36 Pekikan Bryan terdengar kencang di dalam salah satu toko yang dijadikan ruangan medis sementara. Jafan dan Angga yang memegangi Bryan, sama-sama meringis ketika sang bos kembali memekik, kala Alvaro memutar kaki kanan Bryan hingga berbunyi gemeretak. Napas Bryan yang ngos-ngosan, menjadikan Alvaro menghentikan gerakannya. Pria berparas blasteran itu mengamati rekannya yang tengah mengatur napas. "Ga, ambilkan minuman," pinta Benigno sembari mengulurkan obat pada Bryan. "Obatnya satu dulu. Selang satu jam, baru minum lagi," lanjutnya. "Enggak disuntik aja, Ben?" tanya Bryan. "Posisi kakinya baru dibenerin. Biar pakai obat dulu. Nanti malam baru kusuntik," balas Benigno. Bryan mengangguk mengiakan. Dia memandangi Alvaro yang tengah mengusap wajah dengan handuk kecil. "Ini sudah

