Tamparan demi tamparan, menjadi sarapan yang diterima oleh Grace kecil. Ayahnya akan sangat marah ketika kemauannya tidak terpenuhi. Bahkan, saat Grace sudah sangat lelah pun, ayahnya masih menyuruh dirinya untuk mencari uang. “Ayah kenapa, sih? Kenapa ayah jadi seperti ini!” bentak Grace. “Mana sosok malaikat yang dulu, kenapa sekarang ayah berubah jadi iblis penyiksa!” jeritnya. “Kurang ajar!” Plak! Lagi, satu tamparan mendarat di pipi gadis kecil itu. Ia hanya bisa menangis menahan nyeri yang menjalari pipinya, juga batin yang tersiksa oleh perbuatan kasar ayahnya. “Siapa yang mengajari kamu berbuat kasar kepada orang tua? Siapa, Grace!” “Ayah!” teriaknya. “Dari ayah aku belajar, sikap ayah yang selalu kasar membuat aku jengah. Aku memang masih bocah kecil, tapi aku juga punya per

