CHAPTER TUJUH

2203 Kata
            Hari itu juga, Kara, Karin dan Petra pergi ke pusat perbelanjaan. Kara masuk ke sebuah butik yang menjual khusus pakaian pria. Karin dan Petra mengekor dari belakang. “Pilihlah pakaian- pakaian yang kamu butuhkan.” Kata Kara. Ia duduk di kursi di depan ruang ganti yang disediakan sementara Petra mengambil dua potong masing- masing kemeja, jas, kaos dan juga celana.             “Hanya itu?” tanya Kara. Ia melihat pria di depannya mengangguk pelan. Ia melirik Karin yang sedang menerima telepon tak jauh dari tempatnya.             Kara menghela napas lalu mengampiri deretan jas yang ada di sana. Ia menggerakkan sebelah tangannya untuk memilah- milah jas- jas yang tergantung di depannya. Setelahnya, ia mengambil beberapa potong jas dan memberikannya pada pelayan yang mengekorinya di belakang.             “Tolong carikan ukuran yang sesuai dengannya.” Katanya pada pramuniaga yang langsung mengangguk. Ia beralih ke tumpukan kemeja. Ia juga mengambil beberapa potong kemeja yang terdiri dari lengan pendek dan lengan panjang dan kembali menyuruh pelayan untuk mencarikan ukuran yang pas di tubuh Petra. Ia melakukan hal serupa dengan celana yang terpajang di sana.             Barang- barang pilihan Kara menghasilkan tujuh buah kantong. Petra bersikeras bahwa jumlah yang Kara beli untuknya terlalu banyak. “Tidak… itu tidak banyak. Kamu tidak mungkin bisa hanya punya dua potong setelan.” Kata Kara sambil keluar dari butik dan beralih ke toko sepatu.             Kali ini Karin yang memilihkan sepatu karena Petra bersikeras hanya membutuhkan dua pasang sepatu. Kara bersidekap dan duduk di sebelah Petra yang sedang mencoba sepatu yang dipilihkan Karin.             “Kamu akan banyak muncul di kamera. Kamu harus selalu terlihat rapi.” Kata Kara. Petra tak membantah lagi. Ia mengambil semua pilihan Karin setelah pelayan mencari ukuran yang pas untuknya.               Ketiganya kembali ke rumah setelah mendapatkan semua yang Petra butuhkan. Petra menempati satu kamar di dalam rumah itu. Kamar yang tak terlalu besar namun cukup nyaman. Petra tak tahu keputusaannya tepat atau tidak, tapi ia yakin, Kara akan membawanya ke tujuannya.             Jam menunjukkan pukul sembilan saat Petra masih mengamati cctv di ruang security. Kara dan Karin sudah menceritakan kejadian apa yang menimpa Kara akhir- akhir ini sehingga Petra mulai memulai penyelidikannya dari ruang cctv itu. Seperti yang Karin bilang, orang yang membawa paket dan orang yang melempar batu memang tak bisa didentifikasi. Orang itu berpakaian serba hitam lengkap dengan topi dan masker, juga plat motor yang ternyata palsu.             “Kamu merasa punya musuh?” tanya Petra pada Kara yang malam itu masih ada di ruang tamu, sedangkan Karin yang duduk di bar dapur hanya mendengarkan sambil fokus ke laptopnya.             Kara menatap pria di depannya baik- baik. Ia menyuruh pria itu duduk dan berbicara.             “Banyak, setelah kejadian kemarin, aku pikir aku punya cukup banyak musuh.”             Petra menatap Kara tajam, seakan menyuruh Kara menjelaskan omongannya. Tapi Kara berdecak, “Kamu tidak perlu mengurusi itu. Kamu hanya perlu mengawalku. Biarkan itu jadi urusan polisi.” Kata Kara.             Karin yang berada tak jauh dari sana membalik kursinya dan mengangguk, “kamu hanya perlu menjaga agar Kara tidak terluka sedikitpun.”             Petra berpikir sebentar. Benar kata gadis itu, ia adalah pengawal, bukan polisi apalagi detektif.             Pintu terdengar diketuk pelan dan tak lama dua orang sosok yang sudah sangat dikenal Kara muncul dibalik pintu. Sandra dan suaminya yang juga seorang pengacara.             Kara dan Karin bercerita bergantian mengenai hal yang terjadi akhir- akhir ini pada Samuel, suami Sandra.             “Aku dan Karin berpikir bahwa itu mungkin Pak Hendrawan.” Kata Kara, “Koran ini selalu menjadi pembungkus dan ada di mobil malam itu.” Kara menunjukkan koran- koran itu pada Samuel.             Samuel tampak berpikir.             “Bukan dia.” Semua mata menatap ke arah Petra.             “Kalau memang dia yang melakukannya, tidak mungkin dia meninggalkan jejak yang begitu terlihat.” Jelas Petra yang langsung membuat Samuel mengangguk setuju.             “Benar juga. Mereka tidak mungkin meninggalkan jejak yang begitu jelas.” Kata Samuel.             “Itu karena dia tahu bahwa koran- koran ini tidak akan cukup menyeretnya ke pengadilan. Dia jelas ingin aku tahu bahwa ia pelakunya.” Kata Kara.             Kara akhirnya menceritakan kembali masalahnya dengan Hendrawan. Kara menggeleng diakhir ceritanya, “Kalau dia punya kekuatan untuk memakanku hidup- hidup saat itu juga, dia pasti akan melakukannya.” Kara melipat keduanya tangannya didepan d**a dan bergidik tiap kali mengingat kejadian itu.             “Tapi benar seperti yang kamu tahu, kita tak bisa menyerahkan ini untuk mencurigainya. Bukti- bukti ini tak cukup kuat untuk di bawa ke kantor polisi.” Kata Samuel dan Kara menggangguk mengerti.   ***               “Hei, darimana kamu mendapatkan pengawal itu?” tanya Sandra sambil melirik Petra yang duduk tak jauh dari tempat duduknya. Keduanya memutuskan untuk makan diluar sementara Karin sedang pergi ke supermarket untuk belanja bulanan.             “Karin yang mencarinya.” Kara memotong steaknya dan memasukkan potongannya ke dalam mulut. Ia melirik Petra sekilas yang tampak memperhatikannya.             “Selera Karin memang tidak perlu diragukan.” Sandra berdecak sambil tersenyum. “Bukankah dia terlalu tampan untuk jadi seorang pengawal. Kamu harusnya mencari seseorang yang berwajah sedikit garang.” Kata Sandra lagi. Kara menoleh pada Petra lalu mengangkat bahu.             Keduanya melanjutkan makannya hingga isi piring keduanya kosong. Kara menyesap isi gelasnya dan melihat Sandra yang juga melakukan hal yang sama. “Ayo pulang.” Kata Sandra. Kara mengagguk setuju. Setelah menyelesaikan pembayaram, keduanya berpisah. Sandra menyetop taksi untuk kembali ke apartemennya, sedangkan Kara dan Petra kembali ke rumah dengan mobil.             “Kenapa kamu memilih pekerjaan ini?” tanya Kara dalam perjalanan. Petra melirik Kara yang duduk di belakang dari kaca spion lalu menjawab,             “Aku butuh uang.”             “Apa pekerjaanmu sebelumnya?” tanya Kara lagi.             “Aku menolak untuk menjawab.” Kara yang sedang memainkan ponselnya langsung mengangkat wajahnya. “Aku sudah menceritakan pada Karin saat wawancara, aku menolak menceritakannya kembali.” Lanjut Petra.             Kara berdecak lalu melempar pandangannya keluar jendela. Jalanan masih begitu ramai, lampu- lampu kota mulai benderang saat malam. Kafe dan kedai- kedai di pinggir jalan tampak ramai. Dulu, keramaian kota tampak begitu mengerikan baginya, sekarang, tampak begitu indah. Lampu- lampu berpendar, gerombolan orang bercakap- cakap, orang- orang tertawa, tersenyum, tanpa beban.             “Tolong berhenti di salah satu minimarket.” Kata Kara. Petra mengangguk dan menghentikan mobilnya di sebuah minimarket sebelum komplek perumahan Kara.             Kara keluar dari mobil dan masuk ke dalam minimarket. Petra mengikutinya di belakang. Kara langsung menuju rak mie instan cup yang disejajarkan dengan cup kopi instan dan dipisahkan oleh dispenser ukuran besar. Kara berdiri di sana lalu memilih satu cup mie instan dan membukanya lalu mengisinya dengan air panas yang ada di dispenser.             “Kamu mau?” tanyanya pada Petra yang menggeleng.             “Bukankah kamu barusaja makan steik?” tanya Petra.             “Memangnya kalau habis makan steak, tidak boleh makan mie instan lagi?” Kara menoleh pada Petra lalu tersenyum. “salah satu yang membuat banyak perempuan iri padaku adalah aku bisa makan apa saja yang aku mau tanpa takut gemuk.” Jawabnya. Ia lalu beralih ke rak minuman dan mengambil dua kaleng minuman dan membawanya ke kasir.             Setelah membayar, Kara memberikan satu kaleng minumannya pada Petra dan duduk di meja yang disediakan minimarket.             Kara membuka penutup mie instannya dan asap langsung menguap dari dalam. Ia mengaduk dengan garpu yang disediakan di dalamnya dan meniupnya pelan lalu memasukan suapan pertama ke mulutnya.             “Aku bingung kenapa banyak orang yang memilih narkoba sedangkan mie instan saja sudah bisa membuat kecanduan.” Kata Kara. Petra yang mendengarnya tersenyum tanpa sadar.             “Senyum mu manis.” Kata Kara. Dan Petra langsung mengubah ekspresi wajahnya.             “Harusnya pencipta mie instan mendapatkan penghargaan nobel.” Kata Kara di sela- sela makannya,             Petra menatap gadis di depannya lalu menatap sekeliling. Siapa yang menyangka bahwa gadis yang sedang makan mie instan cup di depan sebuah minimarket dipinggir jalan ini adalah seorang artis. Petra tersenyum simpul, melihat Kara begitu menikmati mie instannya.             Petra kembali ke mobil dan kembali dengan sekotak tisue lalu menaruhnya di meja. “Terima kasih.” Kata Kara.             “Karin sudah kembali dari supermarket?” tanya Kara. Petra mengangkat bahu.             “Dia tidak menghubungimu?” Petra lagi- lagi menggeleng.             “Aneh sekali, aku pikir dia menghubungimu karena ponselku mati.” Kata Kara. “Dia tidak mengirim pesan padamu sejak kita keluar dari rumah?” tanya Kara lagi.             “Tidak.”             “Sepertinya dia percaya padamu. Biasanya dia cerewet sekali.”             “Dia tidak menghubungiku karena aku tidak punya ponsel.” Jawab Petra. Kara terdiam lalu menatap Petra dengan tatapan menyelidik.             “Kamu serius?” tanya Kara. Petra mengangguk.             “Kenapa?” tanyanya lagi sambil mengusap bibirnya dengan tisu, masih menatap Petra penuh selidik.             “Karena aku tidak membutuhkannya.”             Kara berdecak tak percaya. “Ini tahun dua ribu dua puluh dan kamu tidak punya ponsel? Bagaimana keluarga menghubungimu?”             “Tidak ada yang akan menghubungiku. Makanya aku merasa tidak membutuhkannya.”             Kara bedecak lalu menggeleng- gelengkan “Siapkan telingamu, Karin akan mengomel saat kita sampai di rumah.”   ***               Dan dugaan Kara benar. Karin memberondongnya dengan pertanyaan sesampainya ia di rumah. Karin memang menjadi sangat sensitif karena kejadian akhir- akhir ini.             Kara akhirnya memeluk Karin dengan erat untuk membuat gadis itu berhenti mengoceh. Karin mengembuskan napas kasar lalu mengurai pelukan Kara dan mengambil paper bag di atas meja.             “Ini ponsel untukmu. Aku sudah menyimpan nomorku dan Kara di kontaknya.” Karin mengulurkan bungkusan itu pada Petra. Petra terdiam, ia mengisyaratkan bahwa ia tidak membutuhkan benda itu.             “Ambil. Aku tidak mau kerepotan mencari keberadaan Kara yang ponselnya selalu kehabisan baterai.” Kata Karin yang langsung membuat Kara tertawa.             Kara melotot pada Petra. Menyuruh pria itu mengambil ponsel pemberian Karin hingga akhirnya benda itu berpindah tangan.             “Kamu bisa menggunakannya, kan?” goda Kara.             “Tentu saja.” Jawab Petra yang langsung membuat Kara mengulum senyum.             ***               Kara tidak punya banyak kegiatan sebagai artis papan atas, itu yang ada di pikiran Petra. Karin bilang bahwa hari ini meraka tidak punya jadwal dan hanya akan melakukan pemotretan produk di rumah. Petra yang tak punya kegiatan hanya berkeliling rumah, lalu membaca buku yang dipinjamkan Karin dan berolahraga kecil.             Karin berdiri di belakang kamera sementara Kara menjelaskan produknya dengan detail. Setelah mendapatkan foto dan video yang bagus, Karin mematikan perekam lalu mata Kara beralih ke pintu. Karin mengikuti arah pandang Kara dan melihat Petra mengintip dari celah pintu yang terbuka.             “Bosan?” tanya Kara. Petra tak menjawab, ia memilih pergi dari sana.             “Kenapa dia begitu pelit bicara.” Keluh Kara yang langsung membuat Karin tertawa.             “Jangan menggodanya.” Kata Karin.             “Kamu pikir aku perempuan macam apa?” Kara bersungut lalu keluar dari ruangan.             Di ruang tamu, ia melihat Petra berdiri di depan rak buku. Kara menghampirinya, “Nikmati hari ini. Besok- besok, kamu mungkin akan kekuarangan waktu tidur.” Ujar Kara. Petra hanya meliriknya sekilas lalu mengambil satu buku dari dalam rak.   ***               Karin dan Petra sedang ada di ruang tamu saat Kara keluar dari kamarnya. “Aku mau jalan- jalan sebentar.” Kata Kara yang sudah memakai kaos, celana dan sepatu olahraga.             “Biarkan Petra ikut.” Kata Karin.             “Tidak usah, aku hanya keliling komplek seperti biasa.” Kata Kara sambil membuka laci dan mengambil topinya dari sana.             “Petra akan ikut denganmu.” Kata Karin. Petra sudah berdiri dari duduknya dan siap mengekori Kara.             “Duduk. Jangan ikut.” Kara melotot pada Petra yang bergeming. Pria itu tetap berdiri. Tak menuruti perintah Kara.             Kara berkacak pinggang saat Petra bertahan pada posisinya “Mana mungkin kamu lebih patuh pada Karin sedangkan aku yang menggajimu.” Kara berdecak lalu keluar dari rumah. Petra mengikuti dari belakang.             Kara berlari menyusuri komplek perumahannya. Sore itu tampak cerah, angin semilir menerpa wajahnya. Dalam perjalanannya, ia menjumpai beberapa orang yang melakukan kegiatan yang sama dengannya, ada yang sambil membawa hewan peliharaan, ataupun menggunakan sepeda.             Jika sedang sibuk, Kara tak pernah bisa merasakan hal ini. Ia bisa menghabiskan waktu di lokasi syuting dari pagi hingga pagi lagi. Jadi, jika ia sedang tidak ada jadwal syuting, ia kan sesering mungkin berolahraga ataupun jalan- jalan santai, atau hanya duduk di depan minimarket sambil makan mie instan cup kesukaannya. Kara senang melihat lalu- lalang orang. Ia senang saat menyadari bahwa yang bekerja begitu keras bukan hanya dirinya.             Keduanya berhenti di taman komplek setelah membeli dua botol air mineral. Kara meneguknya pelan lalu membuka topinya dan menikmati angin yang berembus. Taman tak terlalu ramai hari ini.             Petra melirik Kara yang banjir keringat. Gadis itu tengah menyeka keringatnya dengan sapu tangan yang ia bawa dari rumah. Petra duduk berselang dua bangku dari Kara dan keduanya terdiam cukup lama hingga akhirnya Kara menoleh ke arahnya.             “Apa yang kamu harapkan akan terjadi besok?” tanya Kara tiba- tiba.             Petra menatapnya dan terdiam. Ia teringat kata- kata Karin saat wawancara.             Kara akan sering memberimu pertanyaan random, Jawab saja. Semakin kamu mengenalnya, kamu akan semakin terbiasa dengan keanehannya.             Petra tampak berpikir lalu menjawab asal, “Aku berharap, besok akan seperti hari ini.”             Kara tersenyum, pandangannya menatap ke depan.             “Bagaimana denganmu?” tanya Petra. Kara menoleh ke arahnya lalu menjawab,             “Aku ingin dunia berakhir.” Jawabnya singkat. Petra terdiam, gadis itu tersenyum melihat keterkejutannya.             “Hidup ini sudah terlalu melelahkan.” Kata Kara lagi.             “Kenapa kamu tidak bunuh diri saja?” tanya Petra dengan berani.             “Keduanya tidak sama. Aku tidak ingin meninggalkan siapapun. Aku ingin kita semua pergi bersama- sama.”  TBC LalunaKia
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN