“Karena aku memcintaimu!” Begitulah kalimat yang saat ini terpantri di dalam kepala Arden. Ia membayangkan berkata dengan sangat tegas di depan wajah Emily, tapi yang terjadi malah sebaliknya. Laki-laki tersebut hanya bisa terdiam dengan tangan yang masih mencekal lengan Emily. “Mengapa kau bersih keras sekali?” Robin memutar bola matanya. Arden ini, padahal Emily sudah akan pergi dan membiarkan Robin bercerita, tapi malah semakin ditahan. Sebenarnya Robin tidak masalah cerita ini akan didengar siapapun, tapi ia tidak mengira Arden akan memasukan Emily ke dalam satu-satunya orang yang mendengarkan masa lalunya. “Baiklah, terserah kau sajalah Arden.” Emily pun memghela napas dan kembali duduk ke tempatnya semula. Ia memperhatikan Arden yang tersenyum puas padanya. Rasanya menjadi canggung

