menangis?" tanyanya saat melihat mata Rafael masih memerah. Isabelle membiarkan Caleb bergerak menuju Rafael untuk memeluk ayahnya. "Jangan sedih, Dad. Mommy sudah kembali. Kau tidak akan sendirian lagi sekarang." Rafael memeluk anak laki-lakinya dengan erat, menyalurkan rasa sayangnya. Isabelle yang menyaksikan itu, menitikkan air mata haru melihat pemandangan yang menurutnya sangat indah. Rafael tidak seperti ayah Isabelle yang dingin dan terkesan tidak mempedulikannya. Melihat bagaimana interaksi ayah dan anak berlangsung di depannya membuat Isabelle berharap ayahnya sendiri sehangat itu, setidaknya pada saat Isabelle masih kecil. "Mom, kau tidak akan pergi lagi, kan?" tanya Caleb dengan mata bulatnya yang berwarna persis seperti ayahnya. Hati Isabelle dipenuhi kasih sayang pada anak laki-laki yang baru ditemuinya siang tadi. "Mommy tidak akan pergi lagi, Sayang," ucap Isabelle dengan suara tercekat. "Janji?" Dengan mengukurkan jari kelingkingnya, Caleb menatap Isabelle dengan harapan yang menyilaukan di kedalaman matanya. "Janji," balas Isabelle dengan tekad bulat. Kata itu bukan hanya ia berikan untuk Caleb, tapi juga pada dirinya sendiri. Sebenarnya ia masih tidak yakin dengan keputusan itu, tapi saat melihat Caleb, ia tidak mempunyai kuasa untuk menolak. Tak berapa lama kemudian mereka bertiga saling tertawa bersama-sama menikmati kebahagiaan yang akhirnya datang. Rafael melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. Sedangkan Isabelle menemani Caleb bermain di ruangan Rafael yang dilengkapi dengan mainan yang tersimpan rapi di lemari. Isabelle sendiri heran, karena ia tidak pernah melihat semua mainan-mainan itu sebelumnya. Mungkin karena ia tidak pernah mencoba untuk membongkar-bongkar barang pribadi Rafael. "Berapa umurmu, Caleb?" tanya Isabelle saat mereka sedang mewarnai buku bergambar yang menunjukkan gambar serigala. Sepertinya Caleb menyukai hewan itu, karena hampir semua bukunya terdapat gambar serigala di dalamnya. Caleb menunjukkan lima jarinya pada Isabelle dan mengucapkan angka tersebut dengan sedikit susah payah, namun akhirnya berhasil. Isabelle tersenyum bangga melihat pencapaian Caleb dan mengusap rambutnya dengan sayang. "Memangnya kapan kau mulai sekolah? Apakah sekolahmu menyenangkan?" tanya Isabelle. Caleb mengangguk bersemangat, lalu mengernyit, "Satu minggu yang lalu?" jawabnya agak ragu. Tidak yakin itu adalah jawaban yang benar atau tidak. "Daddy!" teriak Caleb pada Rafael yang duduk di kursi kerjanya. "Benarkan jika aku menjawab satu minggu yang lalu?" tanyanya dengan nada khas anak-anak yang membuat Isabelle tersenyum geli. Rafael terkekeh. "Benar, Nak. Sebenarnya kau tidak perlu berteriak sekeras itu. Daddy mendengarmu dari sini, asal kau tahu." Jawaban Rafael membuat wajah Caleb memerah karena malu. Isabelle tertawa menyaksikan tingkah menggemaskan bocah yang memanggilnya Mommy itu. Caleb yang melihat Isabelle tertawa, akhirnya ikut tertawa juga.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN