Rowan menunggu cukup lama di ruang makan, tapi sosok yang ditunggunya tidak juga menampakan diri. Akhirnya dia beranjak bangun dari kursi yang sejak tadi didudukinya. Dia hendak mendatangi kamar Cliff, putranya yang sejak tadi dia tunggu. Begitu pintu kamar terbuka, terlihatlah sosok Cliff yang tengah duduk termenung di ranjang tak ayal membuat rasa heran memenuhi batin Rowan. Menurutnya tidak biasanya putranya itu bersikap murung seperti itu, dia tidak ceria seperti biasanya. Menyadari ada sesuatu yang aneh dengan Cliff, Rowan pun memilih untuk menghampirinya. “Kenapa tidak pergi ke ruang makan? Apa kau tidak lapar?” Cliff mendongak ke arah pemilik suara yang menegurnya, dia tersenyum tipis ketika melihat sosok ayahnya berdiri di hadapannya saat ini. “Aku tidak ingin meminum darah i

