Dunia Yang Sempit

1403 Kata
Awalnya Jinny pikir ide menerima ajakan Sarah untuk mampir ke rumahnya bukanlah ide yang begitu buruk. Ia juga sudah cukup lama tidak bertemu dengan Sarah setelah pertemuan pertama dan terakhir mereka kala itu. Namun sesampainya di kediaman Sarah, Jinny baru menyadari bahwa idenya itu sangat buruk. Bagaimana tidak, rumah Sarah luar biasa bagusnya. Jinny pikir ia hanya orang kaya, namun ternyata dibalik penampilannya yang sederhana itu ia amat sangat kaya. Langkah Jinny terasa berat memasuki rumah Sarah meskipun Sarah dengan begitu ramahnya menyambut Jinny. Bagaimana nyali Jinny tidak ciut, ia hanya memakai piyama saja datang ke tempat ini. Belum lagi piyama yang ia pakai merupakan produk KW dari piyama yang dipakai oleh salah satu pemain drama korea yang sangat Jinny suka. Ah harusnya Jinny menolak saja dan bisa datang lain waktu. Namun mau bagaimana lagi, sudah terlanjur juga. Lagi pula tidak ada yang perlu terlalu ia khawatirkan, ia tidak akan bertemu siapapun kecuali Sarah dan Sisi. Jinny benar-benar merindukan anak menggemaskan itu. Sesampainya di rumah mewah dengan interior ala-ala hunian di Eropa itu, Sarah langsung sibuk menyuruh para pelayannya untuk menyiapkan makanan. Jinny padahal sudah menolak, namun ia tetap memaksa agar Jinny mau makan malam bersama. Sisi ternyata sedang les piano, jadi ia belum bisa bergabung. Mata Jinny mengedar ke sekeliling ruangan yang sepertinya ruang tamu itu. Di tempat itu dipenuhi dengan barang-barang mewah. Gucinya saja sepertinya hampir setinggi Jinny, tentu tidak bisa dibayangkan berapa harganya. "Diminum dulu Jinny, sekalian nungguin makanannya selesai. Mbak gak nyangka soalnya bakal ketemu kamu," kata Sarah. "Gak usah repot-repot ah Mbak. Kayak ketemu tamu penting aja." "Loh kamu pentinglah," balas Sarah membuat keduanya terkekeh. Jinny mengambil segelas air yang tampaknya berisi jus jeruk itu dan meneguknya. Sejujurnya ia cukup haus berkeliling mencari belanja bulanannya tadi. "Eh Yuda... Yuda..." mendengar Sarah memanggil seseorang membuat Jinny langsung ikut menoleh pada orang yang dimaksud. Pupil Jinny langsung membulat sempurna dengan pipi yang menggembung belum sempat meneguk minumannya melihat siapa orang yang di hadapannya kini. Dengan susah payah Jinny menelan minuman itu agar tidak menyembur keluar dan untungnya ia berhasil. Tidak mungkin ia kembali bersikap bodoh di hadapan orang itu untuk yang kesekian kalinya. Tidak hanya Jinny, pria bernama Yuda itu juga tampak sama terkejutnya ketika sempat melirik Jinny. Hanya sepersekian detik pupilnya tampak agak membesar setelah beberapa saat wajahnya kembali terlihat biasa saja. "Sini-sini," Sarah melambai-lambaikkan tangannya membuat pria itu datang menghampiri. "Kenalin, ini Jinny, orang yang bantu Mbak nemuin Sisi di Singapore waktu itu. Kamu masih ingatkan?" "Oh iya," jawabnya. "Jinny, kenalin ini Yuda, adik Mbak." Sungguh dunia terasa sangat sempit. Jinny seolah sedang menjadi pemeran utama sebuah drama dimana pemeran utama wanita dan prianya selalu dipertemukan dengan tidak sengaja. Bukankah rasanya tidak mungkin bahwa Jinny bisa bertemu dengan Yuda, bosnya, di luar jam kerja seperti ini? "Oh ternyata pak Yuda ini adiknya Mbak?" "Loh kalian udah saling kenal?" "Pak Yuda ini bos aku Mbak." "Astaga... jadi kamu kerja di Singapore di perusahaan cabang Yuda?" Jinny mengangguk kecil. Sarah terlihat begitu terkejut sementara Yuda terlihat biasa saja. "Gak nyangka banget deh. Yuda, ntar ikut makan malam bareng ya," ajak Sarah. Jinny mengalihkan pandangannya kemana saja asal tidak melihat Yuda. Sesungguhnya sejak tadi Jinny rasanya tidak sanggup menatap kearah Yuda. Bagaimana tidak, pria itu kini bahkan tidak menggunakan atasan dan hanya menggunakan celana pendek khas olahraga dengan badan yang penuh dengan keringat. Bukankah sangat tidak layak untuk dipandang namun sangat disayangkan jika dilewatkan? Tadi Jinny sempat menghitung, kotak-kotak diperutnya pas berjumlah enam. "Seger banget kayak perasan jeruk," cicit Jinny pada dirinya sendiri. "Lanjut deh Mbak, aku mau mandi," usai mengatakan itu Yuda langsung berlalu pergi membuat Jinny bernafas lega. Jinny menatap kepergian Yuda yang hanya menampilkan punggungnya yang terlihat begitu bidang hingga membuat Jinny tidak bisa berkedip. "Ckkkkk dasar, gak sopan banget ada tamu juga," omel Sarah. "Gantengkan adeknya Mbak?" Tanya Sarah menyadari Jinny yang tidak mengalihkan pandangannya sama sekali pada Yuda dengan maksud untuk menggoda gadis itu. "Banget," balas Jinny masih belum tersadar membuat Sarah terkekeh. Pemandangan biasa saat melihat gadis-gadis terpesona oleh paras adiknya itu. "Hmmmm maksudnya, udah biasa banget gitu Mbak. Aku emang udah biasa dikelilingi sama cowok yang mukanya kayak pak Yuda. Jadi gak begitu spesial," elak Jinny setelah tersadar dengan apa yang baru saja ia katakan. Sarah semakin terkikik. Gadis ini sangat lucu. "Pak Yuda tinggal disini juga Mbak?" Tanya Jinny penuh ingin tahu. "Enggak sih, sebenarnya dia punya rumah sendiri. Tapi gak tau kenapa suka banget kesini. Tapi jarang nginap, entar kalau udah ngantuk ya dia pulang." Jinny mengangguk-anggukkan kepalanya paham. "Aunty Nini," mendengar suara pekikan membuat Jinny maupun Sarah langsung menoleh ke asal suara. Terlihat seorang anak perempuan cantik nan imut berusia delapan tahun tengah berlari menghampiri Jinny dan Sarah dengan begitu girangnya. "Aaaaaa Sisi..." pekik Jinny tak kalah heboh pula. Keduanya saling berpelukan melepaskan rasa rindu. Sarah hanya mampu tersenyum melihat mereka berdua. Padahal keduanya baru sekali bertemu namun terlihat sangat rindu. "Padahal rencananya kami mau ke Singapur bulan depan selesai Sisi ujian. Mau mampir ke apartemen kamu katanya," jelas Sarah membelai lembut pucuk kepala putrinya. "Oh ya? Berarti kita lebih cepat dong ketemunya." "Aunty Nini harus lihat kelinci-kelinci Sisi. Yang Sisi ceritain waktu itu loh," ucap Sisi bersemangat. Sejak pertemuan awal mereka, Sisi selalu memanggil Jinny dengan panggilan 'Nini'. Jinny hanya memberikannya kebebasan saja untuk memanggilnya apapun yang ia suka. "Kita makan dulu ya, abis itu baru ajak aunty lihat-lihat kelinci." Sisi mengangguk setuju membuat Jinny tersenyum gemas. Akhirnya merekapun bersiap untuk makan malam. Yuda ternyata benar-benar tidak ikut serta. Lagi pula kata Sarah, Yuda memang jarang makan malam. Entahlah, mungkin ia diet. Tentu saja perut kotak-kotaknya itu adalah hasil dari menjaga pola makan dan juga olahraga. Jinny menggelengkan kepalanya saat terbayang perut kotak-kotak milik Yuda. *** Jinny bertopang dagu diatas meja dengan pandangan lurus ke arah komputer kerjanya. Pandangannya memang ke arah monotir, namun pikirannya tentu saja tidak berada disitu. Ia masih terbayang-bayang tentang pertemuannya dengan Yuda kemarin. Ia masih tidak menyangka bahwa Sarah adalah kakak bosnya itu. Mengingat tentang kemarin, membuat Jinny kembali teringat bagaimana Yuda yang tidak menggunakan atasan saat itu. Ia memang terlihat sangat tampan selama ini menggunakan setelan jas rapi, namun kemarin malam ia terlihat memiliki level ketampanan yang berbeda. Rambutnya acak-acakan setengah basah membuat ia terlihat memiliki kesan badboy tersendiri. "Eh Jin, bengong aja lo. Entar kesambet Jin baru tau rasa," kata Arya mengangetkan lamunan Jinny membuat Jinny mendengus kesal. "Nih rangkuman buat wawancara nanti," lanjutnya memberikan berkas pada Jinny. "Jangan bengong lagi, entar beneran kesambet." "Lo kali tu yang kesambet jin iprit," balas Jinny kesal yang dibalas acuh oleh Arya dan kembali ke meja kerjanya. Jinny melihat jam yang melingkar di tangannya. Sudah waktunya ia untuk bersiap turun ke lapangan untuk melakukan liputan. Jinny pun langsung bergegas untuk bersiap-siap. Jinny melangkah dengan percaya diri keluar dari kantor, sesekali ia menerima sapaan dari karyawan yang lain. Jinny cukup terkenal di kantor ini, banyak orang yang mengenalinya. Itu semua karena sikapnya yang memang mudah bergaul dengan siapa saja. Tiba-tiba langkah Jinny melambat saat melihat Yuda dari kejauhan ketika mereka akan berpapasan. Kedua mata mereka entah mengapa langsung bertemu padahal Jinny berniat untuk berpura-pura tidak melihat saja. Jinny langsung memberikan senyuman terbaiknya untuk menyapa bosnya itu. "Pagi Pak," sapa Jinny menunduk sopan. "Ikut saya." Mata Jinny berkedip-kedip mendengar ucapan Yuda yang tiba-tiba. Pria itu juga tiba-tiba membalikkan langkahnya membuat Jinny yang tidak mengerti hanya pasrah mengikuti. Ingin rasanya bertanya akan kemana, namun langkah Yuda terlalu besar-besar hingga Jinny agak kesulitan menyamainya. Ternyata Yuda membawanya ke parkiran mobil. Pria itu terlihat membuka pintu mobil mewah berwarna hitam mengkilap miliknya dan mengambil sesuatu di dalam sana. "Mbak Sarah minta kembaliin ini," katanya sembari memberikan cardigan Jinny. Jinny membulatkan pupilnya, ia baru ingat bahwa cardigan ini kemarin tertinggal di rumah Sarah. Ah bagaimana bisa Sarah meminta Yuda untuk mengembalikan barang seharga tidak seberapa itu? Memalukan sekali. "Wah ketinggalan ya Pak. Duh makasih banyak loh, Bapak jadi repot-repot. Harusnya biarin aja Pak." "Tadinya memang mau saya buang. Lain kali lebih teliti lagi. Ketidak telitian kamu juga bisa terjadi nantinya dipekerjaan." Setelah mengatakan itu Yuda langsung berlalu pergi membuat Jinny melongo. "Ih apa hubungannya cardigan tinggal sama kerjaan sih? Apa-apa disangkutin sama kerjaan. Galak banget, gue pacarin juga lo," kata Jinny. Ia terkekeh geli menyadari kalimat terakhirnya. Jinny mengendus cardigannya hingga membuat dahinya mengernyit. Mengapa wanginya sama persis dengan wangi parfum Yuda? Apa karena cardigannya berada semobil dengan Yuda tadi? Ah sepertinya caridgan itu harus dimusiumkan dan tidak perlu dicuci sampai kapanpun.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN