CHAPTER DUA PULUH TIGA

1741 Kata
            Karin yang sedang menatap layar laptop di depannya tiba- tiba menoleh saat mendengar suara pintu di buka. Ia menatap Petra yang baru saja membuka pintu, begitu juga dengan Kara yang membuka pintu kamarnya.             “Kamu mau pergi?” tanya Karin pada Petra. Pria itu mengenakan celana panjang dan kemeja panjang yang lengannya di gulung hingga ke lengan. Ia juga mengenakan sebuah topi.             “Iya, aku akan keluar sebentar.” Jawabnya.             “Ke mana?” tanya Kara yang juga ikut mendekat. Ketiganya berkumpul di meja bar.             “Jalan- jalan sebentar.” Jawabnya singkat.             “Boleh aku ikut?” Tanya Kara pada Petra yang langsung menggeleng.             “Tidak.” Jawabnya cepat.             Kara mendecih. “Aku juga bosan di rumah.” Keluh Kara.             “Aku tidak pergi keluar karena bosan.” Jelas Petra.             “Terserahlah. Aku tetap mau ikut.” Kata Kara dengan kekeuh.             “Tidak boleh.” Petra berdiri lalu keluar dari rumah. Kara yang melihat langsung berlari mengambil topi dan masker lalu bergegas keluar rumah.             Kara keluar dari gerbang dan melihat punggung Petra menjauhinya. Tak berpikir panjang, Kara setengah berlari untuk mensejajarkan langkahnya dengan Petra.             Petra melirik Kara yang tersenyun dan berjalan di depannya. “Bukankah polisi bilang untuk berhati-hati. Rumah adalah tempat yang paling aman untukmu saat ini.” Kata Petra, masih tak berhenti melangkah.             “Aku akan aman jika bersamamu.” Jawab Kara penuh percaya diri.   ***               Hari ini adalah peringatan hari kematian istrinya, Kamila. Tahun- tahun sebelumnya, Petra akan mengunjungi makam Kamila, lalu mendoakannya, berbicara padanya seakan wanita itu benar- benar ada di depannya. Setelahnya, Petra akan berjalan- jalan seorang diri. Mengunjungi restoran yang suka didatanginya bersama Kamila, makan- makanan kesukaan Kamila, begitu juga dengan minuman kesukaannya. Ia akan pergi ke tempat kesukaan Kamila. Bukit, pantai juga taman tempat ia biasa menghabiskan waktu bersama wanita itu diakhir pekan.             Namun, tahun ini sedikit berbeda. Ia berada di kota yang berbeda sehingga tak memungkinkan untuk mengunjungi makam wanita itu. Ia hanya menggumamkan doa untuk Kamila saat bangun tidur tadi pagi. Ia berharap Kamila memaafkannya karena tak bisa mengunjunginya tahun ini. Setelahnya, ia berniat berjalan- jalan sebentar untuk mencari makan dan minuman kesukaan Kamila yang ada di kota ini.             Ia melirik Kara yang berdiri di sebelahnya. Mereka tengah menaiki kereta bawah tanah untuk menuju pusat kota. Mereka tak berbicara sepanjang perjalanan, Kara hanya melangkah di sebelahnya tanpa bertanya mereka akan ke mana. Gadis itu hanya memakai sepotong kaos dan celana pendek. Juga topi dan masker yang menutupi sebagian wajahnya.             Petra menuju sebuah mall. Lalu mencari sebuah restoran yang sama seperti di kotanya dahulu. Ia memasuki restoran italia dan menduduki salah satu meja yang kosong.             “Kenapa kita ke sini?” tanya Kara saat  ia duduk di depan Petra. Pria itu tak menjawab, hanya mengulas senyum tipis.             Pelayan datang dan menanyakan pesanannya. Petra memesan dua porsi pasta, pizza dan dua buah minuman dan dessert kesukaan Kamila.             Kara menaikkan alisnya saat melihat Petra memesan tanpa bertanya padanya terlebih dahulu. Tapi Kara tak protes, ia menatap Petra yang hari ini tampak berbeda, pria itu tampak lebih sering tersenyum. Ia menatap rambut Petra yang disisir rapi, lalu ke kemeja kuning gadingnya yang lengannya di gulung hingga ke siku, lalu ke raut wajahnya yang entah kenapa terasa berbeda hari ini.             Keduanya tak berbicara. Kara merasa ini bukan yang tepat untuk memulai obrolan. Dilihatnya lagi Petra yang sepertinya punya dunianya sendiri. Entah apa yang ada dipikiran pria itu. Kara baru sadar bahwa ia ada di waktu yang tidak tepat.             Makanan datang dan mereka masih makan dalam diam. Kara beberapa kali melirik Petra yang fokus pada makanannya. Sesekali pria itu tersenyum padanya. Tapi, ia tahu senyuman itu tidak ditunjukkan untuknya. Pria itu tak terusik dengan kehadirannya, pria itu ada di dunianya sendiri.             Petra menghabiskan makannya saat tersadar Kara ada di depannya. Ia menggeleng- gelenggkan kepalanya. Mencoba kembali ke kesadarannya, entah sejak kapan, ia merasa bahwa wanita yang ada di depannya adalah Kamila, istrinya.             Ia menatap Kara yang tengah mengaduk- aduk makanannya. Ia sadar ia memesan semua makanan kesukaan Kamila, tanpa bertanya apa yang diinginkan Kara.             “Kamu tidak suka?” tanya Petra. Kara tersentak, ia mengangkat kepalanya lalu menggeleng.             “Aku lebih suka mie instan.” Kata Kara. Keduanya tersenyum.             “Maaf tak bertanya apa yang kamu inginkan.” Ucapnya dengan nada bersalah.             “Tidak masalah. Ini enak, aku suka. Aku hanya sudah terlalu kenyang. Pesananmu terlalu banyak.” Kata Kara.             “Cobalah es krimnya. Ini enak.” Petra mendorong gelas berisi es krim ke depan Kara.             “Kamu suka?” tanya Kara sambil menganyunkan sendok untuk mengambil es dalam gelas.             “Kamila sangat menyukainya.” Jawab Petra. Sendok yang akan masuk ke mulut Kara berhenti sejenak. Petra ikut terdiam. Kara tersenyum lalu memasukkan sendoknya ke mulutnya.             “Ini enak.” Katanya sambil tersenyum memecah kecanggungan. Petra menunggu hingga Kara menghabiskan isi dalam gelasnya.             “Kamu keluar hanya untuk makan ini?” tanya Kara. Petra menggeleng.   ***               Mereka melanjutkan perjalanan. Petra mengunjungi pantai terdekat dengan bus. Kara mengikutinya tanpa bertanya. Kara berlari mendekati bibir pantai. Ia meninggalkan sendalnya dan berjalan tanpa alas. Ia membiarkan pasir menyelimuti telapak kakinya dan air membasuhnya kembali.             “Menyenangkan bisa melihat pantai.” Kata Kara lalu menarik napas dalam- dalam. “meskipun airnya tidak biru.” Kara menoleh ke arah Petra yang tengah memejamkan matanya. Semilir angin mengacak- acak rambut pria itu. Petra membuka matanya, lalu menoleh dan dua pasang mata itu bersirobok.             “Aku tidak tahu apa yang kamu pikirkan.” Kata Kara, “tapi aku tahu bahwa aku berada di saat yang tidak tepat.” Lanjutnya.             “Hari ini adalah hari peringatan kematian istriku.” Lirih Petra. Kara terdiam, mulutnya sedikit terbuka. Ia tidak menyangka kalimat itu yang akan keluar dari mulut Petra.             “Restoran itu adalah restoran yang sering kita kunjungi saat di kota kami.” Petra memulai ceritanya. “makanan tadi adalah makanan kesukaan kamila. Pantai adalah tempat kesukaan Kamila.” Lanjutnya. “aku melakukan semua hal kesukaan Kamila setiap memperingati hari kematiannya.”             “Maksudmu, Kamila sudah meninggal?” tanya Kara dengan nada hati- hati. Ia melihat Petra mengangguk pelan.             “Seharusnya kamu bilang sejak awal. Aku pasti merusak hari ini.” Kara mengumamkan maaf yang tulus pada pria di sebelahnya. “aku akan pergi sendiri.” Kara berbalik dan siap menjauh saat sebelah tangannya tertahan.             Petra menggengam tangan Kara hingga gadis itu kembali menghadapnya.             “Tidak aman pulang seorang diri.” Kata Petra. Kara berpikir, lalu kembali mengambil tempat di sebelah pria itu. Keduanya berdiam diri selama beberapa saat, menatap hamparan air di depannya. Ombak bergulung hingga membawa air membasahi kaki keduanya.             Keduanya mencari tempat teduh lalu duduk tak jauh dari bibir pantai.             “Kamila juga suka pantai?” tanya Kara tanpa menoleh. Petra mengangguk.             “Maaf kalau aku lancang. Tapi kalau boleh tahu, istrimu meninggal karena apa?” tanya Kara dengan nada hati- hati. Ia berharap pertanyaannya tak menyinggung pria di sebelahnya.             Kara melihat Petra menghela napas lalu berkata lirih, “dia dibunuh.”             Bibir Kara bergetar, ia menelan ludah lalu bergumam. “Maaf.” Kara menyesal melontarkan pertanyaan itu.             “Tidak apa- apa.” Jawab Petra.             Petra berdiri, pergi lalu kembali dengan dua botol minuman. Ia memberikan salah satunya pada gadis di sebelahnya.             “Tersangkanya, apa di penjara?” tanya Kara lagi. Ia tidak bisa menyembunyikan keingintahuannya. Kara melihat pria di sebelahnya menggeleng pelan, hatinya mencelos seketika. Ia berpikir, bagaimana jika pembunuh ibunya tak juga ditemukan.             “Polisi tidak menyelidikinya?”             “Polisi menyelidiki. Tapi malah aku yang dituduh pembunuhnya.” Petra melihat mulut Kara terbuka seraya tak percaya.             “Bagaimana bisa?”             “Malam sebelumnya kami bertengkar hebat. Beberapa tetangga mendengarnya. Itu dijadikan alasan polisi menjadikanku tersangka.” Petra tersenyum sinis. Sama sekali tak menyangkan bahwa kejadian seperti itu akan terjadi padanya. Bagaimana mungkin ia tega membunuh wanita yang sangat dicintainya. Sehebat apapun mereka bertengkar, mereka akan selalu berbaikan, ia tak akan sampai hati membunuh istrinya. Polisi- polisi itu bodoh dan konyol. Pikir Petra.             “Lalu apa yang terjadi selanjutnya?”             Petra meneguk air dalam botolnya lalu berbicara, “aku divonis sepuluh tahun penjara. Tapi mobil yang membawaku dari pengadilan ke rumah tahanan mengalami kecelakaan. Mobil itu terperosok ke jurang. Beberapa jasad ditemukan tapi sisanya dinyatakan meninggal karena tak juga ditemukan setelah pencarian berhari- hari.             Kara terdiam. Ia menatap Petra yang tengah menerawang kejadian beberapa tahun yang lalu.             “Aku selamat meski terluka parah. Gerald yang menemukanku. Dia merawatku hingga benar- benar pulih.” Kara menatap Petra dengan tatapan tidak percaya.             “Gerald juga mengijinkanku memakai identitas adiknya yang sudah meninggal.”             “Jadi, Petra bukan namamu yang sebenarnya?” Kara melihat pria itu menggeleng.             “Aku memakai identitas itu selama bertahun- tahun. Semua orang berpikir aku sudah meninggal.” Kata Petra, “aku sudah tak punya orangtua sejak kuliah. Semuanya cukup mudah karena tak ada yang mengkhawatirkanku.”             “Sebelumnya, di mana kamu tinggal?”             “Aku tinggal di sebuah kota kecil diujung, dan bekerja di sebuah perusahaan pertambangan.”             Kara terenyuh mendengarkan bagaimana hidup pria di sebelahnya. Istrinya dibunuh, ia yang dituduh membunuhnya, mengalami kecelakaan, dinyatakan meninggal, lalu memilih untuk memakai identitas orang lain. Sungguh, Kara pikir cerita seperti itu hanya ada di film- film.             “Aku pikir hal- hal seperti itu hanya ada di film.” Gadis itu melirih. Ia meneguk botol dalam genggamannya lalu menatap Petra yang tersenyum dengan pandangan terlempar ke hamparan pantai di depannya.             “Kamila pasti bangga padamu karena kamu bisa bertahan sampai saat ini.” Kata Kara. Petra menoleh. “aku tahu bagaimana rasanya kehilangan orang yang kita sayangi. Dia akan sangat tenang karena kamu menjalani hidupmu dengan sangat baik.”             “Itu juga yang harus kamu lakukan.” Kata Petra.             Keduanya menatap hamparan pantai di depannya. Angin menerbangkan helai demi helai rambut mereka. Keduanya telah menutup pembicaraan sejak beberapa menit yang lalu. Kini keduanya sibuk dengan kenangan- kenangan yang berusaha mereka bangkitkan lagi.             Petra tak akan pernah melupakan bagaimana senyum Kamila tiap ia membawa wanita itu pergi ke pantai. Wanita itu tak pernah bosan pergi ke tempat itu meski mereka mengunjunginya setiap minggu.             Kadang gadis itu membawa serta kanvas dan cat airnya dan duduk berjam- jam untuk melukis pantai dan sekitarnya. Terkadang wanita itu meminta Petra membantunya membuat istana pasir, di lain kali ia hanya berlari- lari di pinggir pantai sampai kelelahan hingga akhirnya meminta Petra untuk menggedongnya.             Tak peduli seberapa bosannya Petra pergi ke pantai, ia akan tetap ke sana jika Kamila memintanya. Karena ia tahu, pantai mungkin menjadi salah satu sumber kebahagiaan wanita itu, tak ubahnya Kamila yang menjadi sumber kebahagiaannya.   TBC LalunaKia
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN