Tak lama setelah Givana tertidur lumayan nyenyak Gio pun terbangun dari pingsannya,sebenarnya ia sudah tersadar sejak Givana menggenggam tangannya namun ia sudah di beritahu oleh ibunya lewat alam bawah sadarnya jika ia tidak boleh bangun dulu sebelum Givana mau menikah dengannya. Sebenarnya ia tidak mengetahui apa yang telah direncanakan orang tuanya, ia hanya diberitahu jika ia harus mengikuti jalan yang telah mereka buat untuknya dan givana.
"Maafkan aku karna telah mengikuti orang tuaku untuk menjebakmu tetapi aku harus melakukannya agar kau menjadi milikku seorang. "Kata gio dengan amat sangat lirih agar tidak membangunkan givana.
***
Keesokan harinya
Terlihat seorang gadis yang menggeliat nyaman, ia merenggangkan ototnya Yang kaku karena tertidur dalam kondisi duduk. Givana, yah gadis itu bernama givana. Saat matanya telah terbuka sempurna, ia memandang pria yang masih terbujur lemah di tempat tidur dengan pandangan yang sulit ditafsirkan.
"Haruskah aku menikah denganmu? Namun jika aku tidak menikah denganmu sama saja aku membunuhmu,dan aku tak akan sanggup menghilangkan nyawa seseorang apalagi itu disebabkan olehku" ia mengecup keningnya, lalu beranjak ke kamarnya untuk membersihkan diri.
Tanpa diketahui givana, sang pemuda itu mendengar semua yang ia katakan dan merasakan saat ia mengecup lembut keningnya. Ia adalah Gio, ia tersenyum saat mendapati gadis yang ia cintai memperhatikannya dan memperlakukannya dengan sangat manis.
***
Setelah givana keluar dari kamar mandi ia dikejutkan banyaknya orang yang berada di dalam kamarnya, ada yang membawa gaun, make up, dan masih banyak lagi.
"Kami ditugaskan oleh yang mulia Ratu untuk mendandani anda Putri, karena hari ini adalah hari pernikahan Putri dengan pangeran gio. "Jelas salah satu pelayan mengerti kebingungan givana.
"Oh... Baiklah silahkan"ucap givana kemudian mendudukkan dirinya di depan meja rias.
'Yah semoga saja aku tidak salah mengambil keputusan yang akan menghadirkan penyesalan tiada kira. Oke aku harus tenang, ini semua sudah tertulis di buku takdirku. 'Yakin givana dalam hati.
Dan secara tidak langsung ,givana akan terikat selamanya di dunia ikan itu.
~
S
K
I
P
~
Setelah selesai dengan berbagai atribut cantik yang melekat di tubuhnya. Givana di giring ke aula istana untuk acara yang akan mengikatnya dan gio. Sesampainya di aula, semua orang memandangnya tanpa berkedip seakan terhipnotis oleh kecantikan sang mempelai wanitanya. Givana berjalan menuju ke depan dengan percaya diri tanpa memperhatikan pandangan semua tamu yang mengarah padanya, yang ia pikirkan adalah semua ini harus cepat berakhir karna ia sungguh tak nyaman berada di suasana yang ramai terlebih semua tatapan mengarah padanya.
Sesampainya di depan, ia di sambut oleh calon mertuanya dan calon suaminya yang masih terbujur di atas tempat yang mirip dengan tempat tidur.
"Baiklah, apakah Putri givana siap untuk menjadi pendamping pangeran gio seumur hidup dan akan selalu Setia menemaninya apapun keadaannya? "Tanya seorang yang ia yakini adalah pendeta yang akan menyatukannya dengan gio.
"Siap"jawab givana tegas tanpa ada keraguan.
"Baiklah kalau begitu kalian akan melakukan ritual untuk menyatukan hidup kalian"katanya dan menuntun givana untuk mendekat ke tempat di mana gio berada.
"Serahkanlah tangan kiri anda Putri! "Perintahnya yang langsung givana turuti.
Setelahnya ia mengusap perlahan tangan givana atau lebih tepatnya di bagian dimana pembuluh nadinya berada, dengan menahan rasa perihnya pergelangan tangan givana mengeluarkan darah yang langsung di tempatkan ke dalam cawan kecil. Setelah di rasa cukup sang pendeta melepaskan usapannya dan secara alami luka yang tadinya terbuka dengan segera menutup tanpa meninggalkan bekas apapun. Kemudian pendeda menghampiri gio dan melakukan hal yang sama kepadanya lantas membawa 2 cawan yang berisi darah mereka.
"Putri inilah yang dinamakan Batu kehidupan, saya akan mengalirkan darah kalian dari sisi yang berbeda pada ukiran yang berbentuk hati ini. Saat darah kalian bertemu di ujung garis ini berhenti, maka keajaiban akan terjadi"jelas pendeta yang kemudian menuangkannya di ukiran itu.
Saat kedua aliran darah itu bertemu, kejadian yang tak terduga terjadi.
***