Menyelamatkan Farfalla

1611 Kata
Makan malam itu berjalan lancar, Farfalla baru tahu jika yang di temui oleh Rudolf itu adalah ayahnya, Jefford Hugo. Mereka membicarakan sesuatu yang Farfalla tidak mengerti, sesekali terdengar mereka sedang membahas bar tempat Farfalla bekerja. Sementara Arinee yang duduk di samping Hugo hanya menemani dan tidak banyak bicara. Sesekali Arinee menuangkan minum dan mengambilkan sesuatu yang di minta Hugo. Farfalla tahu jika diam-diam Arinee memperhatikannya, ia juga tahu kalau ibunya itu ingin berbicara namun ia belum menemukan kesempatan yang tepat. “Aku mau ke toilet sebentar.” Farfalla bangkit setelah mendapatkan anggukan kepala dari Rudolf. “Kamu tahu tempatnya?” tanya Rudolf. “Biar aku temani.” Arinee berinisiatif dan langsung berdiri. “Aku bisa sendiri, tidak usah repot-repot Nyo-nya.” Farfalla menegaskan kata Nyonya saat pengucapannya. “Kebetulan aku juga mau ke toilet.” Arinee menjawab dengan senyum yang lebar, dan Farfalla tidak bisa lagi membantah. “Kamu sangat cantik malam ini,” ujar Arinee saat mereka berdua sudah sampai di toilet. Binar mata wanita itu menunjukkan kerinduan yang di tahan. Arinee ingin sekali memeluk putrinya, ingin menangis karena tahu putrinya baik-baik saja. Berbanding terbalik dengan Farfalla, gadis itu menyunggingkan senyum mendengar ucapan Arinee, senyum mengejek dan binar mata muak melihat wajah ibunya. “La…” Arinee mendekat. Kedua tangannya terangkat hendak memeluk Farfalla. “Apa yang mau mama lakukan?” Farfalla mengibaskan tangan Arinee hingga wanita itu gagal menyentuh Farfalla. “La, dengarkan mama,” ucap Arinee dengan suara serak. “Ikut mama pulang ya? Kamu sudah lama tidak masuk sekolah, mama akan bicara dengan wali kelasmu supaya bisa memberikan kamu kesempatan untuk mengejar ketinggalan pelajaran. Kita jalani lagi kehidupan kita seperti sebelumnya.” Wanita itu melanjutkan ucapannya. “Menjalani kehidupan kita seperti sebelumnya?” Farfalla mengulang perkataan Arinee sambil tersenyum mengejek. “Mama dengan status sebagai wanita jalang dan aku anak dari seorang wanita jalang yang selalu di hina, begitu? Kehidupan seperti itu yang mama suka, tetapi tidak denganku, aku tidak menyukainya,” desis Farfalla. “La?” kening Arinee membentuk lipatan. “Siapa yang mengejekmu? Katakana pada mama,” “Semua orang di dunia yang mengenal mama dan mengenal aku sebagai anak mama, lalu mama mau bilang apa sama mereka? Mama mau berkoar-koar berkata jangan ejek anak ku, dia anak baik-baik tidak sama seperti aku, cukup aku saja yang kalian hina. Begitu?” Farfalla mengucapkan hal tersebut di iringi dengan ekspresi tubuh yang di buat-buat seolah-olah dia menjadi Arinee. “La….” Kedua mata Arine mulai berkaca-kaca, ia baru tahu kalau selama ini Farfalla telah melewati hari yang berat, ia gagal menjadi orang tua dan teman yang baik untuk putrinya. “Maafkan mama, jika kamu merasa tidak nyaman tinggal di sana, kita bisa pindah rumah. Mama bisa cari rumah sewaan yang baru untuk kita tempati.” “Tidak perlu! Aku sudah mendapatkan tempat paling aman untuk aku tempati. Tidak ada mama, tidak ada sindiran, tidak ada hinaan dan yang pasti, tempat aku sekarang telah membuat aku bahagia.” Gadis itu berkata dengan tegas. “Termasuk menemani Rudolf ke sini?” tembak Arinee. Dari awal bertemu tadi, Arinee sudah sangat gelisah saat Rudolf membawa Farfalla yang menemaninya. Arinee wanita dewasa yang telah lama melintang di dunia seperti itu, apa yang tidak Arinee ketahui dengan perjalanan pria seperti Hugo dan Rudolf? “Bukan urusan mama.” Farfalla dengan cepat mencuci tangannya, lalu berjalan keluar meninggalkan Arinee yang juga sedang melakukan hal yang sama. “Kamu anak mama, apapun yang kamu lakukan akan tetap menjadi urusan mama.” Arinee tidak tahu apa kata yang ia ucapkan tadi di dengar oleh Farfalla atau tidak, yang jelas Arinee akan melakukan apapun untuk keselamatan putrinya. Farfalla sudah duduk di samping Rudolf saat Arinee kembali dari toilet, dua wanita beda usia itu bertindak seolah-olah mereka tidak saling kenal. Hugo dan Rudolf juga tidak tidak terlalu mempedulikan keduanya. Rudolf sudah sangat sering melihat Hugo membawa wanita kehadapannya, dan wanita itu terus berganti hingga Rudolf tidak peduli lagi. Hugo juga demikian, dia tidak pernah mengomentari wanita yang di suka di tiduri putranya. Keduanya memiliki sifat yang sama, ayah dan anak sama-sama tidak pernah mau mencampuri urusan pribadi masing-masing. “Lusa papi akan berangkat, jangan lupa dengan apa yang kita bicarakan ini,” ucap Hugo dan terlihat pria itu tengah bersiap-siap untuk meninggalkan tempat itu. Hugo mendekatkan diri pada Rudolf untuk memberikan pelukan khas pria pada putranya. “Jangan khawatir, Pi. Jaga kesehatan papi selama di sana dan ingat… jangan meniduri sembarang wanita lagi.” Rudolf berbisik di telinga Hugo. Pria tua itu terkekeh pelan, perutnya sampai naik turun karena menyeimbangkan dengan tawa yang keluar dari mulut Hugo. “Kau juga, papi perhatikan wanita yang kau bawa sekarang masih sangat muda,” balas Hugo juga dengan berbisik. “Aku suka yang seperti itu,” jawab Rudolf singkat dan pelukan mereka telah terurai. * Arinee terlihat gelisah saat tangan Hugo menggerayangi tubuhnya, sudah tiga malam ia melayani pria itu. Arinee di bayar mahal untuk bisa berada di samping Hugo selama dua puluh empat jam. Pria itu berbicara sendiri dengan Mami Aster dan Mami Aster sangat senang mendengarnya, Arinee hanya takut jika ia hanya mendapatkan sebagian kecil dari bayaran yang sudah di setorkan Hugo pada wanita pemilik banyak perempuan seperti Arinee. “Kenapa?” tanya Hugo terlihat tidak senang dengan ekspresi tubuh Arinee. “Maafkan aku,” ucap Arinee. Seharusnya Arinee yang memberikan pelayanan pada Hugo sesuai dengan profesinya, tetapi malam ini Arinee terlihat tidak bersemangat sehingga Hugo harus memancing Arinee terlebih dahulu dengan menggerayangi tubuh wanita itu dengan tangannya. “Aku tidak mau melihat wajahmu yang seperti keberatan saat aku sentuh,” ujar Hugo lagi. “Bukan… bukan seperti itu.” Arinee mengubah posisi tidurnya menjadi menghadap pada Hugo, satu tangannya terangkat untuk mengusap d**a pria itu. “Aku hanya sedang memikirkan sesuatu,” ucap Arinee. “Apa itu? Katakana kepadaku. Aku tidak mau kamu memikirkan yang lain saat aku tiduri nanti.” Arinee menatap mata Hugo, maka ia putuskan untuk mengatakan yang sebenarnya. Arinee tidak peduli kalau Rudolf ataupun Farfalla akan marah kepadanya. “Katakan!” ucap Hugo lagi karena Arinee masih terdiam menatapnya. “Rudolf.” “Kenapa dengan Rudolf?” Hugo terlihat tidak suka saat Arinee menyebut nama putranya. “Apa yang akan Rudolf lakukan setelah pulang dari makan malam tadi?” arine bertanya masih dengan mengusap d**a Hugo dengan pelan, usapan itu mulai turun ke perut pria itu. “Tentu saja sama dengan yang kita lakukan sekarang ini.” Hugo bergerak cepat dan melumat bibir Arinee dengan penuh nafsu. Arinee membalasnya kemudian ia melepaskan lumatan itu tanpa menjauhkan bibirnya dari bibir Hugo. “Gadis yang di bawa Rudolf itu masih di bawah umur.” Bibir Arinee menyentuh bibir Hugo saat mengucapkan kata tersebut, helaan nafas yang keluar dari mulut wanita itu terasa hangat masuk ke dalam mulut Hugo yang terbuka. “Itu urusan mereka,” jawab Hugo singkat. “Tetapi itu menjadi urusan ku,” jawab Arinee cepat. “Kenapa?” Hugo menjauhkan diri. “Gadis itu adalah anak ku, dia anak ku satu-satunya. Dia masih kecil dan dia belum pantas di tiduri oleh seorang pria.” Hugo terkekeh mendengar penuturan Arinee. Ucapan itu terasa sangat lucu di telinganya. “Buah memang tidak jauh saat jatuh dari pohonnya. Rudolf jelas seperti aku dan putrimu juga mengikuti jejak mu. Kenapa harus mengingkarinya?” “Tolong aku….” Arinee menangkupkan kedua tangannya di d**a. “Tolong aku, katakana pada Rudolf kalau jangan meniduri putriku. Aku mohon….” Hugo tersenyum sinis, dia membayar mahal untuk bisa tidur dengan wanita ini. Kenapa juga dia harus dilibatkan dengan urusan pribadinya? “Aku tidak mau, salah mu yang tidak menjaga putrimu dan salah putrimu kenapa dia mau di ajak Rudolf pergi,” tolak Hugo. “Aku mohon….” Arinee langsung memanjat ke atas tubuh Hugo, ia mendudukkan pantatnya persis di atas kejantanan pria itu. “Aku akan melakukan apapun yang kamu minta, seperti apa yang kamu inginkan. Aku akan memuaskan mu seratus kali lipat dari yang aku lakukan sebelumnya, tetapi aku mohon kepadamu…. Selamatkan putriku. Dia masih tujuh belas tahun, dia masih sekolah dan dia sedang kabur dari rumah karena kecewa kepadaku.” Hugo terdiam lama, ia kemudian menatap Arinee yang berada di atas tubuhnya dan sedang melakukan permohonan. Kemudian dia membuang nafasnya dengan kasar. “Aku hanya akan memberikan kepadamu nomor kamar mereka. Selebihnya kamu yang urus sendiri, aku tidak mau ikut campur karena aku tidak mau hubunganku dengan putra ku bermasalah. Tetapi kamu harus berjanji, setelah kamu menyelamatkan putrimu, kamu harus kembali ke sini. Aku menunggumu di sini dan menunggu janjimu untuk melayaniku se-ra-tus kali lipat dari sebelumnya.” Hugo menatap nyalang pada Arinee dan Arinee mengerti dengan arti tatapan itu. “Aku berjanji.” Arinee turun dari tubuh Hugo dan memungut pakaiannya. Dengan cepat ia berganti pakaian dan berdoa pada tuhan jika ia tidak terlambat. Setelah Hugo menyebutkan nomor kamar Rudolf, Arinee mendekati pria itu. “Terima kasih atas kebaikan mu dan aku berjanji akan datang untuk membalasnya,” ucap Arinee sebelum meninggalkan kamar itu. Tidak butuh waktu lama bagi Arinee untuk sampai di kamar yang Hugo maksud, Hugo dan Rudolf adalah dua pria yang sangat kompak dalam segala hal, bahkan kamar yang mereka gunakan ada di hotel yang sama. Arinee hanya naik satu lantai untuk menuju kamar yang Rudolf pakai. Berbekal dengan kunci duplikat yang ia peroleh dari Hugo, Arinee memberanikan diri untuk membuka kamar tersebut. Ia melangkah pelan untuk masuk ke dalam, melangkah dengan sangat pelan supaya langkah kakinya tidak menimbulkan suara yang bisa membuat dia ketahuan telah masuk ke kamar orang tanpa izin. “Hentikan!” teriak Arinee. Suara wanita itu bergetar, begitu juga dengan tubuhnya, ibu mana yang tega melihat anak perempuannya yang belum cukup umur hampir di tunggangi oleh seorang pria dewasa?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN