Seorang wanita turun dari mobil, melepas kacamata hitamnya dan menaruhnya di atas kepalanya. Ia menatap rumah sakit di depannya. Setelah beberapa saat, ia masuk ke dalam rumah sakit penuh percaya diri. Kaki jenjang yang dibalut skinny jeans itu melangkah anggun. Orang-orang yang ada di lobi langsung mengarahkan pandangan kepadanya sesaat setelah ia masuk melalui pintu kaca rumah sakit. Mengindahkan tatapan- tatapan itu, ia pergi menuju lift dan naik ke lantai atas.
Ia menatap nomor ruangan perawatan yang ada di depannya, setelah memastikannya, ia masuk ke dalam ruangan tanpa mengetuk. Ia melihat perawat sedang mengganti botol infus si pasien yang sudah habis. Wanita itu dan tatapannya langsung bersirobok dengan si pasien. Keduanya terdiam hingga akhirnya perawat keluar dari ruangan.
“Bagaimana rasanya jadi orang yang dibenci semua orang?” wanita itu duduk di sofa tak jauh dari ranjang dan menatap Sandra lekat- lekat. Sandra terdiam, ia menatap Priska dengan senyum mengejeknya.
“Komentar- komentar itu bahkan bisa membawamu masuk rumah sakit.” Kata Priska, “aku turut prihatin.” Katanya lagi. Sandra masih terdiam, ia hanya menatap Priska yang tampaknya punya banyak hal yang ingin ia bicarakan dengannya.
Priska berdiri lalu mendekat, “Lepaskan Samuel saat aku meminta baik- baik.”
“Kenapa tidak kamu yang melepaskannya. Kamu tidak mencintainya, kenapa bersikeras bersamanya?” Ucap Sandra.
Priska tersenyum sinis, “Aku mungkin tidak mencintai Samuel, tapi pria itu milikku. Aku tidak akan pernah melepaskan dengan alasan apapun.”
“Kenapa? Kenapa kamu tidak membiarkan dia bahagia?” sentak Sandra.
“Silahkan suruh Samuel menceraikanku. Ayo kita buktikan siapa yang akan kalah.” Priska membalik badan dan bergerak menjauhi Sandra.
“Aku tidak akan menyuruh kamu menceraikannya, tapi biarkan Samuel bersamaku. Biarkan kami seperti sebelumnya.” Priska yang hampir mencapai pintu berhenti lalu berbalik dan kembali mendekat.
“Setelah semua yang terjadi, kamu masih tidak mau melepaskannya?” Priska tak mengerti jika Sandra begitu bersikukuh mempertahankan hubungan terlarangnya dengan Samuel.
“Aku akan memberikan apapun yang kamu minta asalkan aku bisa bersama Samuel.” lirih Sandra
Priska menatap Sandra penuh amarah, ia hampir mendaratkan telapak tangannya pada pipi Sandra jika tak ada tangan lain yang menahannya.
“Lepaskan.” Priska menarik paksa tanggannya dari genggaman Petra.
“Silahkan pergi sebelum aku memanggil keamanan.” Petra bisa melihat bias kebencian dalam tatapan wanita itu. “kamu baik- baik saja?” tanyanya pada Sandra yang langsung mengangguk.
“Kamu harus tahu bahwa kamu begitu menjijikkan. Kamu tak lebih dari perempuan murahan. Ingat perkataanku, lepaskan Samuel selagi aku memintanya baik- baik. Atau kamu akan menyesal.” Priska berbalik, mendorong bahu Petra dengan bahunya lalu menghilang di balik pintu.
“Terima kasih.” Kata Sandra pada Petra, pria itu hanya mengangguk lalu mengambil minuman di atas meja dan memberikannya pada Sandra.
“Benar kata wanita itu, aku memang perempuan murahan.” Lirih Sandra, “bagaimana mungkin aku masih bersikukuh bersama Samuel setelah semua yang terjadi.” Sandra tertawa sumbang. Tak mengerti dengan jalan pikirannya sendiri.
“Bukahkan seharusnya aku meminta maaf pada wanita itu dan melepaskan Samuel?” Katanya lagi, menatap Petra yang sudah duduk di sofa.
“Hanya kamu yang paling mengerti perasaanmu sendiri.” Jawab Petra.
Jika Priska mau melepaskan Samuel, ia akan melakukan apapun yang diminta wanita itu, bahkan jika wanita itu ingin ia bertulut di bawah kakinya, Sandra akan melakukannya. Demi apapun, sedetik pun, Sandra tak pernah membayangkan hidup tanpa pria itu.
Keduanya teralihkan oleh pintu yang dibuka dengan sangat keras.
“Aku bertemu Priska di lift.” Kata Kara dengan nada terengah- engah. “kamu tidak apa- apa?” ia mendekat ke arah sandra yang langsung mengangguk.
“Apa yang dia katakan?” tanya Kara lagi.
Kara melihat wanita itu menghela napas, “dia memintaku melepaskan Samuel.” Jawab Sandra. Kara terdiam. Bingung mau menanggapi permasalahan itu seperti apa. Ia memilih memeluk sahabatnya.
***
“Kalau Samuel tak mencintainya, kenapa ia tak menceraikannya saja.” Ucap Petra saat mereka duduk di depan ruang perawatan Sandra, di lorong rumah sakit.
“Samuel dan Priska membuat perjanjian pranikah, mereka yang menggugat cerai harus rela memberikan semua hartanya, termasuk harta bersama kepada orang yang di gugat. Kecuali jika keduanya sama- sama sepakat untuk bercerai, harta gono- gini akan diurus sebagai mana mestinya.” Jelas Kara. “bukankah wanita itu licik? Dia tahu Samuel tidak akan bisa menolak perjodohan mereka, sehingga ia memaksa Samuel untuk menandatangani perjanjian itu.”
“Sebelum ibunya meninggal, ibunya ingin melihat Samuel menikah. Beliau lalu menjodohkan Samuel dengan anak salah satu sahabatnya. Itu adalah alasan Samuel tak bisa menolak perjodohan itu.” Cerita Kara.
“Bukankah pernikahan itu rumit? Itu adalah alasan kenapa aku tak mau menikah.” Kata Kara. Ia menunduk dan menautkan jari- jarinya.
“Tapi, banyak juga pernikahan yang bahagia.” Ucap Petra. Kara menengadah.
“Seperti pernikahanmu?” Kara tersenyum menatap Petra yang mengangguk. “ceritakan tantang Kamila. Aku melihat foto kalian saat menginap di rumahmu. Dia cantik.” Puji Kara dengan tulus.
“Ya... dia cantik, baik, periang, pintar dan begitu tulus.” Petra tersenyum. Kenangan mengenai Kamila kembali terbayang dalam pikirannya. Dadanya menghangat seketika. Senyum wanita itu memenuhi pikirannya.
Kara tersenyum sumir. Ia menatap Petra yang pikirannya telah melayang ke masa lalu. Ia tahu bagaimana pria itu mencinta Kamila, dan sepertinya Kamila masih mengisi seluruh ruang di hatinya. Bersediakah Petra menyisihkan sedikit ruang untuknya?
Pada kenyataannya ciuman pria itu beberapa hari yang lalu tak menegaskan apapun. Mereka hanya selangkah lebih dekat namun sama sekali tak ada pernyataan cinta dari pria itu. Bisakah Kara mengambil hati Petra saat seluruh hatinya sudah diberikan pada Kamila.
***
Karin tengah mengurus adminstasi untuk kepulangan Sandra sementar Kara membantu wanita itu mengemasi barang- barangnya. Sandra keluar dari toilet setelah berganti pakaian tepat saat Karin kembali ke ruang perawatan dengan beberapa lembar kertas dan plastik berisi obat. Gadis itu memberikannya pada Sandra yang langsung mengucapkan terima kasih.
“Petra sudah menunggu di lobby.” Kata Karin. Ketiganya berjalan beriringan menuju lantai dasar rumah sakit. Ketiganya keluar dan langsung melihat mobil Kara di depan pintu besar transparan itu. Petra keluar dari mobil dan membantu Karin membawa barang milik Sandra dan menaruhnya di bagasi mobil. Kara dan Sandra melesak di bangku belakang sedangkan Karin masuk ke kursi di samping Petra.
Petra menyelakan mesin, menekan pedal gas hingga empat roda mobil itu berputar membelah jalanan. Karin menyetel musik dengan sebelah tangannya saat menyadari suasana di dalam mobil begitu hening.
Kara menatap Sandra yang melempar pandangannya keluar jendela. Sandra menatap mobil- mobil yang memadati jalanan. Ia melipat kedua tangannya di depan d**a dan melihat orang- orang yang berjalan santai di trotoar. Mereka tampak biasa- biasa saja. Sandra tahu bahwa hari ini, bukan hanya dirinya yang sedang diuji. Semua orang tengah diuji dengan kesulitan masing- masing. Tak ada orang yang benar- benar tengah berbahagia. Mereka mungkin tersenyum, tapi ia tak pernah tahu ada masalah apa dibalik senyum- senyum itu. Mareka hanya berlomba- lomba menyembunyikan masalah dan kesakitannya dengan seulas senyum. Sama seperti dirinya.
Petra menghentikan mobil di parkiran apartemen Sandra. Pria itu membuka bagasi dan mengambil tas yang ia taruh di sana dan mengekori Sandra, Kara dan Karin masuk ke dalam apartemen.
Sandra menempelkan kartu akses pada platform magnet yang ada di pintu. Setelah bunyi klik terdengar, tangannya menekan handle, pintu terbuka dan keempatnya masuk ke dalam apartemen itu.
“Aku akan kembali bekerja besok.” Kata Sandra saat ia dan ketiganya duduk di ruang tamu.
“Jangan, istirahat saja dulu. Karin bisa membantu mengambil dokumen- dokumen yang perlu kamu tanda tangani.” Kata Kara, Karin mengangguk setuju. Ia ingin memberitahu sahabatnya bahwa semuanya telah berubah dan pilihan terbaik adalah tepat di berada di rumah.
Sandra tersenyum sumir. “Aku akan baik- baik saja.” Sandra meyakinkan kedua sahabatnya. “aku tidak bisa terlalu lama meninggalkan pekerjaannku.” Lanjutnya.
Kara menggeleng cepat, tak setuju dengan ide Sandra. “Tetaplah di rumah. Kamu harus menunggu sampai keadaan bisa dikendalikan.”
“Tidak apa- apa. Sekarang atau nanti, aku harus tetap menghadapinya.” Kata Sandra.
***
Sandra sudah rapi pagi- pagi sekali. Ia menatap pantulan dirinya di cermin besar di kamarnya. Ia menatap dirinya dalam balutan blouse berwarna putih dengan celana bahan. Ia menggerai rambutnya dan mengambil sebuah high heels di rak yang ada di samping lemari.
Ia menatap dirinya dari atas sampai bawah lalu menarik napas panjang- panjang. Semua akan baik- baik saja. Katanya dalam hati. Ia sadar ia harus menyibukkan diri untuk melupakan semua yang orang katakan padanya. Ia tak ingin hanya berdiam di rumah dengan komentar orang- orang yang memenuhi isi kepalanya. Bekerja adalah jalan keluar satu- satunya.
Setelah memastikan tak ada yang tertinggal, ia mengambil tas dan kunci mobilnya di atas meja rias dan keluar dari apartemennya. Ia menyusuri jalanan yang tak terlalu padat. Ia menyetel lagu kesukaannya untuk menaikkan moodnya. Berkali- kali ia menghela napas kasar hingga sampai di kantornya kurang dari satu jam.
Semua karyawan menyambutnya seperti biasa. Semua tersenyum padanya seakan tak terjadi apa-apa, tapi Sandra sadar bahwa mereka kini menatapnya dengan tatapan berbeda. Tatapan kasihan, benci juga jijik. Sandra mencoba tak mengambil kesimpulan sendiri, ia masuk ke ruangannya dan kembali berkutat dengan segudang pekerjaan yang sudah menunggunya.
Sandra hanya keluar ruangan saat perlu ke kamar kecil. Ia memesan makan siang dan baru memakannya pukul empat sore. Sandra benar- benar tak melepaskan fokusnya dari berkas- berkas di atas meja dan juga komputer di depannya. Ia sama sekali tak menggunakan internet selain untuk berkirim email. Ia tak mencoba mencari tahu apa yang sedang hangat di media sosial hari ini. Apakah dirinya masih terus diberitakan karena tak juga memberikan klarifikasi. Apa dirinya masih menjadi sandaran empuk hujatan netter. Sandra berharap ia bisa melupakan semuanya hingga berita mengenai dirinya benar- benar mereda.
***
Sandra keluar dari ruangannya saat jam menunjukkan pukul tujuh malam. Ia berjalan menuju parkiran dan berhenti di depan mobilnya. Ia menggertakkan giginya saat melihat kaca depan mobilnya di tutupi sebuah kertas berukuran bersar bertuliskan perusak rumah tangga orang. Wanita itu menghela napas, mencoba meredam amarahnya lalu merobek kertas itu hingga tiba- tiba sesuatu mengenai punggungnya.
Sandra menoleh tepat saat sebuah telur mengenai kepalanya dan pecah mengotori sebagian wajahnya. Ia menatap seorang wanita yang sedang berboncengan motor tak jauh dari tempatnya berdiri.
“Kamu seharusnya malu!!!” Teriak wanita itu. Sandra hendak melawan saat motor itu meninggalkannya dan melaju dengan kencang. Sandra sadar beberapa pasang mata di sekitar menatapnya. Ia mengambil kulit telur yang masih tertinggal di rambutnya lalu masuk ke dalam mobil dan kembali ke apartemennya.
***
Kinan duduk di sebuah meja dengan secangkir kopi di atas meja. Ia menatap laporan penjualan di laptopnya. Ia menguap dan merenggangkan tubuhnya yang terasa pegal. Sebelah tangannya mengambil ponselnya di atas meja. Jarinya bergerak untuk membuka media sosialnya.
Matanya terpaku saat sebuah akun gosip mengunggah sebuah video dengan wajah orang yang sangat ia kenal. Ia mengulang video itu dua kali hanya untuk memastikan bahwa benar Sandra yang ada dalam video itu.
Wanita itu menutup mulutnya yang terbuka saat melihat video itu. Tidak menyangka Sandra akan mengalami hal seperti itu. Ia memasukkan ponselnya ke tas lalu berjalan cepat keluar dari ruangan dan keluar dari butiknya. Ia merogoh tasnya untuk mengambil kunci mobilnya. Ia masuk ke mobilnya dan memutar kemudianya menuju apartemen Sandra.
TBC
LalunaKia