Isabelle menyiapkan diri untuk menelepon Rafael. Saat itu malam sudah sangat larut. Ia tidak yakin Rafael masih bisa dihubungi. Tapi ia akan mencobanya. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali kan? Perlahan Isabelle menekan nomor telepon suaminya dengan perasaan gelisah. Jarinya sedikit gemetaran ketika melakukannya. Berbagai pikiran negatif memenuhi benaknya. Dan Isabelle sudah berusaha sebisa mungkin untuk mengusir segala macam pikiran buruknya itu. Ia menggigit bibirnya dengan gugup saat terdengar dering yang menandakan panggilannya telah tersambung. 'Apakah Rafael akan mempermasalahkan asal-usulku yang bahkan baru kuketahui hari ini?' batinnya muram penuh kegelisahan. Ia menggelengkan kepala untuk mengusir kabut yang memenuhi otaknya. Isabelle merasa pikirannya tidak bekerj

