Bab 17

1655 Kata
"Bagaimana kamu bisa masuk ke dalam rumah saya? Ada hal apa yang buat kamu datang ke sini? Apa maksud kamu? Kamu mau mengambil anak saya? Dan kenapa kamu nampilin wajah sok polos kamu itu? Kenapa kamu nggak di usir? Kenapa kamu gila?" Tanyaku langsung menyercanya dengan beberapa pertanyaan. Aku tahu aku terlalu terburu-buru, tapi mau bagaimana lagi? Itu pertanyaan-pertanyaan yang sedari tadi menghantui pikiranku. Dia tampak bingung ingin menjawab, mungkin karena banyaknya pertanyaan yang aku lontarkan. Lagipula, apa peduliku? Aku sangat kesal dengannya, sungguh. Jika kalian menebak dia itu si Lele, jawabannya adalah benar sekali. Ya, dia si Lele, aku benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikirannya itu. Kenapa bisa ia ada di sini, masuk ke dalam rumahku ini. Apa motifnya itu? Seseorang, jawab aku, aku mohon! Apa tidak cukup baginya membuatku menderita? Apa tidak cukup baginya aku dipermalukan? Apa tidak cukup baginya, keluargaku menanggung aib? Apa tidak cukup baginya, membuatku sakit hati? Membuat Rafa hidup tanpa seorang Ayah? Membuat cita-citaku hancur, membuat impianku pupus? Apa tidak cukup baginya?! "Om, Om yang waktu itu malahin Rafa ya? Om dateng ke sini mau minta maaf ke Rafa? Om bawaiin Rafa jeluk? Om mau kasih Rafa jeluk yang banyak? Jeluk yang besal-besal kan Om? Mana jeluk Rafa, Om? Itu syalat dali Rafa, kalau Om Galak mau dapet maaf dali Rafa." Aku sedikit tergelak mendengar celotehan Rafa. Kenapa anakku ini ikut-ikutan bertanya? Mana pertanyaannya aneh lagi. Tapi tidak masalah, berkat pertanyaan berbondong-bondong dari Rafa itu, rasa kesalku sedikit berkurang. Rafa, Rafa, beruntungnya Bunda punya kamu, Nak. Si Lele tampak semakin bingung, pertanyaan yang Rafa lontarkan, sama banyaknya dengan pertanyaan yang aku lontarkan. Mungkin dia bingung ingin menjawab yang mana dulu. "Pak, kenapa tidak menjawab? Bukankah pertanyaan yang saya tanyakan ke kamu tadi, tidak sesulit soal Ujian Nasional? Atau kamu berniat mengkorupsi waktu saya? Lebih baik kamu tidak perlu menjadi koruptor, di negara ini sudah banyak koruptor-koruptornya. Saya nggak mau negara tempat saya tinggal, bangkrut gara-gara warganya yang suka korupsi," ucapku dengan nada ketus. "Iya, benel kata Bunda, Rafa juga nggak mau negala yang Rafa tempati bangklut, ini tuh bibit-bibit tukang kolupsi. Kalau sekalang aja Om suka kolupsi waktu, gimana nantinya, mungkin aja Om Galak bakal kolupsi uang negala. Mendingan, Om kasih Rafa jeluk! Dali pada bengong kayak gitu, nggak guna tahu!" Kata Rafa yang nada suaranya terdengar tegas. Sejak kapan putraku ini mengerti tentang koruptor ataupun korupsi? Dari mana pemikirannya itu muncul? Secerdas itukah otak putraku? Berbicara tentang masalah korupsi, belakangan ini semakin banyak pegawai pemerintah yang melakukan korupsi. Contohnya saja, Setya Novanto, terlalu banyak uang negara yang ia korupsi. Dan baru-baru ini kasus korupsi Zumi Zola, yang menurut berita sudah menghabiskan uang negara sebanyak 6 miliar. Padahal, aku sempat mengidolakan laki-laki itu dulu, wajah tampannya ternyata membohongi. Ya meskipun statusnya masih sebagai tersangka. Pantas saja, negara ini tidak maju-maju, orang pemerintahnya saja suka mengambil hak warga negara. Belum lagi anggota DPR-nya yang saat rapat malah tidur, main game, atau main sosmed. Apa mereka mengganggap pekerjaan mereka itu hanya main-main? Atau mereka mau dianggap sebagai penikmat gaji buta? Oh, dan bagaimana pemerintah menanggapi para masyarakatnya yang berekonomi minim? Kenapa pemerintah tidak bertindak tegas? Kenapa pemerintah membiarkan warganya hidup dalam kemiskinan, yang bahkan malah meningkatkan tindak kriminalitas di negara ini? Eh, kenapa aku malah memikirkan itu? Masalahku sendiri saja belum selesai. Lebih baik kalau aku menyelesaikan masalahku, dan baru mengurusi masalah yang lain. "Pertama-tama, aku minta maaf karena masuk ke rumah kamu tanpa izin. Sebenarnya, rumah ini sudah atas namaku. Aku baru membeli rumah ini tadi sore, jadi tentu saja aku memiliki kunci serepnya. Aku tidak ingin kamu semakin kesusahan dengan membayar uang sewa kontraknya yang semakin lama biayanya semakin naik. Aku tadi mau mandi, tapi aku tidak kunjung menemukan kamar mandinya, dan malah salah masuk kamar." Aku menghentikan lamunan singkatku, ketika dia mulai berbicara. Aku mendengar dia menghela napasnya setelah selesai berucap. Aku masih diam, begitupun dengan Rafa, kami seakan kompak menunggu penjelasannya lagi. "Kalau kamu bertanya kenapa aku tidak di usir, atau tidak dituduh macam-macam, itu karena aku sudah meminta izin pada ketua RT dan tetangga-tetangga kamu. Ehm, pertanyaan apa lagi ya? Oh ya, soal wajah polosku tadi, aku rasa karena aku terlalu kaget dengan kedatangan kamu yang tiba-tiba." Dia kembali terdiam, dan menghela napasnya lagi. Sebentar-sebentar, dia bilang tadi apa? Rumah ini atas namanya? Hah, maksudnya. "Sebentar-sebentar, saya tidak mengerti. Tadi kamu bilang rumah ini atas nama kamu? Maksud kamu, kamu mau mengusir saya gitu?" Meskipun aku tadi mendengar kalimat, yang menyatakan dia tidak mau membuatku semakin susah dengan biaya kotrakan ini. Tapi aku masih tidak mengerti! Otakku tiba-tiba lemot. "Bukan begitu maksudku. Aku hanya ingin meringankan bebanmu. Mungkin dengan cara seperti ini, aku bisa menebus sedikit demi sedikit kesalahanku." Aku diam mendengar ucapannya barusan. Aku tidak mampu berkomentar apapun, rasanya otakku ini tiba-tiba keruh. Aku sama sekali tidak bisa berpikir. "Om, sekalang Om mau kolupsi waktu Rafa. Masa dali tadi nggak jawab peltanyaan Rafa." Rafa tiba-tiba berucap. Dan suaranya itu membuyarkan lamunanku. Pak Leon tampak tersenyum memandang Rafa. "Adik manis, kamu ke sini sebentar. Ayah mau berbicara sesuatu." Aku menahan napasku ketika mendengar ucapannya. Ayah. Apa dia ingin memberitahu kebenarannya pada putraku sekarang? "Om Galak gimana sih? Jangan bawa-bawa Ayah Rafa. Ayah Rafa lagi kelja jauh," kata Rafa yang sepertinya tidak terima dengan kata 'Ayah' yang tadi Pak Leon ucapkan, lebih baik aku menyebutnya dengan nama itu. Sepertinya penjelasanya itu berpengaruh pada cara pandangku, sehingga otakku langsung bertindak untuk mengubah nama sebutannya. Tapi, apa benar yang ia ucapkan itu? Atau hanya sebagai topengnya saja? Oh, aku tidak akan memaafkan laki-laki itu secepat ini. Tidak akan. Bahkan, kata memaafkan saja belum tergambar di otakku. Sama sekali tak pernah terpikirkan olehku untuk memaafkannya. Terlalu besar kesalahan yang dia buat. Kalau kata Dilan, rindu itu berat, memaafkan jauh lebih berat. "Ah, tidak. Rafa, kamu salah dengar sayang. Tadi Om nya nggak bilang Ayah, kok." Aku segera menyela percakapan mereka. Tidak akan aku biarkan dia mengaku-ngaku sebagai Ayah Rafa. Apa dia tidak ingat, bagaimana dulu ia menyuruhku menggugurkan Rafa? Aku menatapnya tajam, dan dia membalas tatapanku dengan tatapan sedihnya. Seolah mengatakan, 'biarkan aku memberitahunya'. Aku tidak akan mengambil resiko besar, hanya karena dia yang mau memberitahu Rafa kalau dia Ayahnya. Meskipun aku tahu, hal itu akan berdampak baik bagi perkembangan psikologi Rafa. Tapi, di sini aku lah yang tidak siap. Tidak siap dengan kenyataannya. "Oh, telnyata Rafa cuma salah dengel, Rafa kila Om Galak benelan Ayah Rafa. Padahal Rafa udah seneng banget, meskipun waktu itu Om pelnah malahin Rafa." Maafin Bunda sayang, udah buat kamu sedih. Bunda belum siap, Raf. Aku membatin, aku merasa air mataku sudah berdesakan ingin keluar. Sekian lama, kami terdiam. "Om galak, Om tadi belun jawab peltanyaan Rafa. Sekalang Om Galak, halus jawab peltanyaan Rafa!" Kata Rafa yang sudah mengubah ekspresinya menjadi bersemangat. Aku menghela napasku penuh syukur, ternyata hanya dengan membisikkan kata 'jeruk' di telinga Rafa saja, sudah membuat rasa sedih putraku itu menghilang. "Om lagi mikil ya? Dali tadi diem aja. Mending Om kasih Rafa jeluk, bial Rafa nggak malah sama Om, kalena udah kolupsi waktu belhalga Rafa. Kata Bunda, Om bawa jeluk yang banyak," ucap Rafa yang sudah membahas topik baru. Pak Leon memaksakan seulas senyumnya. Matanya melirikku dengan sendu. Aku memilih untuk mengalihkan pandanganku. Jangan sampai aku lemah karena melihatnya yang seperti itu. "Tadi Om udah beliin Rafa jeruk yang banyak, Rafa nggak perlu khawatir kehabisan," katanya yang membuat Rafa memekik. Rafa yang kuketahui tengah senang itu, berhambur memeluk Pak Leon. Aku dapat melihat raut terkejutnya, meski begitu masih dapat aku lihat pula matanya yang berbinar senang. Pasti ada sensasi istimewanya, saat mendapat pelukan pertama dari anaknya yang tidak pernah ia sentuh. Aku juga melihat sudut matanya yang meneteskan buliran kristal. Dia menangis, terharu mungkin. Untuk kali ini, aku akan membiarkannya. Aku tidak ingin merusak suasana haru laki-laki itu. 'Terima kasih.' Itu kata yang aku baca dari gerakan bibirnya. Aku hanya tersenyum sekilas. Tidak membalas bisikannya itu. **** Sudah satu minggu semenjak kedatangan Pak Leon waktu itu, dan kami tidak lagi bertemu. Saat ini, aku sedang memeriksa jadwal pertemuan Pak Adam. "Alena, apa setelah makan siang nanti saya ada pertemuan?" Tanya Pak Adam yang sudah berdiri di hadapanku. Aku memeriksa jadwalnya. "Ada Pak, dengan JR Corp, kita akan membicarakan tentang iklan untuk produk baru kita," jawabku. Pak Adam tersenyum, dan dia terlihat sangat tampan. Andai saja Pak Leon, ramah seperti Pak Adam. "Kalau begitu, kita makan siang dulu sebelum menghadiri pertemuannya. Ayo!" Kata Pak Adam masih dengan senyumannya. "Ehm, Pak. Tapi jam makan siangnya masih dua puluh menit lagi, saya tidak enak dengan karyawan Bapak, yang lain," ucapku sedikit gugup. Di luar dugaanku, Pak Adam malah tertawa. "Alena, di sini itu saya yang bosnya. Jadi, kalau saya mau ngapain pun, itu terserah saya," kekehnya menampilkan deretan giginya yang rapi. Kalau dipikir-pikir, Pak Adam dan Pak Leon itu berbeda. Iya, sejak awal aku sudah mengatakan kalau mereka berbeda. Tapi ini yang membedakan itu wajahnya, wajah Pak Leon seperti seseorang yang berdarah China. Sedangkan Pak Adam, dia justru terlihat seperti orang Barat. Ehm, Inggris atau Amerika mungkin? "Tapi Pak sa--" "Tidak ada bantahan Alena, saya jamin nggak ada satupun yang bakal protes, percaya deh sama saya." Aku menggaruk kepalaku yang tiba-tiba terasa gatal. Benar juga, siapa sih yang berani melawan Pak Bos ini? Melihat dia melotot saja, sudah bikin ngompol. Mana ada yang berani membantahnya? "Jangan banyak berpikir. Ayo!" Aku tersentak ketika tanganku tiba-tiba ditarik. Aku membulatkan mata, melihat tangan Pak Adam yang menggenggam tanganku. Kenapa aku merasa pipiku tiba-tiba memanas? "Ehm, Pak. Maaf tangan Anda," ucapku lirih. Pak Adam menghentikan langkahnya, kemudian membalikkan badannya menghadapku lagi. Satu alisnya terangkat. Seakan tersadar, beliau langsung melepas cengkraman tangannya. "Maaf. Refleks," gelaknya membuatku merasa semakin kikuk. Aku merasa pipiku semakin merona. Beliau kembali melangkahkan kakinya, aku pun segera mengikuti langkah kakinya itu. Belum sampai lima langkah, beliau kembali membalikkan badannya. Sekarang giliranku yang mengangkat sebelah alis. Untung saja rona di pipiku sedikit berkurang. "Kenapa lagi, Pak?" "Kamu tambah cantik kalau lagi merona." Astaga! Pipiku kembali merona.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN