Lalu dia berdiri setelah mengemasi barang-barangnya. Dia menepuk-nepuk kotoran debu yang menempel pada celana hitam berbahan kain yang dia kenakan. Mengeratkan tas punggungnya dan memakai kacamata bening pada matanya. Berakhir dia terlihat seperti seorang mahasiswa pintar dengan tampilan seperti itu. “Waktunya pulang!” teriaknya sambil melangkahkan kaki menuju pintu penghubung rooftop dengan tangga untuk turun ke lantai berikutnya, turun ke lantai dasar dan keluar dari gedung yang tingginya memang tidak seberapa dibandingkan tinggi gedung di sebelahnya. Di kota lain. “Sampai kapan kau akan terus mengincar harta orang lain? Bahkan kau sendiri sudah sangat kaya Juan.” “Aku tidak akan berhenti, aku masih kalah kau tau, dan aku membenci kekalahan itu.” “Itu hanya pikiranmu, kalian sudah s

