Bab 2

549 Kata
"Lagi kesel yah?" Nura mengusap-usap suraiku yang kini bertumpu di pangkuannya. Polah lembut kaya kasih sayang ini kadang mengingatkanku akan Mama. Anehnya, k*******n hati ala cowokku berangsur-angsur dingin jika Nura sudah mengamalkan ilmu ini.  "Males ngomong sama aku?" lanjutnya memancing, menampilkan taktik cemberut andalannya. Entahlah, jujur saja Nura tidak cantik. Aku sempat terbiasa dengan kehadiran cewek bermuka Model-able. Tapi, memandang Nura dalam jangka waktu tertentu akan menimbulkan kesan puas. Sumpah dia manis banget. Pipi chubby, mata hitam berkilat, bibir penuh, serta andai lubang hidungnya kecil sedikit, Nura bakal populer walau cuma duduk diam menciptakan arang di bangku perpustakaan.  "Sebenernya cuman perlu tidur. Tapi, karena pacar yang nanya kayaknya aku wajib jawab 'nggak ada yang lebih penting dari kamu, Ra'," kataku yang lantas dibalas dengan hadirnya keplakan ringan di dahi. Cewek ini kesan awalnya mungkin lemah lembut, dia sopan. Namun itu sebatas kedok. Fenura Alyanindira, jika kembar bisa dikategorikan berdasarkan sifat, maka pacarku ini copy-annya Garin. Mereka ibarat pinang dibelah dua, suka bikin recok.  "Gombal! Eh, katanya mau ngomong? Udah setengah jam tetep mau gelesoran, asik-asikan kupangku, hm? Dicariin orang rumah loh nanti kalau kemaleman," ujarnya beralih mengelus pipiku hangat. Bagaimana mau kuhentikan? Nyatanya, berdiam di posisi ini nyaman sekali.  "Em, Bundamu gimana?" refleksku ingat lantas buru-buru bangkit guna duduk di kursi taman, serta-merta dirambahi kenyataan bahwa aku telah memonopolinya di sini tanpa izin.  Nura mengangkat kedua bahunya sekilas sebelum mengulas senyum menenangkan. "Nggak mungkin aku bilang lagi jalan sama kamu ‘kan? Hunting buku, di toko lagi banjir diskon. Dan Bunda ngasih izin.”  Menyentuh punggung tangannya, tiba-tiba aku memfonis diriku serba salah. "Maaf yah, karena aku kamu jadi bohongan gini. Coba aku lebih berani terang-terangan, kita tentu nggak harus colong-colongan macem ini.”  "Aku percaya kamu, Sen. Pasti ada alasan logis dibalik keputusan ini. Lagian, pacaran umpet-umpetan macem gini juga seru kok. Adrenalinnya tinggi." Lima bulan berlalu, kalimat tanya sudah benarkah aku dengan memilih Nura? Masih berputar-putar di otak kecil itu. Tetapi, satu panutanku bahwa aku merangkul pundaknya sebab aku tahu, dia wajib bahagia. Bagaimana pun caranya, lewat kemampuanku. Setidaknya Tuhan mengirimiku seseorang untuk dijaga. Lagi.  "Em, aku mau ngasih tahu kamu sesuatu,” ucapku akhirnya menguarkan apa yang menjadi tujuanku mengajaknya bertemu.  “Mengenai?” “Rumor tentang aku … benar,” aku mengambil napas dalam-dalam. Terbuka tidaklah mudah. “Aku anak haram. Andri Raga Wirama bukan orangtuaku.” “Maksud kamu, Tante Venola … dan orang lain?” gurat keterkejutan memenuhi ekspresi Nura, bibirnya bahkan bergetar samar, menandakan ia sedang khawatir.  Gosip tersebut beredar sejak tiga bulan kemarin, cuek adalah respon yang kuambil. Andai kejadiannya tak jadi serunyam sekarang, tentu rahasia itu akan bertahan kusimpan termasuk dari telinga Nura. Balon yang bocor, saat dia terlanjur terbang, lama kelamaan akan kempis. Sekuat apa pun aku menampik sebuah fakta toh ia tak akan berubah jadi bualan. Memberitahukan kepada Nura merupakan jalan paling tepat.  “Yah. Mulai besok, selain nggak punya Papa aku juga harus kehilangan Mama, Ra. Di dunia ini aku sendirian,” kurasakan genggaman tangan mungil Nura mengerat.  “Sttt, jangan ngomong gitu! Kamu selalu punya aku, ada Garin juga. Semua bakal baik-baik aja, Sen. Yah?” lebih baik jika perkataannya adalah realitas. Segala yang menjadi milikku tak pernah menetap hingga akhir. Nasib tidak kenal letih untuk merenggutnya dari genggaman tanganku.  Takdir merebut sosok Papa yang kuidolakan, takdir mengambil cinta pertamaku juga, lalu sekarang Mama. Besok? Aku bahkan tidak berhak memohon agar Garin dan Nura mau bertahan di sisiku.  Aku akan selalu mengatakan ini; Takdir bermain dengan sangat curang terhadapku. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN