Brian dan Keberuntungan

1169 Kata
Toko tempat penjualan kue-kue kini tengah diramai oleh pelanggan, pasalnya sedang ada diskon untuk setiap menu di toko tersebut. “Kamu pintar sekali untuk mengundang pengunjung kemari ya,” ujar seorang laki-laki lanjut usia yang menjadi salah satu pengunjung toko itu tapi duduk di sebuah ruangan khusus pemilik toko, dia Juan tamu pentingnya Lui. “Tentu saja, ini ajaranmu juga.” Lui menghampiri Juan yang duduk di sopa ruangan pribadinya itu dan duduk di samping Juan. Lui meraih tangan Juan dan menggenggamnya erat. “Terimakasih telah memberikan toko ini untukku, dan terimakasih juga telah menjadikanku milikmu,” ujar Lui setelahnya dia membawa tangan Juan yang dia genggam untuk dia kecup. Toko itu adalah milik Lui, cita-citanya dari kecil yang diwujudkan oleh Juan. Juan penyelamat hidupnya dari kekelaman masa lalunya. Lui membuka pintu rumahnya dengan bahagia setelah selama 1 tahun dia tidak bisa pulang ke rumah karena harus tinggal di asrama. Dibukanya pintu dengan senyuman mengembang pada wajahnya. Dia tidak dijemput, sengaja untuk memberikan kejutan pada kedua orang tuanya. Dia sangat ingin melihat wajah terkejut sekaligus bahagia orang tuanya melihat anak satu-satunya pulang. Satu tahun sebelumnya pelepasannya pergi untuk kembali ke asrama, ibunya menangis sedih karena ditinggal lagi oleh anak satu-satunya itu, dan kali ini kepulangannya, dia ingin melihat wajah bahagia sang ibu menyambutnya. Wajah Lui berubah bingung dengan dahi mengeryit melihat rumah sepi dan dingin. Lui melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah lebih dalam. Melewati ruang tamu, melewati ruang keluarga tenyata TV menyala dengan volume lumayan keras tanpa ada yang menontonnya. Suara TV tidak akan keluar dari ruangan keluarga itu. “Kemana orangnya? TV menyala tapi tidak ada yang nonton,” gumam Lui sambil berjalan ke dapur, dia berpikir bahwa ibunya sedang ke dapur sebentar. Sampai di dapur dia langsung tersenyum lebar dan menghambur memeluk sang ibu yang sedang duduk di meja makan. “Ibu! Aku pulang!” teriak Lui bahagia. Nada manja digunakan untuk memeluk sang ibu dari belakang. Menunggu beberapa saat tidak ada respon sama sekali. Ayunda terlihat melamun sangat dalam sampai tidak sadar ada yang memeluknya dari belakang. “Bu?” panggil Lui dengan lembut. Lui melepas pelukannya dan mencoba untuk mengangkat wajah sang ibu dengan hati-hati. Lui terkejut, wajahnya berubah menjadi pucat pasi melihat sang ibu tanpa berekspresi ada lebam di pipinya dan bibir yang pucat membiru. “Ibu?!” panggil Lui dengan suara keras sambil menguncang tubuh Ayunda mencoba untuk menyadarkanya. Tapi akhibat guncangan itu tubuh Ayunda tumbang. “Ibu!” panggil Lui. Detak nadi yang lemah Lui dapati saat mengecek nadi sang ibu. Ibunya masih hidup tapi dia pingsan. Lui langsung berlari untuk mencari bantuan keluar, mencari seseorang yang mungkin dapat membantunya. Ya tetangga, tetangga adalah orang yang dapat membantu saat sedang dalam kesusahan. Lui berlari melompat pagar tanaman yang dibuat untuk membatasi halaman rumahnya dan rumah tetangganya. “Pak Mitri!” panggil Lui sambil menggedor pintu rumah besar di depannya. “Pak! Ibu!” panggilnya lagi. Tidak lama terdengar kunci pintu dibuka dari dalam dan menampakkan seorang wanita lanjut usia menatap bingung dan terkejut Lui yang berdiri di depan rumahnya dengan wajah pucat dan berkeringat dingin. “Ibu Fau bantu saya! Ibu saya pingsan wajahnya sudah membiru! Cepat-cepat!” teriak Lui, dia panik melihat sang ibu sekarat.  “Iya iya iiya, sebentar-sebentar. Pak‼ turun cepat! Bantu Ayunda sakit! Siapkan kendaraan kita ke rumah sakit‼” teriak Fau memanggil suaminya. “Ayo ayo ke ibumu kita,” ajak Fau menepuk puncak Lui. Lui dan Fau pergi lebih dulu untuk pergi melihat kondisi Ayunda. Lui tidak bisa membawa sendiri ibunya ke rumah sakit karena dia tidak pandai membawa mobil maupun sepeda motor, lagipula di bagasi tidak terdapat mobil dan hanya ada sepeda motor matic milik Ayunda. “Kenapa ibumu bisa begini cah?” tanya Fau pada Lui. “Saya ndak tau loh Bu, saya baru pulang saya kira ibu melamun taunya ibu pingsan sambil duduk menopang kepalanya, hiks.” Fau mencoba mencari sesuatu yang salah dari tubuh lemah Ayunda. Dan dia menemukan yang dia cari. “Ibu kira tadi Ibumu berkelahi lagi dengan Tantemu, Lui. Lihat biru ini dan ini,” ujar Fau menunjuk pipi dan bagian leher terdapat kebiruan yang terlihat jelas. Fau menyingkap lengan baju Ayunda dan terdapat luka sayatan tidak beraturan. “Ini bekas perkelahian,” uajrnya. “Kenapa Ibu bekelahi?! Ibu tidak pemarah!” suara Lui terdengar bergetar, Lui tidak sadar titik air mata mengalir di wajah cemasnya. “Loh kenapa tidak diangkat ke depan! Ayo kita bawa ke rumah sakit!” tegur Mitri melihat istri dan anak tetangganya malah berdiri di samping tubuh Ayunda yang sudah terkulai lemah menelungkup di meja. “Aku gak bisa bawanya loh Pak,” sanggah Fau. Lui yang sadar ibunya hanya menggunakan baju rumah yang tipis tanpa lengan, dia langsung melepaskan kemejanya untuk menutupi tubuh sang ibu meninggalkan baju dalamnya berwarna abu-abu yang Lui kenakan. Ayunda dibawa ke rumah sakit dan mendapatkan perawatan intensif. Rupanya Ayunda overdosis dengan obat yang dia konsumsi, obat penenang. Ayunda mengalami defresi ringan sebelumnya dan tidak dikira defresi itu sudah semakin parah. Lui masih belum tahu alasannya ibu gelap mata ingin membunuh dirinya seperti itu. Lui, Fau, dan Mitri duduk di kursi tunggu di depan ruangan bertulisan IGD. “Apa yang terjadi pada Ibuku?” tanya Lui, wajahnya datar dan cemas. Fau dan Mitri saling pandang untuk beberapa saat. Kemudian Mitri memberikan instruksi pada istrinya untuk menjelaskan apa yang terjadi. “Ibu bukan bermaksud untuk membeberkan aib keluarga kamu Lui, tapi inilah kenyataannya,” ujar Fau menjeda ucapannya. “Apa kamu tidak aneh ayahmu tidak ada di rumah?” tanya Fau pada Lui. Lui baru menyadari bahwa Louis, sang ayah tidak ada di rumah. “Ayah? Ayah tidak ada di rumah tadi,” ujar Lui dengan polosnya. “Ya karena Ayahmu pagi tadi sudah pergi bersama tantemu setelah bertengkar hebat. Ibu mengetahuinya karena suara pertengkaran itu terdengar sangat jelas sampai ke rumah kami, bahkan tetangga yang lain tau kalau ibumu dan ayahmu juga kadang bertengkar dan membanting barang. Sudah dua bulan ibumu jarang keluar rumah dan selalu mengurung diri, dia tidak lagi bekerja, belum satu minggu nenekmu datang ke rumah untuk melihat keadaan ibumu. Kami tidak tau apa penyebab pertengkaran itu, hanya itu yang ibu tau. Maafkan ibu,” cerita Fau menjelaskan yang dia ketahui pada Lui, anak tetangganya yang terdengar selalu bertengkar. Lui masih penasaran karena penjelasan itu belum menjawab pertanyaan dari kenapa sang ibu bisa mengalami defresi sampai mencelakai dirinya sendiri. Pertengkaran itu adalah pemicu tapi penyebab dasarnya pasti ada dan itu Lui yakini cukup berat untuk ibunya hadapi. Pintu dibuka dan satu brankar keluar dari ruangan IDG didorong oleh beberapa parawat dan satu dokter yang berjalan di belakangnya. “And,”panggil Aliana. Andrean pun mengangkat kepalanya untuk melihat Aliana yang duduk di depannya di pentry dapur yang sama. “Mmm kenapa?” tanya Andrean pasalnya Aliana tidak melanjutkan ucapannya. “Mau mencoba trobosan baru tidak?” tanya Aliana sambil tersenyum mencurigakan dimata Andrean. “Trobosan apa?” tanya Andrean dan Andrean menatap curiga Aliana yang berdiri di seberang meja pantry. (z2) ….
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN