Diam-Diam Perhatian?

1170 Kata
Jinny berjalan dengan tertatih-tatih untuk menjangkau ponselnya di meja. Ia padahal sudah rapi bersiap untuk berangkat ke kantor, tapi nampaknya keadaan kakinya tidak bisa dipaksakan. Hasil terkilirnya kemarin kini malah meninggalkan bengkak di pergengan kakinya membuat ia sulit berjalan. Apalagi hari ini ia memiliki jadwal kerja di lapangan, jadi tampaknya tidak memungkin. Baru saja Jinny akan menghubungi atasannya untuk meminta izin, tiba-tiba ponselnya berdering. Tertera nama Bunga disana. "Halo..." "Jin, lo beneran lagi sakit? Parah banget ya?" Begitu telfon tersambung, Bunga langsung melontarkan pertanyaan-pertanyaannya membuat dahi Jinny mengernyit heran. Seingatnya ia belum memberi tahu siapapun orang di kantor bahwa ia sedang sakit. Mengapa bisa Bunga malah mengetahui hal ini? "Kaki gue terkilir aja sih, jadi susah jalan. Ini baru mau minta izin sama mbak Dita." "Udah diizinin kok. Tadi barusan mbak Dita hubungi gue buat gantiin lo hari ini." Raut wajah Jinny tampak terkejut. Begitu banyak yang membingungkan pagi ini. "Oh ya? Padahal gue belum hubungi mbak Dita loh." "Kata mbak Dita, pak Yuda yang ngabarin kalau lo gak bisa masuk karena sakit. Tapi kok pak Yuda bisa tau sih?" Jinny bisa merasakan aura penuh keingin tahuan dari Bunga. Dia memang tidak pernah mau ketinggalan berita. Jinny terdiam sejenak saat menyadari bahwa Yuda lah yang memberi tahu tentang hal ini. Tapi dari mana ia tahu bahwa Jinny tidak bisa masuk hari ini? Ya memang kemarin dia juga ada di tempat kejadian, tapi saat itu kondisinya tidak separah sekarang. Lagi pula untuk apa bos besar itu repot-repot meminta izin untuknya? "Halooo.. Jinny... kok gak nyaut lagi." "Eh iya, kenapa?" "Jadi gimana? Kenapa pak Yuda bisa tau." "Kayaknya dia ada di lokasi waktu gue jatuh deh." "Ah masa sih? Kalau gitu ngapain dia yang kasih izin? Cerita dong." "Dih udah diceritain malah gak percaya. Udah ah pergi kerja lo sekarang. Tolong kerjain kerjaan gue ya. Thanks Bunga." Jinny langsung mematikan sambungan telfon tanpa menunggu balasan dari Bunga. Ia pasti akan terus menagih cerita. Tidak mungkin Jinny menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Jinny kembali terpikir tentang Yuda. Pria itu benar-benar sulit ditebak. Ia terlihat tidak peduli, namun jika sudah begini bukankah artinya ia peduli? Atau jangan-jangan Sarah yang memintanya untuk melakukan itu? Itu bisa jadi kemungkinan terbesar mengingat Sarah juga pasti sudah mengetahui kejadian kemarin. Ditengah kesibukannya memikirkan hal itu, tiba-tiba ponselnya kembali berdering membuat Jinny berdecak kesal. "Ishhhh lo batu banget sih. Kan gue udah bilang bisa aja pak Yuda gak sengaja juga ada di lokasi waktu gue jatuh. Kami gak ketemu sama sekali ya kecuali di kantor, jadi jangan mikir yang enggak-enggak," celoteh Jinny kembali memberi penjelasan, kali ini lebih rinci lagi meskipun isinya adalah kebohongan. "Saya gendong kamu sampai ke mobil itu gak sengaja juga?" Mata Jinny membulat sempurna mendengar suara di seberang telfon yang bisa ia pastikan itu bukanlah suara Bunga. Dengan cepat Jinny menjauhkan ponselnya dari telinga dan melihat siapa yang menelfon, ternyata nomornya asing, namun suaranya tidak begitu asing. "Pa... pak Yuda?" "Gimana kaki kamu?" "Gak papa sih Pak, cuma emang agak susah jalan aja." "Kan kemarin udah saya bilang, periksa ke rumah sakit." "Gak papa kok Pak, bentar lagi juga sembuh. Oh iya, makasih ya Pak udah izinin saya gak masuk hari ini." "Mobil kamu akan diantarin orang suruhan saya siang ini." Jinny menganggukkan kepalanya meskipun Yuda tidak bisa melihatnya. Kemarin Jinny ke rumah Sarah memang menggunakan mobilnya. Namun karena kakinya terkilir, selepas dari pergi bersama Sisi dan Yuda, Yuda pun memaksa untuk mengantarkan Jinny pulang saja. "Kalau ada apa-apa dengan kaki kamu, bisa hubungi saya." "Baik Pak, terima kasih." Tidak ada jawaban selain suara telfon yang sudah terputus. Jinny tidak bisa menyembunyikan senyumnya hingga ia hanya mampu mengulum senyumnya saja. Ia bahkan tidak menduga bahwa Yuda akan menghubunginya pagi-pagi seperti ini. "Kenapa jadi perhatian banget sih? Jangan bilang dia suka sama gue? Aaaaa guekan belum siap. Please sukanya pelan-pelan Pak, gue bisa jantungan entar." Jinny terkikik sendiri dengan pemikirannya yang melantur itu. Ya sebenarnya ia sadar bahwa itu tidak mungkin, namun tetap saja memikirkannya saja sudah membuat Jinny senang. *** "Kok kaki lo bisa sampai kayak gini sih?" "Kan udah gue bilang jatuh." "Ya jatuh dimana? Lo cuma bilang jatuh doang." "Gimana gue mau jelasin, gue baru bilang jatuh aja lo langsung buru-buru mau kesini." Agatha mencibir, tentu saja ia ingin langsung menemui sahabatnya itu. Jinny sangat jarang sakit, jadi jika ia sakit sampai tidak masuk kerja itu artinya cukup parah. Pagi ini setelah mendengar kabar bahwa Jinny sakit Agatha langsung menemuinya setelah Andra berangkat bekerja. Tentu saja ia harus menunggu suaminya pergi bekerja dan menyiapkan semua keperluan suaminya itu dulu. Tidak lupa Agatha membawakan banyak makanan agar Jinny tidak susah menyiapkan makanannya hari ini. Ia tinggal sendiri di Jakarta ini, jadi pasti tidak akan ada yang mengurusnya saat ia sakit seperti ini. "Gue kemarin main trampolin, abis itu jatuh deh," jelas Jinny sembari melahap nasi goreng yang dibawakan Agatha. Sesekali ia mengajak Kia bercanda yang saat ini sedang ada dalam gendongan Agatha. "Main trampolin? Sejak kapan lo suka main trampolin?" "Gue main buat nemanin Sisi." "Sisi? Sisi siapa?" Jinny berdecak. Tampaknya akan menjadi cerita yang cukup panjang untuk menjelaskannya pada Agatha. "Boleh gak gue makan dulu baru cerita? Laper banget nih." "Yaudah abis makan." "Kia, mamanya galak banget ya. Mending pensius dini deh jadi anaknya. Jadi anak aunty aja," kata Jinny asal yang mendapat pelototan dari Agatha. Jinny pun dengan cepat menghabiskan makanannya sebab tampaknya Agatha tidak sabar mendengar cerita darinya. Setelah makan, Jinny pun mulai menceritakan tentang pertemuannya dengan Sarah dan juga Sisi yang merambat dengan kaitannya pada Yuda. Agatha mendengarkannya dengan seksama cerita Jinny yang bak naskah sebuah drama yang tersusun rapi itu. Ia pikir hanya kisah hidupnya yang selalu dicampuri dengan ketidak sengajaan oleh takdir, ternyata Jinny juga. "Ohhhh... gue paham. Lo sekarang caper sama keluarganya mbak Sarah karena lo naksir adiknya kan," tuduh Agatha usai mendengar cerita Jinny. "Dih apaan, enggak tuh. Gue gak caper ya, mbak Sarahnya baik ya gue harus baik juga." "Elehhhh... waktu itu lo ceritain tentang bos lo, lo bilang ganteng banget. Gue tau banget ya Jin gimana lo. Kita tu bukan baru temanan kemarin sore." Agatha tahu betul selera Jinny dan dari cerita yang ia dengar, Yuda lah orangnya yang selama ini ia cari. "E..enggak kok, biasa aja." Agatha mencibir tidak percaya. "Ah gak tau ah. Kalaupun gue suka belum tentu dianya suka. Lagian gue siapa, gak sebanding sama dia." Jinny tampaknya mulai frustasi. Ia bukanlah seseorang yang bisa menyembunyikan perasaannya. Baginya semakin ditahan, semakin rasa itu serasa akan meledak. "Siapa tau dia juga suka sama lo. Udah waktunya mungkin Jin lo punya pasangan," kata Agatha tampak bersemangat. Ia sejujurnya sudah tidak sabar melihat sahabatnya itu mengikuti jejaknya. "Masa sih?" "Ya gak begitu meyakinkan sih. Tapi apa salahnya dipepet." Agatha menaik turunkan alisnya membuat Jinny tampak berpikir. Apakah ia bisa mendekati bos besar diperusahaannya itu? "Ah gak tau deh. Entar ujung-ujungnya gue lagi yang sakit hati." "Yuk bisa yuk, jangan semangat, tetap menyerah." "Kebalik!" Agatha seketika tertawa kencang karena berhasil menggoda Jinny sementara Jinny memutar bola matanya malas. Apakah sahabatnya itu benar-benar berniat memberinya semangat?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN