Setelah perkenalannya dengan Marion di kantin beberapa waktu lalu, ternyata Marion merupakan senior satu jurusan dengan Bianca. Mereka pun akhir-akhir ini tampak dekat, membuat Adel dan Laura setidaknya tidak terus menerus melihat raut wajah yang selalu tampak muram dari Bianca. Terutama Adel yang tahu bagaimana Bianca setelah Radi pergi dengan begitu tiba-tiba.
Kedekatan Bianca dan Marion pun di ketahui oleh Devon dan Marcel. Mereka juga senang melihat Bianca bisa tersenyum seperti sebelumnya, meski tampak menyayangkan kedekatan Bianca dan Marion karena artinya Bianca bisa membuka hati untuk laki-laki lain, bukan tak senang. Bagaimana pun Radi juga sahabat mereka meski sampai sekarang keduanya tak tahu di mana Radi, tetapi baik Devon ataupun Marcel selalu berharap hubungan Radi dan Bianca kembali seperti semula. Sekarang sepertinya itu tak mudah.
Bianca tersenyum menyambut Marion yang pagi ini menjemputnya di rumah, kebersamaannya dengan Marion memang sudah bukan lagi seperti teman, tetapi hampir semua yang melihat kebersamaan mereka berdua sudah seperti sepasang kekasih. Bianca hanya menikmati kebersamaan yang ada dengan Marion, apalagi sikap Marion begitu baik dan juga begitu dewasa. Bianca juga tak memungkiri, selama dia bersama dengan Marion, Bianca merasa nyaman, paling tidak seperti itulah sekarang.
“Maaf ya, Kak. Nunggu lama,” ucap Bianca.
Marion tersenyum manis, “Enggak kok. Kita berangkat!” ajak Marion, mereka pun berjalan menuju mobil milik lai-laki itu.
Marion membukakan pintu samping untuk Bianca, hal yang selalu membuat Bianca tersipu malu. “Makasih, Kak,” ucapnya sebelum masuk ke dalam mobil.
“Sama-sama,” balas Marion lalu menutup pintu dan segera masuk ke dalam mobil dengan membuka pintu samping.
“Hari ini kamu ada kelas sampe jam berapa?” tanya Marion dengan mata yang masih fokus pada jalanan di hadapannya.
“Full sampe sore, Kak. Kenapa?”
“Enggak. Ya udah nanti aku tunggu kamu, aku ada kelas sampe jam satu doang.”
“Aku bisa pulang sama Adel atau Laura lho, Kak.”
“Mana bisa aku ninggalin kamu, Bi.”
“Idih apa sih, Kak. Gombal.”
“Siapa yang gombal, aku cuma bilang sejujurnya. Lagian kenapa sih kamu enggak mau aku anterin pulang?”
“Ya bukan gitu, Kak. Aku enggak enak aja, tiap hari selalu anter jemput aku lho.”
“Aku yang mau, jadi enggak masalah.”
“Takut ada yang marah, Kak.”
“Siapa?”
“Pacar Kakak mungkin,” ucap Bianca sedikit ragu.
Marion tertawa mendengar perkataan Bianca, “Pacar dari mana sih, enggak ada.”
“Masa sih?” tanya Bianca menatap ke arah Marion.
“Iya. Enggak ada, kecuali kalau kamu mau jadi pacar aku.”
Bianca diam, dia tak tahu harus berkata apa.
***
Radi benar-benar melakukan semuanya. Menghabiskan waktu dengan belajar dan belajar. Seolah tak ada lagi hari esok, Radi selalu mengerjakan semuanya dengan cepat. Radi berencana untuk lulus cepat, kemudian bekerja dan kembali ke Bandung.
Radi merasa dia sudah tak bisa melakukan apa yang selalu dia katakan. Melupakan Bianca. Dia tak bisa dan pelariannya untuk melupakan Bianca adalah dengan belajar meski tak sepenuhnya tetapi dengan belajar setidaknya Radi lupa tentang Bianca.
Hari ini pun sama, setelah selesai kelas. Dia dan Kaivan yang memang selalu ada di sampingnya ke manapun Radi pergi, memilih untuk ke perpustakaan. Tempat tujuan Radi selain rumah pastinya dan Kaivan pun ikut saja. Sebenarnya Kaivan tak mengerti dengan jalan pikir Radi, kenapa temannya itu selalu menghabiskan waktunya dengan belajar, buku, mengambil mata kuliah banyak sekali. Memangnya Radi tak pusing, dia saja yang mengambil beberapa mata kuliah masih pusing apalagi Radi yang mengejar kelulusan cepat.
Kaivan ingin bertanya kepada Radi tentang suatu hal, tentang gadis yang menjadi wallpaper dan lockscreen di handphone Radi. Bukan tak sopan, Kaiva memang tak sengaja melihatnya saat handphone Radi menyala di atas meja saat Radi sedang ke toilet dan meninggalkan handphone-nya di atas meja kantin, saat itu mereka sedang makan siang.
Kaivan melihat gadis yang begitu cantik, dan tampak asing baginya. Bahkan Kaivan yakin bukan Mahasiswa di kampus mereka. Apa gadis itu juga yang membuat Radi selama ini seolah tak tertarik dengan perempuan yang ada di kampus bahkan yang secara terang-terangan mendekatinya.
Radi dan Kaivan duduk di bagian perpustakaan paling ujung, tampak sekali berada di pojok. Tempat biasa Radi menyendiri, kali ini tidak sendiri karena ada Kaivan. Radi nyatanya tidak membaca buku seperti biasa, dia tampak diam saja dan hal itu membuat Kaivan semakin bertanya-tanya.
“Lo ada masalah, Di?” tanya Kaivan akhirnya. Mungkin saja Radi akan mulai bercerita jika Kaivan memulainya.
Radi mengembuskan napas pelan, menatap Kaivan yang duduk di hadapannya. Cukup lama dia dan Kaivan kenal bahkan sudah bersahabat selama mereka menjadi Mahasiswa di sini. Tetapi sampai sekarang Radi masih merahasiakan semuanya, Radi memilih untuk menyimpan sendirian. Tetapi sekarang rasanya Radi tak mampu lagi memendamnya, dia butuh saran atau sekedar pendengar curahan hatinya. Dan Kaivan? Apakah Radi harus bercerita pada laki-laki itu?
“Kalau lo ngerasa belum bisa cerita, enggak apa-apa. Tapi kalau emang mau cerita, gue siap jadi pendengar.”
“Gue bingung, Kai.”
Akhirnya Radi membuka suara. Kaivan masih menatap Radi yang sepertinya akan memulai bercerita.
“Gue sebenarnya jauh-jauh kuliah ke sini, gue lari dari masalah. Waktu sekolah gue punya cewek, gue sayang banget sama dia malah dari awal gue ketemu dia yang lagi di pinggir jalan sama pengamen jalanan. Selain dia cantik, dia juga baik banget. Gue jatuh cinta pada pandangan pertama sama dia, alasan yang klise."
"Ternyata dia satu sekolah sama gue, sampai akhirnya kita kelas dua. Gue nembak dia di lapangan sekolah, gue di terima karena dia juga suka sama gue. Gue bahagia banget bisa milikin dia. Hubungan gue sama dia juga baik-baik aja. Sampai kelulusan kemarin, gue lihat dia ciuman sama laki-laki di acara kelulusan sekolah, yang sialnya laki-laki itu sahabat gue sendiri.”
Radi pun menceritakan semuanya yang terjadi saat malam kelulusan sekolah waktu itu kepada Kaivan. Semuanya Radi ceritakan, yang selama ini dia pendam sendirian. Kaivan tampak terkejut dengan apa yang di ceritakan Radi. Sekarang dia tahu siapa gadis yang ada di layar handphone milik Radi. Ternyata itu kekasihnya, Kaivan bisa melihat sendiri bagaimana cara Radi bercerita, Radi masih mencintai gadis itu Pantas saja Radi belum mengganti wallpapernya sampai sekarang.
“Gue sakit hati, ngerasa dikhianatin sama pacar gue sendiri, sama sahabat gue juga.”
“Sorry, Di. Lo udah pastiin kalau apa yang lo lihat itu benar? Bisa aja lo salahpaham dan karena waktu itu lo terlanjur emosi, cemburu buta mungkin aja kan lo salah lihat.”
“Gue lihat langsung posisi cewek gue belakangin gue terus tangan sahabat gue pegang pinggangnya.”
“Di, gue rasa lo salah lihat deh.”
Radi menatap Kaivan dengan tajam, ya Radi ingin sekali menyangkal kalau apa yang dulu dia lihat adalah salah tetapi kedua matanya sendiri yang melihat Bianca bersama dengan Devon begitu dekat bahkan Laura yang saat itu juga ada di dekat Radi dan melihat mereka mengatakan hal yang sama.
“Gue mau menyangkal itu. Tapi kalau apa yang gue lihat itu benar gimana?”
“Gue bukan bela cewek sama sahabat lo. Tapi posisinya kan lo agak jauh dari mereka, bisa aja salah lihat harusnya lo bisa bicara sama cewek lo, cari kebenarannya. Bukan lari kaya gini, Di,” ucap Kaivan.
Setelah mendengar apa yang Radi ceritakan, bukan maksud Kaivan membela gadis tersebut hanya saja Radi yang Kaivan kira tak akan mungkin lari dari masalah, ternyata malah demikian. Radi pergi tanpa tahu kebenarannya. Kaivan tahu Radi sangat mencintai kekasihnya sampai Radi takut mengetahui kebenarannya tetapi ini juga salah kan, kalau saja Radi bisa sedikit menurunkan emosinya, mungkin masalahnya tak akan sampai berlarut seperti ini.
“Gue enggak punya pengalaman sih, tapi dari yang lo ceritain. Dengan lo yang milih pergi gitu aja, itu salah Di. Sekarang lo sendiri kan yang rugi, jauh dari dia kaya gini. Kalian berdua malah sama-sama tersakiti.”
***
Setelah bercerita kepada Kaivan, Radi sedikit lega. Apa yang dia rasakan selama ini telah dia bagi pada temannya, Kaivan bahkan bukan hanya teman tetapi sudah Radi anggap sama seperti Devon dan Marcel, sahabatnya. Karena selama di sini, selama dia berkuliah sampai beberapa tahun ke depan. Kaivan yang akan bersama dengannya.
Radi menatap layar handphone-nya. Dia masih tampak ragu tetapi Radi kembali ingat apa yang di katakan Kaivan tadi. Dia tak boleh lari terus dari masalah, kalau belum bisa muncul kembali di hadapan Bianca, paling tidak Radi bisa mengabari kedua sahabatnya lebih dulu. Begitu yang selalu Kaivan katakan dan kali ini setelah Radi menyalakan kembali handphone lamanya, Radi mendapatkan banyak pesan terutama dari nomor Bianca dan juga kedua sahabatnya.
Radi membuka grup yang berisi dia, Devon dan Marcel. Mengetikan rangkaian kata dan mengirimnya ke grup. Bahkan belum satu menit pun sudah ada balasan dari kedua sahabatnya.
Devon : Radi! Ini beneran lo kan?
Marcel : Lo dimana Rad? Kenapa baru sekarang lo kasih kabar sama kita.
Devon : Lo baik-baik aja kan Rad?
Radi : Gue di Malang.