"Kita mau kemana?" tanya Yeri memastikan. "Nanti kamu juga tahu, sekarang lebih baik kamu diam saja. Jangan banyak bicara." Pekik Arga. Ia kembali fokus menyalakan mesin mobilnya. Yeri menatap ke arah Arga. Meski dirinya begitu dingin, tapi setidaknya dia perduli dengannya. "Jangan menatapku seperti itu. Sekarang lebih baik, kamu pakai sabuk pengaman itu." Yeri mencoba mengatur napasnya. Sejak kapan, ia juga tidak tahu. Tubuhnya semakin gemetar hebat. Dia gugup, atau malu? Bahkan dia sendiri tidak tahu. Apa yang terjadi padanya. Seakan itu bukan dirinya yang sebenarnya. Baru pertama kali dalam hidup Yeri. Dia gugup jika bersanding dengan laki-laki. Di setiap pekerjaannya yang harus dekat bahkan bermesraan dengan laki-laki tak segugup ini. Pengalaman ini membuat dia bingung. Apa yang

