CHAPTER EMPAT

1767 Kata
“Aku sudah bilang pada sutradara bahwa kamu tidak mungkin datang ke premier hari ini.” Karin menatap Kara yang keluar rumah sudah dalam keadaan rapi. Kara mengangguk. “Bagus. Kalau aku datang, wartawan itu pasti lebih fokus padaku daripada filmnya.” Kata Kara sambil memakai topi yang tergeletak di atas meja. Gadis itu memakai blue jeans, memadukannya dengan kaos polos berwarna hitam dan menimpanya dengan jaket jeans. Sneakers berwarna putih menyelimuti kedua kakinya. “Kamu mau ke mana?” tanya Karin. “Aku mau mengunjungi ibuku.” Jawab Kara. “Mau kuantar?” tawar Karin. Kara menggeleng lalu mengambil masker di laci dan memakainya. Hobi unik Kara yang lain adalah, ia suka sekali naik angkutan umum. Jika ia punya kesempatan untuk pergi ke suatu tempat menggunakan angkutan umum, ia akan melakukannya. Untungnya transportasi sekarang sudah tar seruwet dulu. Sekarang sudah ada MRT, bus dan ojek online yang mudah dijangkau dan memudahkan. Setelah pamit dengan Karin, ia keluar rumah setelah memastikan ojek pesanannya sudah sampai di depan rumah. Ojek itu mengantarnya sampai stasiun MRT. Kara masuk ke gerbong MRT dan berdiri karena hari itu tak ada kursi kosong. Ia menatap sekeliling. Orang- orang sibuk dengan kegiatannya. Saat ia merasa dunianya mulai runtuh, orang- orang tak peduli, orang- orang melakukan kegiatannya seperti biasa, Kereta tetap berjalan sesuai jadwal dan waktu terus berputar. Ia tak boleh berhenti hanya karena merasa dunianya runtuh, karena waktu tak akan pernah menunggunya sembuh. Ia harus tetap berjalan, harus tetap mengayuh agar roda kehidupannya berjalan sebagaimana mestinya.   ***   September 2000...   Setalah sekian lama, Kara akhirnya tahu kenapa banyak orang tak begitu menyukainya. Ia lahir tanpa Ayah. Kata- kata ibu yang bilang bahwa ayahnya sudah meninggal adalah sebuah kebohongan. Ayahnya tak pernah ada di sisinya, ia anak dari hubungan diluar nikah. Ayah dan ibunya tak pernah menikah dan tidak ada yang tahu seperti apa ayahnya karena pria itu tak pernah muncul sejak ibunya hamil sampai dirinya lahir. Kara menangis saat mengetahui hal itu. Kenapa ia diciptakan begitu berbeda. Ia lahir dengan penyakit bawaan dan sekarang, ia tahu bahwa keluarganya tak pernah sama dengan keluarga lainnya. Ia mungkin anak yang tak diharapkan lahir ke dunia. Ia mungkin sebuah kesalahan masa muda kedua orangtuanya. Tapi, kenapa ia yang harus menanggung semuanya. Ia tak bisa bermain seperti anak- anak lain karena ia dalam kondisi tidak sehat, dan tak ada yang mau bermain dengannya karena orangtua mereka melarang. Tak pernah ada yang suka dengan ia dan ibunya. Padahal hidupnya tak pernah merugikan siapapun. Ibunya yang menghidupinya sebagai buruh cuci dan kerja serabutan lainnya. Mereka harus hidup serba kekurangan dan para tetangga hanya sibuk mencemooh keluarganya.   ***   Kara kembali naik MRT sepulang dari mengunjungi ibunya. Hari sudah sore sehingga gerbong kereta tampak lebih padat karena bertepatan dengan jam pulang kantor. Ia mencari celah kosong untuk berdiri. Ia melewati lima stasiun sebelum akhirnya sampai di stasiun tujuannya. Setelah turun dari kereta, ia langsung memesan ojek online dan menunggu di depan stasiun. Ia menoleh ke sekeliling hingga matanya terpaku pada sesosok laki- laki yang berdiri tak jauh dari tempatnya. Ia mendekat lalu menatapnya lebih dekat. Laki- laki itu menoleh dan mundur selangkah saat melihat Kara menatapnya begitu lekat. “Kamu, laki- laki yang waktu itu di taman kan?” Kara tak mungkin salah mengenali menskipun mereka baru pertama kali bertemu. Laki- laki itu menggeleng. Kara berdecak lalu membuka maskernya sedikit, “ini aku, lihat.” Katanya dengan nada pelan. “Aku tidak kenal.” Kata laki- laki itu sambil berjalan menjauh dari Kara. “Ck... Sialaan.” Maki Kara dengan nada kesal.   ***   Kara tak membuka media sosialnya berhari- hari. Ia terpaksa tak menghadiri promosi film terbarunya karena ternyata berita itu belum juga mereda. Orang- orang masih banyak yang tak percaya dengan foto- foto yang beredar. Banyak yang menyayangkan bahwa Kara yang dikenal sebagai perempuan baik- baik ternyata tak lepas dari kehidupan malam. Mereka mulai kehilangan respect pada Kara. Ada yang memilih untuk mencoret Kara sebagai artis idolanya, ada juga yang berbalik menjadi haters, namun masih ada orang- orang yang mendukungnya dan bilang bahwa itu adalah hal yang wajar dan mereka tak berhak ikut campur dalam kehidupan Kara. Kara harusnya tak peduli, tapi kadang pikiran- pikiran itu diam- diam menyusup di otak kecilnya. Terlalu banyak yang ia sembunyikan dari kamera. Tak pernah ada yang benar- benar mengenal dirinya selain Karin, Sandra dan Kinan. Kara menutupinya begitu rapat sejak ia memutuskan untuk terjun ke dunia entertain. Kara memulai dirinya sebagai pribadi yang baru sejak berurusan dengan kamera. Ia menutupinya dengan begitu rapat sampai detik ini. Kara tak tahu sejak kapan ia mulai membenci wartawan. Ia baru saja menyelesaikan syuting untuk iklan sebuah minuman saat mendengar dari Karin bahwa diluar banyak wartawan yang menunggunya. Kara tak punya pilihan lain selain menemui wartawan itu. Ia menarik napas panjang saat berdiri di depan sekumpulan wartawan. Semua kamera terarah padanya, perekam suara di sodorkan ke arahnya.  Ia akhirnya berbicara di depan kamera dan menggumamkan permohonan maaf atas foto- foto yang beredar. Ia menjelaskan bahwa ia hanya manusia biasa dan ia melakukan itu sesekali. Kara menunjukkan raut wajah bersalah dan membiarkan wartawan itu mengambil gambarnya sebanyak yang mereka inginkan. Perasaan Kara lebih baik setelah berbicara dengan wartawan. Semua permasalahan memang harus dihadapi meski tak menjamin masalah itu akan selesai. Semuanya hanya butuh waktu, ia yakin, berita itu akan tergulung oleh berita- berita lain yang lebih viral. Ia sudah siap jika harus kehilangan penggemarnya. Yang jelas, ia tak boleh kehilangan semangatnya.   ***   Pria itu bergeming dikeremangan kamarnya. Tatapannya fokus pada layar laptop di depannya. Video lamaran seorang penyanyi yang ditolak oleh kekasihnya. Entah sudah berapa puluh kali ia melihatnya, dan hatinya selalu berdebar saat mencapai detik ke dua puluh enam. Laki- laki itu berlutut sehingga celananya sedikit terangkat sampai ke mata kaki dan memperlihatkan tatto yang melekat di sana. Ia tak mungkin melupakan gambar itu meski sudah bertahun- tahun berlalu. Pintu kamarnya tiba- tiba terbuka, ia menoleh dan melihat sang pemilik rumah melenggang masuk. “Belum bosan menontonnya?” tanyanya sambil duduk di atas ranjangnya. “Bukankah banyak orang yang mungkin mempunyai tatto seperti itu?” Pria di depan laptop itu menggeleng cepat. Ia tahu tatto itu tak seperti tatto pada umumnya. Tatto dengan bahasa rusia yang berarti “Hi”, tatto yang terus menghantuinya selama bertahun- tahun. “Atau mungkin itu hanya sebuah kebetulan.” Laki- laki itu melanjutkan kata- katanya. “Dia pernah tinggal di daerahku selama satu tahun, dengan rentang yang sama dengan kejadian itu.” Kata si pria yang akhirnya membuat si lelaki mengangguk.   ***   Berita mengenai Kara mulai mereda. Seperti dugaan Kara, beritanya akan tergulung oleh berita artis lain yang lebih fresh. Tak ada lagi yang meyerbu kolom komentar instagramnya, tak lagi ada yang mengirimkan hate speech melalui direct message. Semuanya mulai mereda, sesuai dengan perkiraan Kara. Kara mulai melakukan aktifitas seperti biasanya. Ia bisa ikut sisa promo filmnya ke beberapa kota, lalu mulai menandatangani beberapa kontrak untuk iklan, dan mulai mempertimbangkan untuk tawaran beberapa film. Semua mulai kembali sesuai alur sebelumnya. “Kinan mengirim konsep untuk pemotretan produk barunya akhir minggu ini.” Kata Karin saat mereka baru saja memasuki parkiran bandara dan masuk ke mobil. Ia membuka tablet dan menunjukkan foto yang di kirin Kinan pada Karin. “Bagus, sesuai dengan baju yang akan di launching.” Katanya. “Dia bertanya, apa kamu bisa menjadi modelnya?” Kata Karin sambil menyalakan mesin mobilnya. “Kalau aku jadi modelnya, apa aku akan dibayar? Bilang padanya bahwa tarif endorse untukku sangat mahal. Lebih baik alokasikan untuk memberi bonus karyawan.” Kata Kara. Kara memang sangat mencintai uang. Meski usaha itu dibangunnya bersama kedua sahabatnya, ia tak akan mau menjadi model kalau tidak dibayar, padahal pilihan untuk menjadikannya model agar bisa mendongkrak penjualan item fashion mereka. Kara tahu, usaha itu tepat berada di tangan Kinan. Seorang penulis yang penuh imajinasi. Perempuan itu sudah mengeluarkan belasan buku best seller dengan nama pena dan tak pernah ada yang tahu siapa di balik tulisan- tulisan itu. Ia menolak menunjukkan sosoknya ke publik. Di saat penulis- penulis lain haus perhatian dan berusaha keras agar dikenal, Kinan tak seperti itu. Ia menikmati dirinya dibelakang layar. Ia menolak semua undangan seminar dan workshop kepenulisan demi menjaga identitasnya. Hingga saat ini, tak pernah ada yang tahu siapa di balik nama pena “Kamaniya Meera.” Kara menyandarkan punggungnya di kursi belakang mobil lalu memakai kacamata hitamnya sambil menatap keluar jendela. Ia menarik napas, “Senangnya bisa kembali bekerja.” Katanya, Karin yang menyetir di bangku depan tersenyum melalui kaca spion di tengah. Mobil yang ditumpangi Kara memasuki halaman rumahnya. Kara keluar lebih dulu dan langsung masuk ke dalam rumah. “Ada paket untuk non Kara, mbak.” Seorang security menghampiri Karin dan memberikan sebuah kotak. Kara menerimanya dan mengucapkan terima kasih lalu masuk ke dalam rumah. “Tidak ada nama pengirim?” Dahi Karin berkerut saat menyadari bahwa paket itu tidak memiliki nama pengirim. “Ada apa?” tanya Kara saat melihat Karin berdiri diambang pintu. “Ada paket untukmu, tapi tidak ada nama pengirim.” Kara yang sudah duduk di ruang tamu berdiri dan menghampiri Karin. “Aku tidak membeli apapun.” Katanya. Kara mengambil paket itu lalu melihat nama dan alamatnya. Ia menatap Karin lalu membuka kotak yang dibungkus koran itu. Keduanya terpaku saat Kara membuka kotak itu. Tangan Kara tiba- tiba bergetar. Karin mengambil isinya. Berlembar- lembar foto Kara yang sudah di corat- coret dengan... Daraah. Karin mengusap foto itu dan bercak merah itu menempel di tangannya. “Ini daraah.” Masih begitu segar dengan bau anyir yang khas. Kara terdiam, Karin langsung merebut kotak itu dan membawanya keluar. Ia menghampiri security dan menanyakan dari mana paket itu datang. “Dia seperti pengantar paket pada umumnya.memakai seragam dan setelah mamastikan ini rumah non Kara, dia kasih paketnya ini.” Kata si penjaga rumah. “Coba cek cctv.” Perintah Karin. Si security melakukan yang apa disuruh Karin dan Karin menatap plat mobil itu baik- baik dan mencacatnya di ponselnya. Selain plat motor, tak ada yang bisa identifikasi dari si pengantar paket. Karin hanya bisa melihat matanya sekilas karena pria itu memakai masker untuk mneutupi sebagian wajahnya. “Setelah ini, jangan pernah terima paket tanpa nama pengirim.” Karin memberi petuah pada pria berseragam itu. Ia memberikan penekanan dalam kata- katanya, mewanti- wanti si penjaga rumah agar terus mengingat perkataannya. Pria di depannya mengangguk tanda mengerti. Karin membuka kembali kotak itu. Ia mengeluarkan lima lembar foto Kara yang di cetak dan membaliknya, Ada sebuah kalimat di salah satu foto itu, “Lets’s get started.” Karin mengeluarkan ponselnya dan mencoba mengecek nomor plat motornya dan harus menelan kesal karena plat itu tak terdaftar.  TBC  LalunaKia
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN