Karena sekolah masih libur, Gladys memutuskan untuk menghabiskan waktunya di atas kasur dengan guling kesayangannya. Namun, saat gadis itu hendak memejamkan mata kembali, ada sebuah ketukan dari luar rumahnya.
“Ck! Siapa sih yang dateng pagi-pagi gini,” gerutu Gladys.
Tok...
Tokk..
Dengan malas akhirnya Gladys berjalan menuruni tangga dengan piyama masih melekat di tubuhnya. Ia berjalan sambil terus menggerutu seseorang yang sudah mengganggu tidurnya.
“Siapa sih!” ketus Gladys ketika membuka pintu depan. Namun tidak ada siapapun di sana, Gladys akhirnya menutup pintu kembali. Ia hendak beranjak kembali ke kamarnya, namun tidak lama pintu terketuk kembali.
Dengan kesal akhirnya Gladys berjalan menuju pintu, sama seperti sebelumnya, tidak ada siapapun di depan pintu tersebut.
“Siapa sih orang iseng yang ganggu sepagi ini! Gua masih ngantuk woi!” teriak Gladys sambil menguap.
“Keluar nggak lo! Atau mau gua teriakin maling?” tanya Gladys masih celingak-celinguk.
“Oh, lo beneran mau gua teriakin maling ya?!” sentak Gladys.
“Hallo! Lo manusia atau bukan?” tanya Gladys. Gadis itu memegang tengkuknya yang mulai merinding.
“Siapa sih! Aneh banget,” gerutu Gladys.
“Pokonya kalau lo ketuk sekali lagi gua gak bakalan bukain!” teriak Gladys. Ia mengusap lehernya dan melihat kanan kiri, namun tidak ada siapa-siapa.
“AKU AKAN BAWA KAMU GLADYS, HAHA!” ujar makhluk itu. Tunggu... Apa benar itu makhluk? Mana ada makhluk dengan suara berat seperti itu.
“Gak lucu, woi! Keluar kalau berani!” teriak Gladys.
“Siapa sih, lo!”
“Gua sumpahin semoga lo gak dapet jodoh karena udah isengin gua!”
Dari arah belakang ada yang memegang bahu Gladys. “Ada apa sih, De? Ngapain lo teriak-teriak gak jelas gini,” ujar Refo.
“Ngagetin aja lo, Bang! Ngapain lo di sini?” tanya Gladys.
“Ya gua kaget lah, gua kira siapa yang teriak-teriak di depan pintu. Taunya elo!”
“Ngapain sih?” tanya Refo.
“Nggak ngapa-ngapain, udah sana lo!”
“Iye.” Refo kemudian melenggang pergi meninggalkan adiknya.
“Sekali lagi gua tanya, lo siapa woi!”
"GUE G...."
---
Pagi yang cerah membangunkan seorang lelaki tampan dari tidurnya, lelaki itu tertidur dengan keadaan shirtless dan hanya menggunakan celana boxer pendek. Saat hendak memejamkan mata kembali, ia jadi teringat rencana jail yang akan dirinya lancarkan kepada korban.
Lelaki itu adalah Gaga Alfian, ia langsung meloncat dari kasur dan beranjak menuju kamar mandi.
“Gua jadi penasaran gimana reaksinya nanti,” gumamnya sambil terkekeh.
Keluar dari kamar mandi, wajah lelaki itu tampak lebih fresh. Gaga menyugar rambutnya yang basah. Setelah mengenakan pakaian rapi, Gaga langsung menuruni anak tangga dan bersiap menjalankan aksinya. Setelahnya ia langsung meluncur ke rumah target.
Sesuai rencana, ia tersenyum puas ketika melihat rumah gadis itu masih tertutup. Dia pasti belum bangun, pikirnya. Ia memarkirkan mobil terlebih dahulu lalu mulai melancarkan aksinya.
Tok...
Tokk...
Diketuk lah pintu rumah gadis itu, lalu Gaga langsung bersembunyi di balik pohon yang berada tidak jauh darinya. Gaga melihat gadis itu keluar dengan masih menggunakan piyama tidurnya, juga masih menahan kantuk.
Gaga terkekeh dibuatnya ketika gadis itu meneriaki seseorang yang datang sepagi ini. Gaga berusaha menahan tawanya.
Tidak lama gadis itu masuk kembali ke dalam rumah, Gaga beranjak dari persembunyiannya dan mengetuk pintu itu lagi. Raut wajah kesal kentara sekali di wajah gadis itu, ia mulai tidak tahan sekaligus kasihan juga melihatnya.
“Pokonya kalau lo ketuk sekali lagi gua gak bakalan bukain!” teriak gadis itu. Gaga terkekeh, entah darimana ide jail seperti ini hinggap dipikirannya.
"AKU AKAN BAWA KAMU GLADYS, HAHA." Dengan suara yang dibesar besarkan, pemuda itu terus menakuti gadis nya.
Namun sepertinya gadis itu tidak kenal takut, ia justru menyumpahi dirinya.
“Gak lucu, woi! Keluar kalau berani!” teriak gadis itu.
“Siapa sih, lo!” teriak gadis itu.
Gadis itu membelakangi tempat persembunyian Gaga. Sudah, Gaga tidak bisa lebih iseng lagi, kasihan sekaligus lucu juga melihat ekspresi campur aduk dari wanita itu.
Gaga kemudian berjalan perlahan di belakang gadis itu, ia berjinjit agar suara langkah kakinya tidak terdengar.
“GUA GAGA!” teriak Gaga sambil memegang bahu Gladys. Ya, gadis itu adalah Gladys. Gadis yang menjadi sasaran keisengan seorang Gaga Alfian.
Ia tertawa puas ketika melihat reaksi tubuh Gladys yang sangat terkejut, sungguh ekspresi yang menghibur di pagi ini bagi Gaga.
Gladys menatap murka kepada lelaki iseng itu, ia kemudian memukul bahu Gaga keras. “Jadi, daritadi itu elo yang ngerjain gua?! Lo pikir lucu?” ujar Gladys ketus.
“Lucu banget. Apalagi ekspresi wajah lo, buat pagi gua jadi lebih berwarna.” Gaga tertawa. “Keliatan panik banget tadi muka lo! Anjir gua gak bisa berhenti ngakak!” Gaga masih setia tertawa.
“Sumpah demi apapun, lo cowok paling ngeselin yang isengin gua selain Bang Refo,” ujar Gladys.
“Tapi berhasil kan? Lo ketakutan kan tadi?”
“Nggak!” elak Gladys.
“Cih, boong. Bilang aja takut,” ejek Gaga.
“Gua bilang nggak, ya, nggak!”
“Iyadeh, cewek mah selalu menang, betul?”
“Tau!”
“Woi, De! Kalau ada tamu tuh diajak masuk, jangan ngobrol depan pintu kayak gitu!” teriak seseorang dari dalam.
“Gak mau, Bang! Dia ngeselin soalnya!” Gladys balas berteriak.
Gaga terkekeh. “Jadi gak diajak masuk nih?”
“Karena gua tuan rumah yang baik, jadi silahkan masuk lo!” ketus Gladys.
“Jangan galak-galak napa, Buk.”
Gladys hanya memutar bola matanya, lalu melenggang menuju ruang tamu terlebih dahulu dan disusul Gaga dibelakangnya. Ketika mereka berdua sampai di ruang tamu, lampu ruangan seketika mati tiba-tiba!
Karena ulah jail Gaga tadi kepadanya, Gladys mengira ini adalah ulah cowok iseng itu lagi. “Gak usah pake matiin lampu juga kali, gua gak takut Ga!” Gladys terkekeh.
“Lo ngomong apa?”
“Nggak usah pura-pura gak tau, deh!” ketus Gladys. “Buruan nyalain lampunya!”
“Bukan gua Dis yang matiin,” elak Gaga.
“Gak usah boong, buruan nyalain.”
“Gua daritadi di samping lo! Malah gua gak tau letak saklar lampunya itu dimana.” Gaga berusaha meyakinkan.
Gladys menatap Gaga masih dengan rasa tidak percayanya. “Lo pasti suruh orang juga kan buat nakutin gua?” tuduh Gladys.
“Harus berapa kali sih, gua bilang?” tanya Gaga. “Oke gua akui, kelakuan gua yang tadi emang jail banget. Tapi untuk masalah ini bener-bener bukan gua."
“Serius bukan lo, Ga?”
Gaga menggeleng. “Nggak, Dis. Kali ini bukan gua yang lakuin.
“Kalau bukan lo, terus siapa dong? Masa Bang Refo? Dia mah paling juga molor lagi,” ujar Gladys.
Wuuusshhh!
Sekelebat angin tiba-tiba melintas dari arah belakang tubuh mereka. Tidak lama lampu yang tadi mati, kini sudah menyala kembali. Dan ternyata benar, bukan Gaga pelakunya, karena sedari tadi dia berada di samping Gladys.
Mereka berdua menoleh, namun tidak ditemukan apapun. Tidak, sepertinya Gladys melihat sesuatu. Sesuatu yang terlihat sangat kental.
TOLONG AKU ATAU KAMU HARUS MATI!
Apa maksudnya itu? Siapa yang menulis tulisan itu menggunakan darah? Siapa dia! Banyak sekali pertanyaan yang saat ini bergelayut di kepala Gladys, apa semua ini adalah petunjuk?
“T-tolong? Siapa yang harus di tolong, Ga?” Gladys menoleh ke arah Gaga.
“Siapa yang nulis ini? Kenapa dia minta tolong sama gua?”
“Apa-apaan, ini!” Gladys berteriak.
“Ada apa sih, De?” tanya Refo sambil menuruni anak tangga.
“Abang! Bang, ini maksudnya apaan? Siapa yang neror gua pake ginian?” ujar Gladys menunjuk tulisan berdarah itu.
“Tolong?” tanya Refo.
Gladys mengangguk. “Siapa yang harus di tolong? Apa ada yang lo sembuyiin dari gua, Bang?”
“Lo ngomong apa sih. Apaan coba yang gua sembunyiin, selama ini gua selalu jujur.”
“Tapi, entah kenapa gua ngerasa kayak gitu, Bang.”
“Udah-udah, jangan terlalu dipikirin.”
“Gimana kalau misalnya gua gak bisa tolong dia, terus gua beneran mati?” tanya Gladys dengan suara bergetar.
“Ssst! Ada gua, gua akan selalu jagain lo.” Refo merengkuh tubuh adiknya.
“Iya, Dis. Lo tenang aja. Masih ada Bang Refo, gua, sama yang lainnya. Kita semua bakal selalu jagain lo,” ujar Gaga tersenyum.
“Tuh dengerin apa kata temen lo.” Refo melepaskan rengkuhannya pada Gladys.
Gladys tersenyum. “Thanks, ya, Ga.”
“Santai aja kali, Dis.”
Kemudian...