Sebuah rumah pasti tempat untuk pulang, tempat penuh kasih sayang, tempat untuk berbagi lelah, tempat untuk istirahat. Jika tidak, pantaskah disebut sebuah rumah? Nyatanya, kamu menganggap aku bukanlah rumahmu lagi, kamu hanya menganggap aku sebagai tempat yang sewaktu-waktu bisa kamu datangi ketika ingin saja. ****** Semuanya benar-benar terlambat. Sebuah perkataan yang mampu menyakiti, sebuah sikap yang mampu melukai. Hanya penyesalan yang tersisa. Rumah itu terasa dingin, seperti lama tak dihuni. Senyuman, sambutan pelukan tak didapatkan. Hanya bau debu yang menyambut kedatangannya. Dia terlambat untuk memulai sesuatu yang baru dengannya kah? Langkah kaki itu perlahan melemah. Hanya sofa sebagai tumpuan untuk mengistirahatkan tubuh sejenak. Tidak ada jejak yang tertinggal di ruang t

