Bab 10. Aku Merindukanmu!

1175 Kata
Keadaan Arden dan Nara kian pulih, walau belum seratus persen. Namun, tugas mereka membawa Nara ke Nirvana tidak bisa ditunda terlalu lama. Mengingat Nara mulai menampakan perubahan pada rambutnya. Mengingat berlian lotus sangat riskan untuk hancur. “Keberadaan kalian di pack-ku sudah diketahui orang-orang Kreon. Raja tamak itu pasti akan mencari kalian kemari,” Alpha King menatap para pengembara yang sudah bersiap akan pergi. “Kami akan menahan mereka di perbatasan timur, kalian lebih baik melewati jalur barat, sesuai dengan tujuan kalian bukan? Ujung dunia?” Sha Arden tersenyum. “Terimakasih atas bantuanmu, Alpha. Dan juga telah membiarkan kami singgah di Goldenmoon Pack yang asri. Kami telah berhutang budi.” Alpha King menggeleng kuat. Ia menghampiri Arden. “Tidak, akulah yang berhutang pada kalian. Jika saat itu kalian tidak ada, saudaraku mungkin sudah tewas di tangan para rogue.” “Kami hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan, Alpha.” Mengingat sesuatu Alpha menjentikan jarinya. “Tujuan kalian selanjutnya ke Rawa Hades bukan?” Mereka mengangguk. “Di sana tempat para penyihir hitam berada. Kalian membutuhkan seseorang yang sepadan dengan mereka.” Alpha Goldenmoon Pack memejamkan mata. Beberapa saat muncul seseorang bertubuh pendek dengan jubah putih pajang di samping Alpha secara ajaib. “Salam Alpha King!” Orang itu memberi salam dan tersenyum pada para pengembara. Alpha tersenyum cerah pada orang yang baru tiba. “Perkenalkan ini penyihir putih tingkat elder, Lucy Dia yang selama ini berjasa menjaga pack-ku tetap aman dan damai. Biar Nako yang akan membantu kalian di perjalanan nanti.” *** Menunggu adalah hal yang sangat dibenci Emily. Perempuan assassin itu mengupas apel dengan pisau kecil miliknya. Sebagai seorang assassin, ia memiliki banyak senjata tajam dan mematikan, mulai dari jarum sampai tombak. Sedang sekarang ini ia hanya membawa beberapa yang penting saja. Hampir seminggu ini Emily mengamati, tapi tidak ada kelompok lain yang memasuki Hutan Terkutuk kecuali orang-orang yang bertarung melawan rogue waktu itu. Kesimpulannya, memang merekalah orang yang dimaksud si penyihir Lim. “Hm, berapa lama lagi aku harus menunggu mereka? Tidak mungkin aku masuk ke Goldenmoon Pack,” monolognya. Alpha King pasti akan mengenalinya dengan mudah dan membunuhnya, walau ia tidak tahu alasan mengapa ia akan dibunuh. “Lucy, kau serius seumuran dengan Putri Nara?” Terdengar suara sayup-sayup di telinga Emily. “Iya, apa tidak terlihat?” “Tentu saja, siapapun akan mengira kau masih anak-anak.” “Itu berarti kau mengataiku tua Naga Egan?!” “Oh, tidak-tidak Tuan Putri....” “Huh!!” Mendengar percakapan itu Emily segera melompat ke atas pohon. Tatapannya menelisik pada orang-orang yang baru tiba. Tidak salah lagi mereka para pengembara waktu itu. Perempuan assassin mulai mengamati. Ada si penyembur api, penembak sisik, kucing seperti berbulu jahe, gadis yang tidak melakukan apa-apa, juga orang baru dengan tubuh tidak terlalu tinggi. Semuanya masih menggunakan jubah bertudung menyembunyikan wajah mereka, menyebalkan. Mengingat pertarungan terakhir mereka si Penyembur apilah yang paling parah terkena serangan. Untuk melakukan aksinya, ia akan menyerang anggota yang terlemah dahulu. Emily telah bersiap dengan pisaunya. Tudung telah ia pakai, dengan begitu tubuhnya melesat menuju si Penyembur api. CRING!! Pisau tajam beradu dengan lengan seseorang yang bersisik. Tunggu dulu, bersisik? Emily mendengus saat targetnya ternyata dilindungi. Sejak kapan naga ini peduli, terakhir kali ia melihat si Naga begitu kontra dengan si Penyembur api. Emily segera melompat ke belakang. Para pengembara telah bersiap dengan posisi masing-masing. Mata assassin mengerling ke segala arah. Banyak pohon di sekitar sini. Tangan Emily perlahan menuju ke belakang untuk mengambil beberapa senjata besi berbentuk bitang. Begitu gesit ia melemparkannya pada satu titik pohon di sebelah kanan. Sesuai rencana, saat perhatian mereka teralih Emily segera melompat tinggi dan melemparkan bom asap berwarna hijau. Dari atas sini terlihat targetnya ada di belakang tanpa seorangpun yang menjaga. Ia mulai tersenyum miring. Perempuan itu segera melesat dengan pisaunya. Si Penyembur api ternyata memiliki refleks yang bagus. Tubuhnya berusaha menahan serangan Emily dengan lengannya, membuat tubuhnya yang masih terluka mundur dan terjatuh. Ah, sial! Sedikit lagi pisau itu menancap di lehernya. Asap hijau mulai menghilang dengan bantuan elemen angin milik Lucy. Semuanya dapat melihat dengan jelas tak terkecuali perempuan assassin yang suskses dibuat terkejut. Tangan Emily yang masih berusaha menekan pisau dalam keadaan menindih si Penyembur api perlahan menjadi kebas dan bergetar. “Tidak mungkin ...” ucapnya bergetar. Wajah sang warrior begitu nyata di mata assassin. Bagaimana netra cokelat yang besar, hidung, bibir, semuanya terlihat sama. Mata Emily berkaca-kaca dan mulai meneteskan air mata. Pisau yang berada di tangannya terjatuh. Energinya mendadak menghilang. “Samuel?” cicitnya dengan suara parau. “Aku merindukanmu!” Arden mengerjap. Ia sedikit meringis merasakan nyeri di tubuhnya. Assassin yang tadi hampir membunuhnya masih berada di atas tubuhnya. Arden memberi tatapan bingung. “Apakah kita pernah bertemu?” Mendengar perkataan Arden seakan menyadarkannya pada kenyataan. Secercah harapan lenyap hanya menyisakan rasa sakit, bagaimana sebutir air mata mulai mengalir. Ia menarik tubuhnya bangkit, diikuti oleh Arden. “Ekhem!” Egan berdeham. Naga itu sudah bersiap dengan sisiknya untuk menembak si penyerang. Mata Egan mengerling pada Arden yang kini di bahunya bertengger Maru dan kembali menatap Emily. “Katakan padaku apa tujuanmu menyerang kami?!” Tidak ada jawaban. Nara di sebelah Lucy sedikit mendekat. Ia mengamati dari atas kepala sampai kaki sosok Emily. “Dia seorang assassin!” Emily menutup mata sekejap dan menghembuskan napas. Ia mulai menatap orang-orang di depannya satu persatu. Wajah mereka kini terlihat dengan jelas. Bagaimana takdir seakan mempermainkannya. Mereka begitu mirip dengan orang-orang terdekatnya di Bumi, bahkan sosok berambut merah terlihat mirip dengan Naha. Tidak mungkin ‘kan selama dus tahun ini ia hanya bermimpi? “Mengapa tadi kau seperti mengenaliku?” Arden bertanya dengan kerutan di dahinya. Emily tergagap. Walau wajah mereka mirip bukan berarti mereka orang yang sama, buktinya si penyembur api tidak mengenalnya. Ia begitu ceroboh sampai terbawa suasana. “A-aku salah orang, maaf!” ungkapnya. “Tidak percaya!” Egan masih dengan lengannya tetap siaga siap menembakkan sisiknya. “Kau assassin, apa misimu? Siapa yang membayarmu? Apa tujuanmu? Oh, atau kau seorang mata-mata?!” “Tapi aku tidak merasakan sihir di tubuhnya,” Lucy mengamati sambil menyentuh dagu. “Assassin terkenal dengan kemampuan membunuh tanpa jejak dan sihir hitamnya.” “Bisa saja dia menutupinya. Bukankah ada sihir yang seperti itu?” timpal Egan. “Memang ada, tapi sesama penyihir kita akan saling merasakan walau menutupinya dengan cara apapun.” “Tapi tetap saja dia telah melihat wajah kita semua!” Egan berdecih. Ia memutuskan untuk menembakan satu sisik kecil menembus leher Emily dan bersemayam di sana. “Akhh!” Perempuan assassin mencengkram lehernya sendiri yang tiba-tiba terasa panas bukan main. Tubuhnya ambruk dengan lutut sebagai penyangga. Ia menunduk menatap tanah. “Apa yang kau lakukan?!” Arden terlihat panik. Egan terkekeh. “Aku hanya menandainya agar tidak kabur. Dia sekarang menjadi tahanan kita. Jika mencoba kabur sisikku akan melukainya. Kau dalam pengawasan kami Assassin!” Emily mendongak menatap warrior yang juga tengah menatapnya. Ini memang tujuannya agar bisa mendapatkan dua pusaka dan kembali ke Bumi. Hanya saja selalu berdekatan dengan orang yang mirip Samuel akan membuatnya semakin tersiksa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN