Tubuh Jinny semakin menegang apalagi saat melihat mata Bunga yang membulat sempurna menatap ke belakang Jinny. Sepertinya benar, orang itu ada di belakangnya, maka habislah Jinny. Jinny bangkit dari duduknya kemudian berbalik dan mendapati Yuda tengah berdiri di belakangnya dengan tangan yang terlipat di depan d**a.
"Eh pak Yuda," Jinny hanya mampu menyengir sembari menggaruk tengkuknya.
"Tadi ngomong apa?"
"Oh itu, maksudnya saya tu jatuh cinta gitu Pak sama cara kepemimpinan Bapak. Bapak itu jauh lebih baik dari pak Erik. Iya gitu, iyakan Bunga?" Jinny mengikut Bunga meminta dukungan yang sangat ia butuhkan saat ini.
"I.. iya Pak, benar," sahut Bunga tergagap. Karena Jinny ia malah ikut-ikutan. Ya salahnya juga sih tadi yang berbicara dengan suara agak lantang merespon Jinny.
"Anting kamu ketinggalan di mobil saya. Ini untuk kedua kalinya saya melihat kecerobohan kamu. Tidak ada yang ketiga," kata Yuda sembari memberikan sebelah anting yang kemarin Jinny pakai. Ah iya Jinny baru ingat bahwa anting itu memang hilang. Namun Jinny sama sekali tidak kepikiran kalau anting itu akan jatuh di mobil Yuda.
"Ah iya anting saya. Makasih ya Pak, maaf merepotkan," balas Jinny merasa tidak enak. Sebenarnya ia bingung mengapa Yuda sampai repot-repot mengantarkannya hingga ke ruangan Jinny seperti ini. Apakah ini juga disuruh oleh Sarah? Jika iya, Yuda benar-benar luar biasa penurutnya.
"Kembali bekerja, kantor bukan tempat bergosip," setelah mengatakan itu Yuda langsung berlalu pergi membuat baik Jinny maupun Bunga bisa bernafas lega.
"Lo sih, congornya dijaga dong kalau ngomong pelan aja," omel Jinny pada Bunga.
"Anting lo kok bisa ada di pak Yuda Jin? Kalian kemana? Jadi lo benar-benar dekat sama pak Yuda?" Bukannya kapok, Bunga malah merasa semakin penasaran saja membuat Jinny hanya mampu memutar bola mata malas. Jinny mengambil tasnya dan beberapa berkas untuk bersiap pergi liputan dari pada harus menjawab pertanyaan-pertanyaan Bunga yang sangat ingin tahu itu.
"Jin... kepo gue belum terobati ini. Jawab dulu Jin, Jinny..." Bunga bedecak saat Jinny pergi begitu saja. Ia langsung berpikir menduga-duga sendiri apakah benar Jinny memiliki hubungan dengan Yuda. Tapi bagaimana bisa? Mereka bahkan baru bertemu belum cukup lama. Apalagi Yuda merupakan bos besar diperusahaan ini sementara Jinny adalah karyawan biasa. Tapi kalau tidak ada apa-apa, mengapa Yuda repot-repot datang hanya untuk mengantarkan anting? Ah semakin membingungkan. Mungkin ia akan mencari tahu lagi nanti.
***
Andra menyesap kopinya yang masih hangat, di luar sedang turun hujan. Mungkin karena hujan juga Bima yang tadinya berecana akan ikut bergabung makan siang dengan mereka tidak jadi datang. Kini hanya ada Andra dan Bimo saja. Menurut cerita Bimo, Bima kini sedang giat-giatnya bekerja. Hal itu tentu saja membuat Andra senang. Bima benar-benar jauh lebih baik sekarang. Keluarganya dengan Citra pun semakin harmonis saja. Sesekali Andra mendengar cerita dari istrinya, Agatha bahwa ia dan Citra sesekali pergi berjalan-jalan keluar bersama. Mungkin sama-sama menjadi ibu membuat mereka merasakan kecocokannya masing-masing.
"Eh Ndra, beberapa hari yang lalu gue ketemu Jinny di kafe," cerita Bimo saat tiba-tiba mengingat pertemuannya dengan Jinny kala itu.
"Oh ya?" Bimo mengangguk.
"Dia emangnya udah punya pacar ya sekarang?"
"Pacar?" Dahi Andra sedikit mengernyit. Ia belum mendengar cerita itu dari Agatha. Bahkan saat terakhir kali Andra bertemu Jinny, ia masih sempat menggoda Jinny yang masih saja sendiri.
"Iya, dia ketemu sama cowok waktu itu."
"Gue kurang tau juga sih, Agatha belum cerita apa-apa. Mungkin aja Jinny juga belum mau cerita," jawab Andra. Bimo diam tidak lagi melanjutkan cerita yang malah membuat Andra merasa heran.
"Kenapa emangnya kalau Jinny punya pacar?" Tanya Andra dengan nada agak mengejek.
"Gak papa sih, baguslah kalau udah nemu cowok yang baik."
"Mulai menyesal?" Nada Andra semakin menggoda sekaligus menyudutkan Bimo.
"Apaan sih, enggak."
"Bim... Bim... gue temenan sama lo gak cuma sehari dua hari," ucap Andra diiringi kekehannya. Ia tahu betul bahwa hubungan Bimo dan Yuki kini tidak baik-baik saja. Entahlah, sejak dulu Andra sebenarnya sudah berprinsip bahwa hubungan yang sebenarnya sudah kandas tidak akan bisa diperbaiki kembali seperti semula. Bukankah akan lebih mudah terasa hambar?
"Kadang emang seseorang itu terasa berharga waktu dia udah gak ada. Tapi lo jangan coba-coba dekatin Jinny lagi ya, bisa diomelin Agatha ntar kita," kata Andra mengingatkan. Andra sudah diperingati sebelumnya oleh Agatah. Entah mengapa sampai saat ini istrinya itu masih saja kesal pada Bimo karena merasa Bimo sudah mempermainkan sahabatnya. Mungkin karena Agatha sangat menyayangi sahabatnya itu.
"Enggak kok, tenang aja. Gue sebenarnya cuma mau berteman baik aja sama dia, tapi kayaknya dia gak mau."
"Wajar sih." Bimo hanya mampu menghembuskan nafas kasar. Jujur saja ia merasakan ada rasa penyesalan atas keputusannya dahulu yang terlalu tergesa-gesa menerima Yuki kembali tanpa mempertimbangkan perasaan Jinny. Dipikiran Bimo dulu bahwa jika dengan orang baru, ia akan menghabiskan banyak waktu untuk saling mengenal tapi belum tentu juga ujung-ujungnya bisa saling menerima. Oleh karena itulah ia memilih kembali pada Yuki dan berharap bahwa hubungan mereka akan baik-baik saja ke depannya. Padahal saat itu tidak bisa dipungkiri bahwa Jinny adalah sosok yang sangat menarik di matanya. Tapi mau bagaimana lagi, semuanya sudah terjadi.
***
Sejak kejadian waktu itu, sebisa mungkin Jinny menghindar dari Yuda. Ia sungguh malu rasanya bila bertemu Yuda lagi. Yuda pasti akan semakin berpikir bahwa ia adalah gadis yang aneh dan mungkin tidak tahu malu. Ah memikirkannya saja membuat Jinny frustasi.
Harusnya saat menghindari Yuda, Jinny harus menghindari Sarah juga. Tapi Jinny merasa tidak enak karena berkali-kali menolak ajakan Sarah untuk mampir ke rumahnya atau makan bersama di luar. Kali ini tampaknya Jinny tidak bisa mengelak lagi karena ia secara tidak sengaja bertemu Sarah di kantor. Tampaknya Sarah datang untuk menemui Yuda. Sarah mengajak Jinny untuk makan siang bersama yang tidak bisa Jinny elakkan lagi kali ini.
Disinilah ia sekarang, berada di salah satu restoran mewah bersama Sarah. Sejujurnya Jinny selalu suka setiap kali berbincang dengan Sarah karena pembawaan Sarah yang sangat teduh, ia merasa seperti mempunyai sosok kakak yang tidak pernah ia rasakan selama ini. Tapi mengingat Sarah adalah kakak Yuda membuat Jinny harus berpikir berkali-kali untuk menganggapnya kakak. Ia sadar betul posisinya seperti apa.
"Yuda ngasih kamu kerjaan banyak banget ya sampai kamu sibuk banget?" Tebak Sarah.
"Enggak kok Mbak. Lagi akhir bulan gini emang kerjaan lagi banyak-banyaknya," kata Jinny menjelaskan. Sarah mengangguk-anggukkan kepalanya paham.
"Jinny, mbak boleh nanya gak?"
"Boleh Mbak, mau nanya apa?"
"Kamu suka sama Yuda?"
"Uhukkk... uhukkk..." seketika Jinny terbatuk-batuk karena baru saja memasukkan satu sendok penuh makanan yang belum sempat ia telan tapi sudah lebih dulu mendengar pertanyaan Sarah yang mengejutkan. Sarah yang melihat itu langsung menyodorkan Jinny minuman.
"Kamu gak papa?"
"Gak papa Mbak."
"Jadi gimana?" Jinny menggaruk tengkuknya tidak tahu harus menjawab apa. Apa Yuda menceritkan kejadian waktu itu pada Sarah? Tapi jika dilihat-lihat Yuda bukanlah orang yang mudah menceritakan hal-hal kecil seperti itu.
"Mbak ngomong apaan sih, masa iya aku suka sama bos aku sendiri."
"Memangnya apa salahnya? Kayaknya zaman sekarang gak ada lagi deh batasan jabatan gitu."
"Ya tapi tetap aja gak mungkin Mbak."
"Tapi coba jawab tanpa memikirkan jabatan kamu," kali ini Sarah terlihat serius. Jinny mengerjap-ngerjapkan matanya bingung. Jinny tampak berpikir sejenak, haruskah ia jujur pada Sarah? Tapikan orang di hadapannya ini adalah kakaknya Yuda.
"Siapa sih Mbak yang gak suka sama pak Yuda. Pak Yuda kayaknya punya semua yang dicari perempuan."
"Tuhkan bener kamu suka," kata Sarah bersemangat hingga Jinny sedikit tesentak kaget.
"Mbak dukung banget kamu sama Yuda." Pupil Jinny membesar. Apa ia baru saja mendapat restu sebelum memulai hubungan dari salah satu keluarga Yuda? Benar-benar tidak bisa dipercaya.
"Makasih Mbak dukungannya, tapi kayaknya pak Yuda gak minat deh," balas Jinny mendadak tidak semangat. Selama ini Yuda sama sekali tidak pernah memperlihatkan ciri-ciri ketertarikannya pada Jinny.
"Yuda emang gitu, dia gak akan mau mulai duluan. Jadi ya tantangannya disitu, kamu harus sabar-sabar."
"Jadi maksud Mbak aku yang mulai duluan?"
"Kayaknya zaman sekarang gak ada salahnya deh cewek yang mulai duluan. Kadang-kadang ada cewek yang memang beruntung dapatin cowok yang bisa langsung peka sama perasaannya, tapi ada juga cewek yang harus usaha buat bikin orang yang suka buat menyadari perasaannya," kata Sarah. Perkataan Sarah itu membuat Jinny tertegun sejenak. Ia malah teringat akan hubungannya dengan Bimo waktu itu. Mungkin Sarah ada benarnya. Tidak semua pria akan tahu jika tidak diberitahu langsung mengenai perasaan kita. Bukankah jatuh dalam cinta itu biasa? Makanya dikatakan jatuh cinta karena ada pontensi jatuh saat sedang merasakan cinta.
Jujur saja, belakangan ini Jinny tidak bisa berhenti memikirkan Yuda dan itu cukup menganggu pikirannya. Mungkin ia sudah terlanjur menyukai pria itu. Mendengar dukungan Sarah seperti ini rasanya membangkitkan sesuatu dalam diri Jinny.
"Gimana kalau pak Yuda malah risih?" Tanya Jinny.
"Serisih-risihnya Yuda sama kamu, dia gak akan berani apa-apain kamu. Kan ada mbak," kata Sarah.
"Aku coba deh," kata Jinny akhirnya yang membuat Sarah tersenyum sumringah. Jawaban itulah yang ia tunggu dari tadi. Sarah merasa cukup lega dan tidak sabar akan seperti apa hasilnya. Jujur saja ia sudah sangat menantikan saat-saat ini dan ternyata Jinny lah orangnya. Ia harap semuanya berjalan seperti yang mereka inginkan. Sarah ingin adiknya merasakan hangatnya cinta lagi.