Panggilan Tengah Malam

1068 Kata
Aku memantapkan hati pergi ke kamar setelah hampir tiga jam berada diluar menghindari Mas Bintang. Setelah selesai makan malam, dan berberes sebentar di dapur, aku tidak langsung menyusul Mas Bintang ke atas, tapi malah masuk ke kamar Ibu. Aku suka berada di kamarnya. Kami sering bertukar cerita atau bersenda gurau layaknya ibu dan anak. Dan diakhiri dengan memijit kakinya sampai beliau tertidur. Walau kutahu salah satu kakinya tidak dapat berfungsi dengan baik. *** "Hufh ...." Menarik nafas panjang sebelum menarik kenop pintu kamar. Perasaan takut menderaku. Aku membuka pintu dengan sangat pelan, berniat berjalan jinjit layaknya pencuri yang sedang masuk ke dalam rumah incarannya. Aku takut tapak langkah kakiku membangunkan Mas Bintang. Terkejut, baru satu langkah, aku terhenti. Badanku kaku seketika. Lampu kamar rupanya masih menyala. Mas Bintang ternyata belum tidur. Dia sedang berkutat di depan laptop, bekerja dengan serius dibalik meja kerjanya. suamiku itu menoleh kesamping, melihat ke arahku sekilas, lalu kembali fokus ke depan layar persegi panjangnya. Mungkin, bunyi derit pintu tadi membuyarkan sedikit konsentrasinya. Lega. Dia tidak menanyakan perihal masakan tersebut. Syukurlah. Mungkin akunya yang terlalu berlebihan menanggapi hal tersebut. Kuputuskan merebahkan diri ke tempat tidur. Mencoba memejamkan mata untuk tidur. Namun tak bisa. Pertanyaan-pertanyaan tentangnya yang ada di dalam hatiku terus berputar di kepala. "Tanya, tidak? Tanya, tidak?" gumamku dalam hati. Aku membolak-balikkan badan kekanan dan kekiri. Lalu berakhir dengan terlentang dan menatap lurus keatas. Pikiranku menerawang kembali. "Kenapa belum tidur?" Suara bariton Mas Bintang mengejutkanku. Lalu aku berpura sudah tidur dengan memejamkan rapat kedua mata. "Jangan bohong! Aku tahu kamu belum tidur, Ya," tebaknya dengan tepat. Aku refleks menghadap ke arahnya. Bangun dan menegakkan punggung posisi duduk. Dia berbalik dan menatapku. Mencopot kacamata yang sedari tadi setia bertengger diatas hidung mancungnya. "Ada yang ingin kamu katakan?" tanyanya menelisik jauh ke dalam netraku. Kenapa pertanyaannya tepat sekali? Aku memajukan badanku condong ke arahnya dan duduk di tepi ranjang. "Apakah aku istrimu?" tanyaku lirih dengan menatap lekat kedua bola matanya. Mungkin bagi orang lain itu adalah pertanyaan yang bodoh, tentu saja aku istrinya. Namaku tercatat resmi di buku nikah sebagai istrinya yang sah di mata hukum dan agama. Namun bagiku itu adalah pertanyaan penting yang mengendap di dasar hatiku yang harus kuketahui jawabannya dengan segera darinya. Aku tak ingin dilanda penasaran bertubi-tubi. Dia memicingkan matanya dengan dahi yang berlipat. Lalu berjalan pelan menghampiriku, sedikit menunduk mensejajarkan tinggi kepala kami dan .... Cup. sebuah ciuman kilat mendarat tepat di bibirku. Aku terperangah kaget. Tidak sempat mengelak hingga mataku terbelalak lebar karena tidak siap akan tindakan spontan darinya. "Kalau kamu bukan istriku, mana mungkin aku menciummu disini, di dalam kamar kita," bisiknya lembut di dekat telinga membuatku mengelinjang sesaat, lalu ia duduk disebelahku. Memangkas jarak hingga Lengan kami saling bersentuhan. Gugup. Aku tidak tahu harus membalas apa. Degup jantungku berirama lebih cepat. Mas Bintang menerengkan kepalanya menatapku. "Kenapa bertanya begitu? Sekarang kita berada dikamar yang sama, apa itu tidak membuktikan kalau kamu adalah istriku?" tukasnya lagi menyelidik. kuhela napas dalam-dalam sebelum menjawabnya. "Selama ini aku merasa Mas tidak mencintaiku. Aku ...." Terjeda. aku merasa sulit menjelaskan. kuhembuskan napas kasar menetralkan kegugupan ini. "Aku takut dinikahi hanya sebagai istri pajangan di rumah ini," tudingku dengan berani sambil menggigit bibir atas. "Kata siapa?" Nada bicaranya naik, kulihat raut wajahnya mengeras. Sepertinya Mas Bintang tak suka dengan pernyataanku barusan. "Perasaanku yang mengatakannya begitu. Biasanya insting wanita itu kuat. " Dengan cepat menjawab, meski bibir bergetar mengucapkannya. Mas Bintang seperti terkejut mendengarnya. "Maaf," balasnya kemudian. Dia menunduk. "Kasih aku waktu. Aku akan membuktikan kalau aku juga mencintaimu," tuturnya sambil menggenggam tangan ini. Waktu. Maksudnya? Sudah hampir dua tahun kami bersama, dan dia minta waktu untuk membuktikan apa? Apa selama ini dia belum mencintaiku? Batinku mulai bertanya-tanya. "Apakah Mas masih mencintai dia?" Mas Bintang mendelik menatapku. Lalu kerutan muncul di keningnya. "Dia ...?" "Mantan Mas," selaku pelan tapi lugas menerangkan. "Siapa yang mengatakan itu? Ibu?" Tiba-tiba menyebut nama Ibu. Padahal tidak sama sekali. Ini hasil pemikiranku. "Aargh, Mas!" Badanku digiringnya ke tengah tempat tidur dan merebahkanku bersama badannya. Kami saling berhadapan, lalu salah satu tangannya melingkari pinggangku. Mas Bintang memelukku. Ini kemajuan tak terduga. Biasanya aku yang lebih egresif, yang memulai lebih dulu memeluknya saat tidur. Namun sekarang dia. Dia mengangkat kedua alisnya. Seolah menungguku bicara. Aku ingin menepis tangannya tapi badanku malah ditarik lebih kuat hingga maju ke arahnya. Pelukannya semakin erat. "Apa saja yang dikatakan ibu tentangku?" Mas Bintang bertanya seperti mengintimidasi sembari tangannya mengusap keningku lembut. Membenarkan rambut depanku kebelakang telinga. Debaran di d**a semakin berdegup kencang. Aku ingin menggeleng tapi telunjuk tangannya sudah berada di atas bibir. "Apapun yang dikatakan ibu tentangku atau mantanku jangan ditelan mentah-mentah. Ibu terkadang memang sulit menerima siapapun yang menjadi mantanku dulu. Baginya semua mantanku itu jelek di matanya. Selalu buruk, bukan menantu idamannya. Sudahlah! Jadi lupakan saja. Sekarang pejamkan matamu, kita tidur! Aku sudah mengantuk," ucapnya menyudahi sembari memejamkan kedua matanya. Apa iya? Memang sih Ibu pernah cerita tentang mantannya suamiku itu dan beliau selalu menjelekkannya. Aduh, aku tidak bisa tidur kalau dipeluk erat begini. Mataku malah berulah menikmati setiap jengkal wajah rupawan dihadapanku yang sedang terpejam. Padahal dikepalaku masih banyak pertanyaan yang belum tersampaikan. Terutama tentang foto itu. "Ehem ..., Sudah puas menatap wajahku ini?" Aku terkesiap lalu mencoba memundurkan kepala menjauh darinya. Ya ampun! Ternyata dia belum tidur. "A--aku." "Tidurlah!" titahnya menghentikan pergerakan mulutku. Aku patuh dan mencoba memejamkan mata kembali. Sudah berdoa, menghitung domba, menghitung angka dari satu sampai sepuluh tapi masih belum bisa tertidur. Aku masih terjaga. Hingga suara getar gawai terdengar di telingaku. Itu bukan dering dari ponselku, ponselku selalu dimatikan saat tidur. Artinya itu suara dari ponsel .... Aku urung membuka mata saat pelukan tangan Mas Bintang melonggar dari pinggangku. Terasa pergerakan badannya yang beringsut pelan turun dari atas kasur. Lalu beranjak bangun dan kuyakin sedang mengambil ponselnya yang terletak di atas nakas, sampingku tidur. "Halo." Sayup suaranya yang setengah berbisik masih terdengar olehku. Dia masih di dalam kamar. Aku menajamkan pendengaran ingin tahu siapa yang menghubunginya tengah malam ini. "Apa kau gila! Ini sudah jam berapa? Tidak mungkin!" "Ya Allah Dek, mengertilah." Degh. Aku terkejut. Siapa yang dipanggilnya Dek? Nama orang atau panggilan akrab seperti adek. Mas Bintang tidak mempunyai adik, dia anak tunggal. Aku jadi berpikir keras. "Bukan begitu, keadaannya tidak memungkinkan." "Iya! Besok pagi aku kesana." Hening. Tidak ada sahutan lagi. Mas Bintang sudah kembali ke kasur. Disampingku. Tangannya kembali memelukku. "Aya, maafkan aku," lirihnya pelan sambil mengelus lembut pipiku. Maaf? untuk apa?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN