Renita masuk ke ruang BEM dengan langkah santai, membiarkan pintu di belakangnya menutup perlahan. Udara ruangan terasa sedikit dingin, mungkin karena AC yang disetel terlalu rendah, atau mungkin karena suasana di dalam yang tampak sepi dibandingkan biasanya. Pandangannya langsung menyapu ruangan, mencari-cari sosok yang dikenalnya. Berkas-berkas dan beberapa map tertata rapi di meja kerja, papan tulis di dinding sebelah kanan penuh dengan coretan agenda, dan beberapa kursi kosong tersusun di sudut ruangan. Tapi yang langsung menarik perhatian Renita adalah Zahra. Duduk sendirian di sudut ruangan, Zahra terlihat berbeda dari biasanya. Posisinya sedikit membungkuk, kedua tangannya menopang dagu, sementara matanya tampak kosong, menatap lurus ke depan. Rambutnya yang biasanya tertata rapi

