"Alina, kau baik-baik saja?" Mbak Lisa menepuk bahuku pelan. *** Aku sedikit tersentak, lalu segera menoleh padanya, "iya, mbak. aku tak apa apa. Jangan terlalu mencemaskanku." Aku memandang Mbak Lisa sambil tersenyum, wajah kakak iparku itu terlihat lelah. Wajar saja, sebab begitu tiba dari surabaya ia langsung menemaniku hingga dirumah sakit ini. Mbak Lisa adalah orang pertama yang mendukungku dan meragukan niat poligami yang ingin dilakukan Mas Bayu. ia begitu memahami apa yang kurasakan, didukung dengan perbedaan usia kami yang tak terpaut jauh, semakin membuatku merasa nyaman mengungkapkan apa yang kurasakan saat ini padanya. "Ayo duduklah dulu dan tenangkan dirimu, Alina." ucap mbak lisa sambil menuntunku ke kursi tunggu lalu mengeluarkan sebotol kecil air mineral dari dalam sl

