Misteri-11

988 Kata
Kemudian setelah membersihkan darah tadi, Gladys duduk diantara Refo dan juga Gaga. Ia masih bertanya-tanya soal darah siapa itu. Aneh, pikirnya. Karena ini pertama kalinya Gladys mendapat teror seperti itu. “Kalian ngerasa aneh gak, sih?” “Aneh gimana?” kompak keduanya. “Ya aneh aja, kenapa peneror itu selalu pengen gua mati.” Gladys menoleh kepada keduanya. “Menurut kalian, penerornya manusia atau bukan?” “Ada dua kemungkinan.” Gaga angkat bicara. “Maksudnya?” “Itu bisa aja ulah manusia, atau bukan manusia.” “Maksud lo, hantu?” Gaga mengangguk. “Kalau misalnya manusia, bisa jadi mereka ada dendam sama lo atau keluarga lo.” “Kalau bukan manusia?” tanya Refo. “Kemungkinan ada sesuatu hal yang belum terselesaikan di dunia, maka dari itu dia meminta pertolongan agar bisa tenang di sana.” “Menurut lo kayak gitu, Ga?” “Bisa jadi, Dis. Karena dia minta tolong sama lo, mungkin aja masalahnya ada di lo, atau keluarga lo.” “Maksud lo apaan?!” tanya Refo sewot. “Bang!” tegur Gladys. “Itu masih kemungkinan, Bang. Kita kan gak tau apa yang sebenernya terjadi.” “Gaga bener. Lagian kalau emang gak ada apa-apa, atau gak ada yang di sembunyiin, lo gak perlu sewot kayak gitu.” “Refleks, Dis.” “Kecuali, kalau emang lo lagi nyembunyiin sesuatu.” “Nggak, lah!” bantah Refo. “Ya, udah.” Gladys beralih menatap Gaga. “Oh iya, Ga. Lo kenapa dateng pagi-pagi gini? Pake iseng segala lagi,” ujar Gladys. Gaga terkekeh. “Gua cuma mau balikin ini.” Gaga menyodorkan sebuah bandana berwarna biru motif bunga milik Gladys. “Ketinggalan di mobil gua.” “Oh iya, gua sampe gak sadar kalau bandana gua hilang.” Gladys menerima miliknya. “Thanks, Ga.” “Sama-sama, lo cantik banget pas pake bandana itu.” “Ehem! Modus tuh, De.” Refo terkekeh. “Diem lo, Bang. Gua tuh emang selalu cantik pake apapun juga, haha!” “Gua suka cewek yang percaya diri kayak gini,” ujar Gaga terkekeh. “Apa sih, nggak lah, gua cuma becanda.” “Kayaknya gua ganggu deh, mending ke kamar ah.” Refo melenggang pergi dengan seenak jidat. *** Sepeninggal Refo, keduanya masih membahas soal teror tadi. Gladys merasa ada hal janggal yang harus di selesaikan. “Pokonya, lo gak usah terlalu pikirin soal teror tadi.” Gaga tersenyum. “Selagi ada gua sama yang lainnya, lo aman. Kita semua bakal terus jagain lo.” Gladys menatap Gaga ragu. “Tapi, kalau misalnya beneran terjadi sesuatu sama gua gimana? Gua gak mau mati, Ga.” “Hei, lo gak boleh ngomong gitu. Umur itu gak ada yang tau, kalaupun kita harus mati, itu karena takdir bukan karena manusia atau makhluk halus.” “Tapi tetep aja, Ga. Gua masih parno soal tadi,” ujar Gaga. “Sebenernya apa sih yang terjadi di keluarga gua, kenapa selalu gua yang jadi incaran.” “Abang lo, kan, udah tau soal ini. Kenapa gak coba buat cari tau sama dia?” “Lo gak liat respon Abang gua kayak gimana tadi? Dia gak pernah jawab setiap gua tanya soal hal berbau kayak gitu.” “Gak ada salahnya buat terus coba,” ujar Gaga. “Menurut lo gitu?” tanya Gladys. “Siapa tau kita bisa dapet petunjuk lebih banyak, agar misi kita juga bisa cepet selesai, Dis.” “Oke, gua akan coba lagi.” “Terus, apa rencana buat malam ini? Lanjutin misi lagi atau nggak?” tanya Gaga. “Boleh, karena kemarin malam kan belum tuntas.” “Sebelum itu, lo coba tanya sama Abang lo lagi. Karena gua ngerasa ada yang aneh sama gelagat Abang lo,” ujar Gaga. “Gua juga ngerasa kayak gitu, sih. Oke nanti bakal gua coba lagi.” “Ya, udah. Gua tunggu kabar baik selanjutnya dari lo.” “Tapi, Ga.” Gladys menggantung ucapannya. “Tadi malam, gua liat mamah masuk ke kamar yang selalu di kunci. Gua gak tau itu kamar siapa, dan gak tau isinya apa.” “Setiap gua tanya itu kamar siapa sama mamah, dia gak pernah jawab. Selalu aja mengalihkan pembicaraan,” ujar Gladys. “Hanya satu kamar itu yang terkunci, atau ada kamar lainnya?” tanya Gaga. “Hanya itu, gua gak tau ada hal apa yang di sembunyiin di sana.” “Terus, lo ikutin?” Gladys mengangguk. “Iya, gua ikutin. Tapi tiba-tiba ketahuan Abang gua, ya akhirnya gak tau deh apa yang dilakuin mamah di dalem sana.” “Coba ceritain sedikit,” pinta Gaga. Flashback on Saat malam, Gladys sedang asik memainkan handphone sambil memakan camilan. Gadis itu berdecak karena lupa membawa minuman. “Lo b**o atau gimana sih, Dis. Bawa makanan tapi gak bawa minuman.” Akhirnya, mau tidak mau, gadis itu bangkit dari kasurnya menuju dapur. Ia menuangkan air lalu meminumnya. Namun, saat hendak kembali menuju kamar, Gladys melihat mamahnya berjalan mengendap-endap seperti maling di rumah sendiri. Karena kepo, Gladys mengikuti kemana mamahnya akan pergi. Gladys melihat Tasya—mamahnya menoleh kanan kiri saat hendak membuka kamar. Kamar yang selalu dikunci, tidak pernah dibuka sebelumnya. “Ngapain mamah masuk ke sana? Katanya, kamar itu gak boleh dimasuki, apalagi sampai dikotori,” gumam Gladys. Gladys berjalan mendekat ketika Tasya sudah memasuki kamar, ia bersembunyi dibalik pintu, ingin mengetahui apa yang akan mamahnya lakukan. “Mamah ngapain sih di sini?” Gladys bergumam sendiri. “Emangnya ini kamar punya siapa?” Gladys terus menguping pembicaraan mamahnya di dalam sana, berharap kehadirannya tidak diketahui oleh Tasya. “Maafin mamah...” Samar-samar Gladys mendengar mamahnya meminta maaf. “Maaf? Emang mamah salah apa?” gumam Gladys. Ia terus memasang kuping lebih jeli, berharap agar bisa mengetahui apa yang Tasya lakukan. “Mamah kok aneh, sih. Sebenernya apa yang terjadi?” Namun tiba-tiba ada yang menepuk bahunya dari belakang, tubuh Gladys langsung mematung. Siapa yang menepuk pundaknya? Gladys menoleh dengan hati-hati, ia mendapati Refo tengah mengucek matanya sambil menguap. “Ngagetin aja lo, Bang!” “Lo ngapain di sini? Belom tidur?” tanya Refo. Gladys menggeleng. “Belum bisa tidur.” “Kenapa?” “Nggak tahu, tiba-tiba aja gak bisa tidur.” “Terus, lagi ngeliatin apaan di sini?” “Sejak kapan lo jadi kepo?” Gladys memicingkan matanya. “Cih! Sana buruan tidur.” “Bang...,” panggil Gladys. “Hmm.” “Ini kamar punya siapa? Gua liat, mamah tadi masuk ke sini,” ujar Gladys. Refo diam saja ketika Gladys mengatakan itu. Diamnya Refo, membuat Gladys merasa ada yang aneh pada Abangnya. Gladys menepuk keras bahu Refo. “Woi! Kenapa lo jadi bengong?” “S-siapa yang bengong?” “Lo, lah! Masa gua,” sungut Gladys. “Serius Bang, ini kamar siapa?” “Mana gua tau, mamah kan gak pernah bolehin kita masuk ke sana.” Gladys memajukan mukanya kepada refo, “Yang bener?” “Buat apa gua bohong?” Refo balik bertanya. “Tidur sana, De. Anak kecil gak boleh begadang.” “Gua udah gede kali!” sentak Gladys. “Bodo amat! Bagi gua, lo tetep jadi anak kecil kesayangan gua!” “Terserah!” sentak Gladys, lalu ia melangkahkan kakinya menuju kamarnya kembali. Barulah Refo bernapas lega. Flashback off. “Ya, udah. Kalau gitu gua pulang dulu, ya, Dis.” Gaga beranjak dari duduknya. “Nanti malem gua ke sini lagi bareng ortu. Eh, temen-temen maksudnya,” ujar Gaga terkekeh. “Dasar!” Gladys ikut terkekeh. “Bye, Dis.” “Hati-hati, Ga. Jangan ngebut!” Gaga mengacungkan jempolnya. Setelah itu...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN