“Aku benar-benar tidak senang saat ini. Aku merasa jika semua yang telah kurencanakan satu persatu menemukan kegagalan,” ucap Raffa sembari menekan d**a si pengkhianat dengan lebih kuat. Hal tersebut rupanya membuat jeritan kesakitan yang menyedihakn terdengar memenuhi ruangan luas yang berada di salah satu gedung kosong milih Raffa. Mata Raffa terpejam erat menikmati suara jerit menyedihkan tersebut. sedikit banyak, suasana hati Raffa lebih baik saat ini. Raffa membuka matanya saat mendengar Andrew mendekat dan menyerahkan ponselnya. Raffa menerima ponsel tersebut dan menerima telepon yang masuk. “Halo?” “Halo, Raffa. Aku sudah menerima barangmu,” ucap orang yang berada di ujung sambungan telepon. Raffa mengangguk dan melepas injakan kakinya, tapi tangannya yang memegang pisau deng

