Bab 19

1388 Kata
"Sebelum rencana kalian terlaksana, tidak akan aku biarkan kalian mendekati anakku," gumamku lirih. Tanganku terkepal kuat, sungguh ucapan mereka membuatku muak seketika. Aku segera melangkahkan kakiku keluar dari restoran cepat saji ini. Terlalu lama mendengar celotehan mereka mungkin akan membuatku naik darah dan pada akhirnya akan membuat kekacuan di tempat ini. Aku tidak tahan mendengar kata-kata busuk mereka, aku muak melihat wajah laki-laki yang sok baik itu, apalagi suaranya yang terkadang terdengar memelas di telingaku. Dan lagi, apa yang mereka rencanakan itu terlalu menyakitkan bagiku. Bahkan, wanita yang wajahnya saja belum aku ketahui itu, sudah membuat rasa benciku tumbuh membesar hanya karena ucapannya yang busuk tadi. Anakku hidupku, dan jika anakku di ambil mereka, bagaimana dengan hidupku? Aku tidak akan sanggup untuk hidup, selama ini Rafa lah yang membuatku bertahan dari kejamnya dunia. Yang selalu membuatku kuat hanya dengan celotehan lucunya. Dialah Rafa, putraku. Dan sampai aku mati pun, tidak akan pernah aku berikan putraku pada mereka. Sebelumnya aku mengira Si Lele biadab itu benar-benar ingin memperbaiki kesalahannya, tapi ternyata semua itu salah. Laki-laki biadab itu hanya ingin mempermainkanku, hanya ingin menyakiti perasaanku lebih dalam lagi. Siapa dia yang mau mengambil anakku? Di mana dia saat aku membutuhkan pertolongan? Di mana dia saat aku butuh pertanggung-jawabanmya? Di mana dia saat aku mengidam? Di mana dia saat aku berjuang sendirian melahirkan putraku? Di mana dia saat ada laki-laki tua yang mengira aku p*****r? Di mana dia saat ada laki-laki b***t yang menggodaku? Di mana dia saat orang-orang menggunjingku? Di mana dia saat Rafa menanyakan Ayahnya? Dia tidak ada di sisiku! Dia malah enak-enakan dengan istrinya yang sama-sama biadab itu. Sia-sia selama ini aku mengeluarkan tangisku untuk laki-laki itu. Memangnya aku pernah berbuat salah apa, sehingga mereka menghukumku seperti ini? Apa mereka tidak tahu, seberapa parahnya hatiku terluka? Nyatanya, rasa itu masih ada, sehingga hatiku merasa semakin sakit. Sial! b*****h! b******k! Segala sumpah serapah entah sudah berapa kali aku ucapkan dalam hati. Kecewa, sakit, menyesal, bercampur aduk mengisi hatiku. Aku memejamkan mataku kuat-kuat, menghentikan air mata yang berdesakan ingin keluar. Aku menepuk dadaku yang terasa sesak. "Alena? Kamu ada di sini." Langkah kakiku terhenti seketika, aku jelas mengenali suara itu. Tanpa berbasa-basi, aku membalikkan badanku dan menghampiri orang itu dengan langkah cepat. Dalam hitungan detik telapak tanganku sudah melayang ke rahang kokohnya itu. Aku tersenyum sinis melihatnya yang menatapku terkejut. "Alena, kenapa kamu menampar aku? Apa salahku?" Tanyanya seperti merasa tidak bersalah. Tuan Leon yang terhormat, Anda masih bertanya apa kesalahan Anda? Kesalahan Anda sangat banyak. Ujarku membatin. Aku tidak melunturkan senyum sinisku. "Anda masih bertanya Apa kesalahan Anda? Wah, bagus! Memang sejak dulu Anda tidak menyadari kesalahan Anda! Hebat sekali Anda! Saya takjub dengan Anda," ketusku. Aku ingin meluapkan segala emosi yang saat ini menguasai hatiku. "Len? Kamu kenapa sih? Aku tahu aku sudah menyakiti kamu dulu, tapi kenapa saat aku ingin memperbaiki semua, kamu malah berlaku seperti ini sama aku, aku nggak ngerti sama kamu." Senyum sinisku berubah menjadi tawa hambar, setelah suaranya itu memasuki gendang telingaku. "Jika ada penghargaan akting terbaik, pasti Anda masuk dalam jajaran nominasinya. Akting Anda sangat bagus, sampai-sampai saya merasa akting Anda sudah mengalahkan aktor-aktor Hollywood. Hebat sekali!" Aku masih saja mencibirnya. Memang, kalimat yang aku lontarkan tadi tidak menghilangkan emosi-emosi di hatiku, tapi setidaknya aku bisa puas melihat wajah kebingungannya. "Len, kamu ngomong apa sih? Aku sama sekali nggak ngerti? Emangnya aku ngapain kamu lagi? Aku rasa beberapa hari belakangan ini, hubungan kita baik-baik saja," kata laki-laki sialan itu, matanya menatapku dengan tajam sekaligus lembut dalam waktu yang bersamaan. "Ah sudahlah, percuma saya bicara dengan Anda. Sampai mulut saya berbusa pun, Anda tidak akan mengerti." Aku segera membalikkan badanku dan berjalan menjauhinya, jangan sampai aku kehilangan kendali emosiku. "Lena, kalau ngomong itu yang jelas. Tolong kasih tahu aku, apa yang bikin kamu kayak gini sama aku?!" Tiba-tiba dia mencekal tanganku, dan membuat langkahku terhenti seketika. Berani-beraninya dia menyentuhku, setelah apa yang sudah di rencanakannya itu! Dia pikir aku wanita yang seperti apa? Hey! Meskipun dulu aku pernah menyodorkan tubuhku secara cuma-cuma padanya, sekarang aku berbeda, tidak akan aku biarkan laki-laki manapun, yang tidak punya ikatan resmi denganku, menyentuhku barang sedikit saja. Aku akan menjaga apa yang sudah menjadi milikku. "Jangan berani menyentuh saya dengan tangan kotor Anda itu! Jangan membuat saya mengingat kenangan menjijikan saya waktu itu! Jika Anda ingin tahu apa kesalahan Anda, lebih baik Anda mengintrospeksi diri Anda sendiri. Sekian dan permisi," ucapku seraya menghempaskan cekalan tanganya. Aku mendekap bungkus pizza tadi, dan mulai berlari menjauh darinya. Tidak ada lagi kesempatan untuknya. ***** Aku menatap Rafa yang tampak asik mengunyah pizzanya. Sesekali aku mengusap sudut bibirnya yang terkena saos pizza. "Bunda, pizzanya enak. Rafa suka, tapi jujul ya Bun, lasa jeluk lebih enak dalipada pizza-pizza ini, jeluk tetap nomol satu di hati Rafa, nggak telkalahkan. Jadi kalo Bunda mau beliin Rafa sesuatu, Bunda beliin Rafa jeluk aja, dengan senang hati Rafa memakannya," celotehnya yang membuat rasa sesak di dadaku sedikit berkurang. "Rafa sayang sama jeluk-jeluk Rafa." Dengan lucunya, dia mengambil satu buah jeruk yang sedari tadi ada di hadapannya, dan menciumi buah itu dengan gemas. Seolah, dia ingin menyalurkan rasa cintanya pada buah yang umumnya, berwarna oranye itu. "Jadi Rafa sayangnya cuma sama jeruk itu doang, ya? Rafa nggak sayang sama Bunda?" Aku mengerucutkan bibirku, seolah kesal dengan putraku itu. Rafa malah terkekeh melihatku yang merajuk seperti ini. Anak laki-lakiku itu, tiba-tiba turun dari kursi yang didudukinya dan berjalan mendekatiku. Putraku itu, mengangkat tubuhnya agar bisa duduk di pangkuanku. "Bunda lagi pula-pula ngambek ya? Jangan pula-pula ngambek sama Rafa, nanti Rafa nggak bisa makan jeluk yang banyak. Nih, Rafa cium, bial Bunda nggak pula-pula ngambek lagi," ucapnya yang kemudian melayangkan ciuman-ciuman basahnya ke pipiku, aku terkekeh geli dengan perlakuan menggemaskannya itu. Tahu saja putraku ini, kalau Bundanya hanya berpura-pura. "Rafa kesayangannya Bunda, Rafa kecintaannya Bunda," ucapku seraya menciumi pipi tembamnya dengan gemas. Aku sedikit lupa dengan kejadian di restoran cepat saji tadi. "Bunda juga kesayangannya Rafa, Bunda kecintaannya Rafa. Sama kayak Ayah yang selalu ngasih Rafa jeluk yang banyak, dan udah pulang nemenin Rafa belmain," katanya yang membuat gerakanku langsung terhenti. Apa maksudnya dengan Ayah? Siapa yang dia sebut sebagai Ayah? Pak Adam? Bosku itu yang belakangan ini selalu menemai Rafa bermain, dan selain itu tidak ada lagi. Ya, kecuali si Lele biadab itu. Tapi, kata si Lele tadi, dia sama sekali tak bercerita pada Rafa, tentang dirinya adalah Ayah kandung putraku. Lalu, siapa yang Rafa maksud? Jika benar itu si Lele biadab, kenapa di restoran tadi dia tidak berkata jujur pada istrinya? "Bunda, Ayah Rafa udah dateng! Yey! Rafa dapet jeluk lagi," pekik Rafa ketika mendengar pintu depan rumah kami diketuk. Rafa pun langsung turun dari pangkuanku, dan berlari menuju pintu depan. Aku masih terdiam di tempatku, kalimat yang terlontar dari mulut mungil Rafa tadi, sukses membuatku tak bisa konsentrasi. Aku segera menghentikan lamunanku dan berjalan menyusul Rafa. Bisa saja tamu itu bukan orang baik, melainkan orang jahat. "Malam Lena," sapanya yang melihatku sudah berada di ruang depan. Benar dugaanku. Dia si Lele biadab! Tapi apa maksudnya tadi? Bukannya dia bilang pada istrinya, jika dia belum memberitahu Rafa tentang kebenarannya? Kenapa kisahku semakin rumit saja? Aku membenci hal-hal yang rumit! "Apa yang sudah Anda katakan pada putra saya?!" Tanyaku yang tak bisa menyembunyikan nada marah di dalamnya. "Aku hanya ingin lebih dekat dengan putraku sendiri. Apa salahnya, Lena?" Jawabnya pelan, ia menyunggingkan senyum memohonnya. "Apa rencana busuk yang telah Anda dan istri Anda rencanakan? Anda salah jika ingin mengambil putra saya," kataku dengan meraih Rafa yang berada di sisinya. "Aku nggak punya rencana apa-apa Lena. Apa yang aku lakukan, murni karena aku ingin memperbaiki semua kesalahanku," balasnya memelas. Nada suara yang amat sangat aku benci. "Hentikan drama menjijikan Anda itu, saya sudah muak mendengar suara Anda. Dan jangan membuat saya semakin muak dengan keberadaan Anda di sini!" Aku menedang kakinya, mengusirnya dengan cara yang tidak pantas. Memangnya apa peduliku? Aku membenci laki-laki ini. "Bunda, kenapa Bunda ngusil Ayah? Kata Bu Gulu, nggak baik ngusil olang kayak gitu, nanti Bunda dibenci sama Allah. Rafa nggak mau Bunda dibenci Allah. Rafa sayang sama Bunda, Rafa juga sayang sama Ayah." Ucapan Rafa menghentikan gerakanku, aku menunduk menatap Rafa yang siap menangis. "Bunda, Rafa pengen ketemu Ayah lebih lama lagi. Rafa pengen balengan sama Ayah, jangan pisahin Rafa sama Ayah Bunda. Udah cukup selama ini, Rafa nggak ketemu Ayah. Rafa mau Ayah Bunda."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN