"Papa lebay banget. Beneran." Arash menggerutu ketika berhadapan dengan papanya. Lelaki itu tampak sedang menikmati secangkir cappucino, dan sepiring roti sandwich bersama Abi. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Arash juga baru keluar dari kamarnya, atau lebih tepatnya lelaki itu baru bangun tidur.
"Ya gimana, mamamu izinnya cuma beli bahan-bahan masakan di supermarket entah di pasar. Dia pergi dari jam tujuh. Harusnya kalau cuma ke pasar, sejam juga selesai, apalagi jaraknya dekat. Ini udah lebih dari satu jam. Gimana papa nggak khawatir," balas Abi. Sejak Arash duduk di hadapannya, dia terus mengeluh mengkhawatirkan Laura yang tak kunjung kembali.
"Mama cuma pergi ke pasar, Pa. Bukan ke luar negeri–"
"Justru karena pergi ke pasar, harusnya nggak lama, kan? Tapi mamamu nggak balik-balik, malah bikin khawatir." Abi berbicara sembari fokus pada ponselnya, mengetik sesuatu.
"Ya ampun, Pa. Bucin banget, udah tua loh." Arash terang-terangan mengatai sang papa sekaligus menertawakannya.
"Nah ini… kamu anak kecil yang nggak ngerti apapun. Tingkat kekhawatiran berlebih pada istri, malah dibilang bucin. Kamu ya belum merasakan, karena belum punya istri. Pacar aja nggak punya. Dan Papa rasa ini wajar, karena mamamu jarang keluar rumah, sekalinya keluar tanpa papa, malah lama." Abi masih saja mengeluh.
"Terus aja bilangin aku anak kecil, tapi tanggung jawab perusahaan mau diserahin ke aku, papa yakin? Mau serahkan perusahaan ke anak kecil." Lagi-lagi, Arash menertawakan papanya.
"Pagi ganteng-gantengnya mama, udah pada bangun? Loh Biya mana? Masih ngambek?" Yang ditunggu-tunggu muncul, sambil membawa dua kantong plastik di tangannya.
"Biya masih di kamar, Ma. Mama dari mana aja? Ada yang khawatir setengah mati, tuh." Sindir Arash.
Laura langsung disambut oleh art mereka, mengambil belanjaan dari tangannya. Setelah itu dia langsung mencuci tangannya di wastafel.
Kini, wanita itu sudah duduk di sebelah suaminya yang saat itu hanya diam sambil menatap sinis padanya. "Apa sih, Pa? Gitu amat lihatnya. Mama tadi tuh lagi sibuk banget, makanya nggak balas chat dan angkat telpon papa." Laura mengusap pipi Abi.
"Sibuk apa? Kenapa terlalu lama?" Balas Abi, dengan nada tegasnya.
Laura menanggapinya dengan tawa cekikian, sedangkan Arash berpura-pura sibuk, memainkan ponselnya, melihat status WA teman-temannya. Dia tak ingin ikut campur dalam pertengkaran kecil orang tuanya yang hampir terjadi setiap hari.
"Ceritanya panjang, tapi mama minum dulu, ya. Haus." Laura sengaja mengulur-ulur waktu, membuat Abi kesal adalah hobinya akhir-akhir ini. Apalagi, Laura merasa tingkah suaminya semakin tua justru semakin kekanak-kanakan. Laura menuang segelas jus jeruk, lalu meneguknya.
Arash geleng-geleng kepala saat melihat papanya menatap begitu dalam pada mamanya, sembari menyanggah dagunya dengan satu tangan. "Bucinnya…" gumam Arash. Akhirnya lelaki itu memutuskan untuk berdiri dan meninggalkan meja makan. "Aku nggak ikut-ikutan." Arash benar-benar tak ingin terlibat dalam urusan orang tuanya.
"Jadi gini, Papa… karyawan kita di perusahaan ada yang namanya Arsyila, ya?" Laura memulai ceritanya, karena itu mengakibatkan anak lajangnya mengurungkan niat untuk meninggalkan meja makan, karena mendengar nama Arsyila disebut. Arash langsung putar balik, dan kembali duduk di kursinya, tempat semula.
"Iya Arsyila, kenapa dia?" Tanya Abi.
Tanpa bersuara dan mengatakan apapun Arash ikut menyimak sembari menyesap cappucino yang masih tersisa di gelasnya.
"Arsyila karyawan kesayangan Papa itu, kan?" Ternyata Arash tak tahan jika dia hanya berdiam saja.
"Apa?! Karyawan kesayangan Papa?" Laura bertanya dengan suara yang agak keras. "Dia masih muda dan cantik loh…" sambung Laura.
"Bukan kesayangan… kamu ini, jaga ucapan. Nanti mamamu salah paham," protes Abi. "Lebih tepatnya salah satu karyawan terbaik." Abi membenarkan kalimat anaknya. "Ada apa dengan dia?"
Kini, dua lelaki yang sedang bersama Laura di meja makan, sedang menanti jawaban dari Laura, terutama Arash, menatap mamanya tanpa mau beralih sedikit saja.
"Tadi Mama niatnya mau belanja ke supermarket aja, tapi mama urungkan niat itu, karena kalau weekend gini supermarket pasti rame dan kasirnya ngantri. Jadi, mama memutuskan untuk belanja di pasar," jelas Laura perlahan-lahan. Dia meneguk lagi minumam dari gelas yang sedang dipegangnya.
"Terus, Ma?" Tanya Arash tak sabaran.
"Eh kamu, bukannya kamu tadi mau ninggalin mama papa? Katanya nggak mau ikut-ikutan, kenapa malah kamu yang kepo?" Bukannya meneruskan cerita, Laura justrua mengajukan pertanyaan itu pada anaknya.
"Ya… enggak jadi, ini kopiku belum habis kok," jawab Arash mencari-cari alasan.
Sedangkan Abi hanya memicingkan matanya, menatap Arash penuh curiga.
"Kalian kan tau, kebiasaan mama gimana. Jarang bawa uang cash. Di dompet mama sama sekali nggak ada uang cash, sedangkan mama udah milih-milih yang mau dibeli, udah ditotalin pula. Kebetulan ada cewek muda ini yang namanya Arsyila, dia bayarin belanjaan mama."
"Wah baik banget, dia. Total belanja mama pasti banyak." Arash berkomentar.
Laura mengangguk. "Ya… seratus tujuh puluh ribuan, lumayan."
"Dia memang baik, sikapnya juga selalu sopan." Timpal Abi.
"Papa kayaknya kenal dekat, ya?" Tanya Laura.
"Ya, kenal… gimana nggak kenal, dia punya jabatan, sering ketemu waktu meeting mingguan atau kalau ada proyek baru," jelas Abi apa adanya.
Laura mengangguk lagi. "Hm, jadi msma tau nama lengkapnya itu… Arsyila jelita, apa ya?"
"Puspasari," sahut Arash cepat. Membuat kedua orang tuanya menoleh padanya.
"Hafal banget, kan baru beberapa hari kerja?" Sindir Abi.
"Kan papa yang bilang, harus jalin hubungan baik dengan atasan, minimal ya aku harus hafal dulu dong namanya." Lelaki itu mengatakan alasan yang cukup masuk akal.
"Uangnya udah mama balikin, via transfer. Mama lebihkan juga."
"Bagus, kalau mama pengertian," sahut Abi.
"Udah gitu doang? Terus mama taunya dia karyawan perusahaan, gimana?" Arash semakin kepo.
"Itu taunya setelah dia kecelakaan, pas mama mau bantuin dia, bawa ke klinik–"
"KECELAKAAN?!" Lagi-lagi, dua lelaki beda usia itu kompak bertanya, hingga Laura mengerutkan keningnya.
"Kalian berdua kenapa mendadak lebay gitu, sih? Dia baik-baik aja, walau kaki dan sikunya lumanyan banyak lukanya," jelas Laura.
"Masalahnya, kalau dia kecelakaan, pasti bakalan izin dan nggak bisa masuk kerja, Ma. Kerjaan di perusahaan lagi banyak, apalagi dia membidangi divisi marketing, ada banyak program yang harus mereka lakukan." Abi menjelaskan alasan mengapa reaksinya seperti itu.
Sedangkan Arash masih diam. Namun, hatinya gelisah penuh keresahan. Tentunya mengkhawatirkan Arsyila.
"Mama antar Arsyila ke klinik mana?" Tanya Arash to the point. Lalu dia menggigit lagi sandwich yang sempat ditinggalkannya itu.
"Klinik Medika Sejahtera, dekat dengan pasar. Tadinya mama mau nungguin dia sampai selesai ditangani dokter, sekaligus mama antarin pulang. Tapi ada yang sibuk banget chat dan nelpon nanyain mama dimana. Ya udah terpaksa mama tinggal sendirian, katanya nanti ada dia hubungi temannya aja," jelas Laura sedetil mungkin.
Arash manggut-manggut. "Oh ya, kunci mobilku di mana ya, Ma? Tadi mama pakai mobilku, kan?"
"Udah mama kembalikan ke tempat semula, kenapa? Kamu mau ke mana?"
"Oh enggak kemana-mana, mau ngambil sesuatu." Arash langsung bangun dari kursinya, tanpa menyelesaikan sarapan, setelah mendengar cerita detil mamanya. Lelaki itu berjalan dengan tergesa-gesa.
"Sekalian bangunin Biya, Ya!" Pinta Laura.
"Oke Ma!" Tentu Arash hanya menjawab tanpa melaksanakan, karena ada hal lain yang lebih penting yang harus dia lakukan. Meski dia sangat menyayangkan kejadian yang menimpa Arsyila. Tapi menurut Arash, kali ini adalah sebuah kesempatan baik untuk melakukan pendekatan dengan Arsyila.