Laura sedang membaca sebuah buku di dalam kamarnya. Meski tangannya memang tengah memegangi sebuah buku dalam keadaan terbuka, tapi rupanya tidak dengan pikirannya. Pikirannya tidak berpusat pada buku itu melainkan pada sesuatu. Jika melihat dari rona merah di wajah Laura sepertinya sesuatu yang sedang memenuhi pikirannya itu adalah seseorang. Sesekali dia tersenyum seolah tengah membayangkan sesuatu yang indah dan tak lama kemudian dia menggelengkan kepala berusaha membuyarkan semua lamunannya. “Uh, ada apa denganku? Kenapa wajah pria itu terus terbayang? Aku belum pernah mengalami kejadian seperti ini. Ayolah, Laura ... lupakan dia. Lupakan dia,” gumamnya seraya tangan menepuk-nepuk kepalanya sendiri. “Tapi siapa ya pria asing itu? Aku harap besok pagi ketika aku mengunjunginya, di

