Keduanya saling tatap, saat mereka bersisihan juga begitu. Hati masing-masing sama-sama menjerit saling memanggil satu sama lainnya, namun suara tidak mampu melewati tenggorokan. Tercekat bersamaan lewatnya Jane meninggalkan Farfalla yang tertegun sendirian. “Mama….” Sekali lagi Farfalla berucap, kali ini dengan suara yang sangat pelan. Ada rasa sakit yang menjalar dari lubuk hati menyaksikan wanita yang mirip dengan Arine itu berjalan melewati mereka. “Kenapa?” Farfalla mendudukkan tubuhnya di bangku panjang, nafasnya menjadi sesak. Tongkat yang dia gunakan untuk membantunya berjalan dia sampirkan di samping kiri tubuhnya. “Kenapa Mama bisa melupakan aku begitu saja? Kenapa Mama bisa berpura-pura tidak mengenal aku?” tanyanya pada diri sendiri. Bulir bening jatuh begitu saja dari pipi

