Selesai namun belum sempurna
_______
"Jadi, umurnya sekarang berapa?" Garin yang memaksa ikut sudah memonopoli makhluk imut yang sedang tidur di atas ranjang motif floralnya Eleona.
Yah, kami tengah menghabiskan sore setelah sibuk berminggu memerangi UTS. Berkumpul sambil mengobrol, menyanding kopi instan dan belasan snack jumbo. Kamar Eleona yang berornamen putih-hitam bak TKP terhantam beliung. Halai-balai, mirip sang empunya.
"Sekitar satu tahun empat bulanlah, ya nggak Sen?"
"Huum. Satu tahun empat bulan lebih delapan hari sih tepatnya."
"Wuih, orang tua sejati nih. Hafal bener. Eh, tapi serius namanya nggak mau ditambahin belakangnya?"
"Aktenya udah keburu di keluarin sama Perkin . Sidney juga cakeplah," jawabku sambil meraih kaleng soda. Sidney, anak yang dijanjikan Odessa waktu itu. Jelas nama yang adem buat diucapkan.
"Belum ada niatan tambah momongan lagi nih? Adopsi atau lahiran sendiri gitu?"
"Lo kira lahirin gampang kali. Lo kira ngurus anak kayak gini simple kali," maki Eleona yang kuimbuhi dengan sebogem tinjuan pada puncak kepala Garin.
"Lo aja tuh cepet kawin biar punya anak sendiri," usulku gemas.
"Halah melihara anak guguk aja dihayati banget lo pada. Lebay!"
"Anak anjing juga anak-anak. Lumayan, latihan jadi orangtua daripada lo nguber-nguber cewek satu aja nggak kena-kena.
Gimana mau jadi calon Ayah?” Eleona tak terlihat seperti orang sakit. Walaupun terapinya belum memberikan efek signifikan. Tapi, aku senang dia tidak sering pingsan hingga koma seperti dulu. Papa memisahkanku darinya karena kami saudara juga sebab dia sekarat. Papa tidak ingin aku direpotkan tapi lihat sekarang, Eleona tak membebani siapa pun. Dia perawan tangguh.
"Hei, hei, ngomong tanpa ngaca. Nih, cowok satu ini aja masih belum tahu kemana angin membawa primadonanya pergi? Udah ah mending kita berusaha move on dari perkuliahan super busuk. Liburan yuk?"
"Ide bagus tuh. Ke pantai, gunung, atau wisata sejarah?"
"Mana aja bisa asal low budget."
"Anak menteri kok bokek."
"Lah yang menteri aja bokap, gue mah tetep mahasiswa pengangguran."
Mensenyapkan obrolan ngalor-ngidul mereka. Aku diam-diam meringis kecil mengingat waktu yang melaju jua berganti dengan kilatnya. Sekarang, aku dan Eleona memutuskan untuk saling memaklumi sekaligus menerima kehendak Tuhan. Meski hal tersebut tak diamini oleh orangtua kami. Papa tetap bertahan sebagai pribadi yang keras. Pasca keterlibatannya kembali dalam hubunganku dengan Nura, perang dingin sempat menyelimuti kami. Namun, ketegangan tersebut sedikit mengendur saat tanpa kusangka-sangka ia membebaskan aku memilih program study sewaktu masuk kuliah. Sementara Mama kini tengah mempersiapkan proyek film teranyarnya. Nura … sejak aku menerima surat yang ia titipkan pada Bu Laras, jejaknya belum kunjung terendus. Namun, aku yakin di belahan dunia mana pun ia berdiam kini, Nura pasti mampu menjaga dirinya dengan baik.
Dan kabar terupdate dariku satu; aku tiada henti merindukannya.
Untuk Seno,
Saat nulis ini, aku ingat pertama kali kita ketemu. Kamu bilang aku belekan, lalu tiba-tiba tanpa rasa malu kamu niup mataku.
Katamu, mulai saat itu kamu bakalan jadi penyembuh sakitku. Gombal kedengerannya, tapi manis aku rasain. Thanks karena kamu udah tepatin janji utamamu itu.
Arseno Diputra. Anak tunggalnya artis tenar Venola. Andai saja aku bisa bilang ke Mama, dia mungkin seneng banget kalau tahu aku pacar dari anak artis favoritnya. Yah, kupikir begitu.
Sen, kamu mungkin memang bohongin aku tapi, makasih loh karenamu aku bener-bener ngerasa terlindungi dan bahagia.
Kita direncanakan bertemu oleh tragedi. Orang bilang harusnya aku benci kamu. Mauku pun begitu. Hanya aja, kamu pernah tanya kan sama aku waktu di Sky loft? Akankah aku jalan sama anak pembunuh atau koruptor? Jawabanku nggak berubah.
Ayahmu mungkin salah. Tapi, kamu yang datang bersama ketulusan, tipe idealku banget. Aku sayang kamu Sen, nggak tahu sih kalau udah inget lagi nanti. Ayah berharga banget buat aku.
Meski begitu hatiku udah durhaka karena dia menolak memori menyakitkan itu datang kembali.
Hari ini aku pergi bukan karena kamu. Tapi, nanti aku pasti kembali demi kamu.
Nura.
***