CHAPTER 28

4908 Kata
"Kak Arvin?" ujar Qila terkejut ketika gadis itu mendongak dan melihat keberadaan Arvin dan dua cowok lainnya yang ada di belakang cowok itu. Sama halnya dengan Qila, Gladis juga tentu saja ikut terkejut mendapati sosok kakaknya yang berdiri tepat di belakangnya. "Kak Arvin?" gumam Gladis dengan suara pelan. Arvin sendiri, cowok itu hanya menatap Qila dan adiknya itu dengan tatapan datar. Entah apa entah apa maksud dari tatapan itu yang jelas tatapan Arvin terlihat sangat menakutkan Qila dan Gladis yang melihatnya bahkan sampai tak berani menatap cowok itu. "Kalian berdua ikut gue," ujar Arvin menatap Gladis dan Qila bergantian. Tanda bahwa orang yang cowok itu maksud adalah Gladis dan juga Qila. Setelah mengatakan itu, Arvin tanpa banyak bicara lagi langsung berlalu pergi, diikuti oleh Gladis dan Qila yang mengekor dibelakang cowok itu. Sementara kedua laki-laki yang datang bersama Arvin itu, mereka juga memutuskan untuk ikut mengekori Arvin. Untuk Ghea, gadis itu hanya diam saja, masih tetap setia di tempatnya, gadis itu tak beranjak barang sedikitpun dari situ. Pikiran gadis itu melayang mengingat bagaimana kerasnya Gladis saat menampar pipinya tadi. Jujur saja, rasa kecewanya pada Gladis sungguh sangat besar. Detik itu, disaat tangan Gladis mendarat sempurna di pipi Ghea, Ghea sudah mengecam Gladis dan menandai gadis itu sebagai orang yang dibencinya. Sebagai musuhnya, bukan lagi sahabat. Ingat soal itu. Lalu di sisi lain Qila dan Gladis dibuat ketakutan oleh Arvin, kedua gadis itu juga cemas dengan apa yang akan dilakukan oleh Arvin kepada mereka. Sementara kedua laki-laki yang tadi ikut bersama Arvin, mereka saat ini terlihat menatap Qila dengan tatapan penuh tanda tanya. Pasalnya, setahu mereka Arvin sama sekali tidak pernah dekat dengan sosok gadis yang terkenal sangat ramah itu. Qila memang sangat terkenal di SMA Rajawali. Namun kedua laki-laki itu benar-benar tidak pernah tahu bahwa Arvin mengenal sosok Qila. Mereka pikir, Arvin bahkan tak pernah tahu perihal siapa-siapa saja yang terkenal di SMA Rajawali ini. Namun dengan kejadian hari ini, mereka tahu kalau Arvin ini mengenal Qila. Terbukti disaat tadi, cowok itu meminta Qila untuk ikut bersama Arvin dan juga Gladis. Padahal, yang perlu Arvin urusi sebenarnya adalah Gladis saja bukan? Karena Gladis adalah adiknya. Namun lihat sekarang, Qila ikut terseret kedalamnya. Setahu mereka, Arvin tak pernah peduli dengan orang lain yang tak ada sangkut pautnya dengan kehidupan dia, namun dengan Qila, Arvin sepertinya peduli. Ah iya, kedua laki-laki itu hampir saja melupakan perihal berita yang tadi pagi sedang sangat ramai-ramainya. Berita mengenai Arvin dan Qila yang terlihat bergandengan di koridor sekolah. Bahkan foto saat Arvin dan Qila saat ini sudah viral di i********: anak-anak SMA Rajawali. Official account SMA Rajawali bahkan juga ikut memposting foto Arvin dan Qila saat bergandengan tangan di koridor itu. Kembali lagi di situasi saat ini. Baik Qila, Gladis, Arvin maupun kedua laki-laki itu sudah sampai di rooftop sekolah. Tempat andalan Arvin jika sudah membicarakan sesuatu hal yang sangat penting. Seperti saat ini contohnya. Sekarang posisinya adalah Arvin sedang duduk di kursi usang yang ada di rooftop ini dengan Qila dan Gladis yang sedang berdiri didepan cowok itu. Sementara kedua laki-laki yang merupakan teman Arvin itu, mereka berdiri tepat di belakang Arvin, bersikap layaknya seorang bodyguard. Posisi yang sekarang membuat Qila dan Gladis semakin merasa terintimidasi. Kedua gadis itu menunduk dalam takut menatap kearah mata Arvin yang nampak sangat menunjukkan sebuah emosi di dalamnya. Arvin menatap Qila dan Gladis dalam diam, cowok itu menatap keduanya dengan tatapan datar. Tatapan datar yang mampu membuat Qila dan Gladis benar-benar mati kutu. Keduanya jelas sangat mengetahui bahwa jika Arvin sudah dalam wadjah seperti itu, itu berarti Arvin sedang dalam suatu emosi yang cukup tinggi. Sementara Arvin, cowok itu sebenarnya merasa kecewa. Sebagai seorang kakak, Arvin merasa seperti cowok itu gagal dalam mendidik adiknya, dengan melihat Gladis sedang menampar keras pipi Ghea tadi membuat perasaan kecewa sangat mendominasi dirinya. Tak ada yang pernah benar-benar mengetahui bagaimana kecewanya Arvin saat melihat bahwa adik satu-satunya itu bersikap kasar. Main tangan seperti tadi. Arvin sekalipun tak pernah memberikan contoh yang buruk kepada adiknya itu. Dan Arvin juga merasa, kedua orang tuanya juga tak pernah mengajarkan Arvin maupun Ghea mengenai hal yang tadi baru saja adiknya lakukan. Entah apa yang ada dipikiran adiknya itu sampai dia berani main tangan dan menampar pipi Ghea. Gadis yang Arvin kira adalah sahabat dekat Gladis selama masa SMP hingga masuk kedalam SMA ini. Arvin tak pernah tahu apa masalah yang ada diantara Gladis dan Qila dengan Ghea sampai berpotensi membuat Gladis dengan ringannya melayangkan satu tamparan keras di pipi Ghea. Arvin masih diam sembari menatap Qila dan Gladis secara bergantian. Cowok itu lalu nampak menghela nafas pelan sebelum akhirnya dia membuka suara. "Ada yang mau lo omongin ke gue?" tanya Arvin pada akhirnya saat membuka suara. Benar, itulah kalimat pertama yang keluar dari mulutnya. Sementara Gladis dan Qila semakin menundukkan kepalanya dalam. Beberapa menit berlalu, namun tak kunjung ada yamg membuka mulut sama sekali. Arvin terdengar menghembuskan napasnya kasar. Tak habis pikir dengan kedua gadis yang berdiri di depannya itu. "Apa yang lo berdua bisa lihat di bawah situ? Lo berdua cuma bisa lihat tanah dan kaki lo sendiri. Apa yang menarik dari itu? Lo berdua mau mastiin kalo kaki lo berdua masih mijak tanah atau gimana?" tanya Arvin sarkas. Namun masih juga tetap, baik Qila maupun Gladis tak ada yang membuka suara sama sekali. Mereka bahkan juga sama sekali tak mengalihkan pandangannya dari bawah. Mereka masih tetap menunduk. Arvin pada akhirnya mengalah, cowok itu akhirnya memutuskan untuk meminta adiknya itu untuk bercerita. Lagipula, yang tadi terlihat menampar Ghea adalah adiknya sendiri. Bukan Qila. Walaupun tadi, samar-samar Arvin mendengar suara dari Ghea dan Gladis itu membawa-bawa nama Qila. Saat pertengkaran mereka. Namun, yang dapat Arvin lihat adalah, meskipun Gladis dan Ghea nampak mempeributkan namanya, yang Qila lakukan hanyalah duduk diam dan termenung. Entah apa yang membuat gadis itu seperti itu. Tapi yang jelas, Arvin dapat melihat raut wajah tak baik-baik saja dari gadis itu. Arvin sebenarnya ingin bertanya mengenai itu saat ini. Namun keadaan sepertinya tak mendukung. Suasana sedang tidak baik-baik saja. Mood seorang Arvin juga sedang dalam kondisi yang sangat buruk. Qila, si gadis ceria dan ramah tamah itu juga nampak sangat redup saat ini. Matanya yang biasanya selalu menampilkan binar ceria, kini menampilkan mata sendunya. Tak ada setitik pun keceriaan yang dapat dilihat oleh Qila. Terlepas dari itu semua, saat ini Arvin benar-benar sangat membutuhkan klarifikasi mengenai cerita tentang kejadian tadi. Arvin butuh penjelasan dan ceritanya. Melihat kondisi saat ini, yang memang memungkinkan untuk bercerita adalah Gladis. Jadi, Arvin benar-benar tak ragu untuk langsung menyuruh adiknya itu. "Lo Gladis," ujar Arvin seraya jari telunjuknya yang me unjuk kearah Gladis. "Jelasin tentang semua kejadiannya secara rinci. Mulai dari awal, sampai puncaknya tadi," lanjut cowok itu. Sejenak Gladis masih terdiam, sampai pada akhirnya gadis itu mulai berani mengangkat kepalanya, mendongak. Gladis nampak mengatur napasnya sebelum mulut gadis itu terbuka hendak bersuara. Sepertinya, setelah ini akan terjadi hal yang baru lagi. "Jadi gini Kak, Ghea kemarin itu janji kalau dia mau jelasin soal gimana caranya dia bisa tahu perihal pertunangan Fikri. Padahal disaat itu Qila sama sekali belum kasih tahu sama dia, sama gue juga belum. Awalnya, Ghea mau jelasin soal itu kemarin, tapi gak jadi karena kemarin kan gue sama Qila itu gak jadi dateng soal Qila yang kemarin masuk uks. Padahal kata Ghea, kemarin dia itu udah nunggu dari awal jam istirahat sampai akhir. Kalo soal ini gue emang yang salah karena lupa ngabarin Ghea soal itu," ujar Gladis mulai menjelaskan bagaimana bisa mereka ada di kantin tadi dan apa pembahasan yang membuat mereka berkumpul di sana. Ghea menarik napas lagi sebelum kali bercerita. "Nah, karena kemarin itu gagal, akhirnya Ghea, gue sana Qila mutusin buat ganti hari, dan itu adalah hari ini. Karena gue sama Qila gak mau banyak basa-basi, jadi gue sama Qila minta tuh buat Ghea langsung cerita aja. Dan akhirnya Ghea sanggupi, dia akhirnya langsung cerita," "Dari awal cerita aja, apa yang Ghea ceritakan itu lumayan ngeganggu Kak. Di cerita ini, dia banyak cerita mengenai sepupunya. Yang kalo di rangkum seluruh cerita itu, semuanya berisi soal gimana Ghea yang sangat membangga-banggakan sepupunya atas segala, dia bahkan tadi juga terang-terangan bilang kalo sepupunya itu sangat sempurna. Dan gak akan ada orang yang bisa menandinginya," lanjut Gladis. "Dia bilang, semua laki-laki kalo udah ketemu sama sepupunya ini, Ghea seratus persen yakin kalo gak ada satupun orang yang bisa menolak pesona sepupunya. Sepupunya itu udah cantik, putih, wajahnya kebule-bulean, rambutnya panjang, body goals, tinggi lagi. Pokoknya dia terus aja muji si sepupu kebanggaannya itu deh kak," Gladis nampak menukikkan alisnya tajam, dia seperti sebal saat menceritakan itu. "Gue sih sebenarnya gak masalah ya Kak, kalo dia mau bangga-banggain sepupunya itu, gue gak masalah kalo dia mau jadi b***k itu sepupunya juga. Tapi yang paling gue keselin dan sampe bikin gue tadi marah sama Ghea itu karena Ghea, itu anak gak ada akhlak yang terus bangga-banggain sepupunya itu, dia jelek-jelekin Qila Kak! Dia emang gak ngomong secara langsung kalo dia lagi jelek-jelekin Qila, tapi dia tadi terus aja mojokin Qila, orang yamg bodoh aja udah pasti bisa tahu kalo Ghea itu lagi jelek-jelekin Qila. Kakak tahu? Itu semua tuh gara-gara ternyata, orang yang dijodohin sama Fikri itu si sepupunya Ghea!" ungkap Gladis dengan menggebu-gebu. Mata Arvin mendadak melotot. Cowok itu terkejut, sangat. Namun dengan segera dia merubah raut wajahnya menjadi datar kembali. Dari sini, yang Arvin dapat simpulkan adalah Gladis yang marah karena Qila, sahabatnya itu dihina oleh sahabatnya yang lain dan juga Qila, alasan dibalik kenapa gadis itu saat ini nampak murung padahal setahu Arvin saat dirumahnya tadi Qila nampak senang-senang saja adalah karena gadis itu mengetahui satu fakta yang mungkin menghancurkan hatinya. Orang yang sudah dianggap Qila sebagai seorang sahabat itu malah menjelek-jelekkan dirinya hanya demi membela satu pihak lain, meskipun pihak itu adalah sepupu orang itu. "Kakak tahu gak? Ghea tadi bilang, kalo katanya sepupu anak itu berhasil buat Fikri jatuh cinta bahkan hanya dengan ngelihat foto sepupunya aja. Mereka belum ketemu tapi Fikri udah langsung tertarik sama sepupunya sampe dia langsung setuju-setuju aja buat dijodohin sama sepupunya! Emang itu Fikri, mata keranjang! Lihat yang bening dikit langsung belok," sungut Gladis dengan emosinya. "Ini nih Kak, emang dari awal tuh gue udah bad feeling banget sama Fikri. Gue emang dari awal paling gak seneng nih kalo Qila suka sama cowok kardus modelan kaya si Fikri-Fikri itu. Tapi ya mau gimana lagi? Gue juga gak enak waktu itu buat ngomongnya ke Qila," Gladis menoleh menatap Qila. "Maaf ya Qil, ini gue lagi jujur dari hati dan relung jiwa terdalamku," lanjutnya, Qila hanya menjawabnya dengan senyuman tipis dan anggukan yang tipis pula. Melihat itu, Gladis kembali menatap depan, tepatnya di Arvin. "Terus kakak tahu gak? Abis itu Ghea bilang, kalo katanya sepupunya itu, berhasil buat Fikri jatuh cinta hanya dalam sekejap doang, bukan kaya Qila yang udah nunggu bertahun-tahun aja, ending perasaannya tetep gak terbalaskan," "b*****t gak tuh Kak?" tambah Gladis kemudian tangan gadis itu mulai mengepal erat. Ah, Arvin sekarang tahu kenapa Gladis bisa semarah itu, ternyata memang apa yang Ghea katakan itu sudah sangat melewati batas. "Terus yang parahnya itu adalah, waktu Qila bilang kalo dia suka Fikri, Ghea bilang ke gue kalo dia gak suka kalo sampe Qila suka sama Fikri karena menurut dia, Fikri itu gak ada bagus-bagusnya, Ghea itu juga sama kaya gue waktu itu Kak, tim yang menentang keras hubungan Qila dan Fikri lebih dari sahabat," "Tapi tadi, dia tiba-tiba cerita soal dia yang berubah fikiran mengenai Fikri. Menurut dia, Fikri mungkin emang jauh lebih baik dari apa yang dia pikirkan selama ini sih. Dan kakak tau apa yang ngebuat Ghea berubah pikiran jadi gitu? Semuanya itu karena si sepupunya Ghea, bilang ke Ghea kalo dia itu suka sama Fikri. Jadi secara otomatis, Ghea bisa langsung tiba-tiba suka sama Fikri gara-gara sepupunya itu. Intinya nih ya, Ghea itu menganggap pilihan sepupunya itu yang paling terbaik," jelas Gladis lagi dan lagi. "Dan dia juga bilang, awalnya tuh dia bingung mau dukung Qila sama Fikri atau sepupunya yang sama Fikri. Tapi setelah dia pikir-pikir, katanya dia lebih setuju sama sepupunya yang sama Fikri deh, soalnya mereka cocok kata Ghea. Mereka saling cinta. Dan lagipula, kata dia itu, mau sekuat apapun Qila berusaha untuk buat hubungan Fikri dan sepupunya itu hancur, Qila gak akan bisa karena Fikri, gak akan bisa berpaling dari sepupunya. Pesona sepupunya itu kuat, kata dia," Gladis mengatur napasnya saat selesai menceritakan itu. Jujur saja sakit rasanya ketika Gladis mendengar Ghea mengatakan itu tentang Qila. Lalu bagaimana dengan Qila yang dikatai seperti itu? Rasanya Gladis sudah tak memiliki kesabaran lagi kepada Ghea. Tanpa ada yang menyadari, tangan Arvin mengepal erat setelah mendengarkan cerita Gladis. Di titik akhir cerita ini, emosi Arvin yang tadinya sebenarnya sudah muncul diawal langsung memuncak seketika. Benar-benar membuat emosi tersulut. Arvin sangat amat maklum sekarang, kenapa Gladis sampai tega menampar Ghea yang notabenya adalah teman gadis itu sejak jaman SMP. Ternyata memang apa yang dikatakan oleh Ghea itu sangat keterlaluan. Arvin bahkan juga sama emosinya seperti Gladis. Namun, tetap saja sebenarnya, tindakan Gladis yang menampar Ghea itu tak bisa dibenarkan. Tapi setelah mendengar cerita ini, Arvin menjadi mengurungkan niatnya untuk memarahi Gladis. Cowok itu akan diam saja, rasa kecewanya pada Gladis juga sudah menguap, hilang entah kemana. Lalu sekarang, perhatian cowok itu berganti beralih pada sosok gadis yang masih berdiri diam di sebelah Gladis, ya dia Qila. Gadis itu hanya diam san membuatkan Gladis menceritakan semuanya. Rasanya, Arvin dapat melihat aura kesedihan pada diri Qila yang biasanya sangat ceria itu. Kemarin, Arvin sudah berhasil membawa Qila ke pasar malam, membuat hadis itu tersenyum dengan lebar. Semalam, Arvin sudah berhasil mengembalikan Qila yang ceria. Namun tak disangka, apa yang Arvin usahakan kemarin malam itu hancur seketika di pagi hari ini. Apa yang kemarin sudah Arvin berikan kepada Qila, Arvin sudah usahakan kepada Qila untuk membuat gadis itu kembali bahagia dan tersenyum ceria di hancurkan begitu saja oleh oknum yang tak disangka-sangka. Ini Ghea, gadis yang Arvin yakini kalau Qila menganggap gadis itu sebagai seorang sahabat baik. Sama seperti Gladis. Namun kenapa gadis itu malah yang hari ini menghancurkan senyum Qila? Arvin tahu apa yamg dilalui Qila di hari-hari sebelum ini sudah sangat berat. Mengenai perjodohan Fikri yang membuat Qila sedih karena gadis itu mungkin saja tak akan bisa lagi pergi bersama-sama dengan Fikri. Lalu sekarang kesedihan gadis itu harus ditambah ketika gadis itu juga harus menerima kenyataan bahwa sekarang, Ghea yang juga gadis itu anggap sebagai sahabat, harus ikut pergi meninggalkannya, sama seperti Fikri. Ghea itu, meninggalkan Qila karena permasalahan Fikri dan sepupu gadis itu. Namun untung saja, Gladis tak ikut meninggalkan Qila. Dan Arvin juga yakin, adiknya itu tak akan meninggalkan Qila. Apapun yang terjadi. Karena kalau sampai hal itu terjadi, kalau sampai Gladis itu meninggalkan Qila, Arvin sendiri yang akan langsung turun tangan untuk menanganinya Arvin tak akan membiarkan Gladis meninggalkan Qila. "Qila...," panggil Arvin dengan suara pelan. Cowok itu bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati Qila. Qila yang mendengar namanya dipanggil itupun menoleh kearah sumber suara. Arvin. Gadia itu menatap Arvin dengan sebelah alisnya yang terangkat. Bingung sekaligus bertanya. Arvin berhenti ketika cowok itu sudah berdiri tepat di depan Qila. Cowok itu menatap Qila lekat, dibalas Qila juga dengan tatapannya. Mereka saling bertatapan satu sama lain dalam waktu yang relatif lumayan lama. Entahlah, mereka terlihat sangat nyaman dengan kegiatan mereka yang saling tatap-menatal itu. Sementara Gladis, gadis yang berdiri tepat di samping Qila itu nampak bingung. Kenapa kakak dan sahabatnya saling tatap menatap seperti itu? Gladis benar-benar menatap mereka aneh. Gladis menatap Arvin dan Qila bergantian. Namun tak lama setelah itu, Gladis menampilkan senyum geli nya. Ah Gladis tahu, keduanya sedang saling mengagumi lewat tatapan. Tatapan itu seperti tak mau beralih sedikit pun. Karena tak mau menganggu dua insan yang sedang dimabuk kasmaran menurut Gladis itu, Gladis dengan segera perlahan menggeser tubuhnya menjauh dari keduanya, Gladis pergi dari sisi Qila dan beralih menghampiri dua laki-laki teman kakaknya yang memang sudah Gladis kenali siapa nama mereka. Saat melihat Gladis berpindah posisi menjadi di dekat kedua laki-laki itu. Keduanya mendadak mengalihkan pandangannya yang tadinya sedang fokus dengan mulut terbuka menatap Qila dan Arvin, berganti menjadi menatap Gladis bingung. Gladis yang merasa seperti sedang ditatap itu juga ikut beralih, balik menatap kedua laki-laki yang saat ini berdiri di dekatnya. Gladis mengetahui arti tatapan itu, tatapan kebingungan sekaligus tatapan yang seperti penuh dengan tanda tanya. "Sst, jangan ganggu mereka Kak," ujar Gladis pada keduanya dengan tangan yang gadis itu letakkan di mulutnya. Gladis mengatakan itu sembari berbisik pada keduanya. Kedua laki-laki itu kompak menutup mulutnya menggunakan tangan kiri mereka. Lalu mereka berdua saling bertatapan dan kemudian mengangguk secara bersamaan, kemudian membentuk tangannya membentuk tanda oke. Gladis tersenyum bangga melihatnya. Kedua laki-laki di depannya ini memang terkenal sangat kompak dan sekarang Gladis bisa membuktikannya. Mereka berdua sekompak itu. Benar-benar memang satu paket. Beberapa saat berlalu, namun keduanya tak kunjung mengalihkan tatapan masing-masing, mereka nampak sangat nyaman dengan aksi tatap-tatapan itu. Gladis tersenyum senang, ah sepertinya Qila juga menyukai kakaknya itu. Gladis senang jika sampai itu benar terjadi. Jadi, apa yang selama ini dia rencanakan berjalan dengan mulus sesuai dengan keinginannya. Kakaknya dengan Qila itu memang sangat cocok. Gladia sudah bisa melihat itu jadi jauh-jaruh hari sebelumnya. Terbukti kan? Benar apa katanya, kakaknya dan Qila memang benar-bena cocok dan serasi. Bahkan untuk mengalihkan tatapan satu sama lain pun mereka enggan. Gladis yakin, saat ini mereka masih menyelami tatapan mata masing-masing. Mungkin sedang mencari rasa nyaman dan sebuah ketulusan. Semoga mereka menemukannya. Dari tempatnya Gladis terus menatap mereka, rasanya seperti ada yang sangat menarik bibirnya untuk terus tersenyum saat melihat Arvin dan Qila. Entah sesuatu apa itu tapi Gladis benar-bena tak bisa menahan untuk tak tersenyum. Sementara kedua cowok tadi, mereka saling tatap masing-masing, keduanya nampak sama sekali belum paham dengan situasi. Kenapa juga mereka harus disuruh Gladis untuk diam. Kenapa Arvin dan Qila tak berhenti bertatapan dan kenapa juga Gladis nampak terus tersenyum menatap Arvin dan Qila. Situasi macam apa ini. Hanya hening saja. Lama-lama kedua cowok itu merasa lelah juga karena sedari tadi mereka terus berdiri. Salah satu cowok itu mengisyaratkan salah satunya lagi yang berdirinya di dekat Gladis untuk mencolek lengan gadis itu. Gladis yang merasakan colekan di lengannya itu langsung mengalihkan pandangannya menjadi menatap si pelaku. Lalu si pelaku malah menunjuk temannya yang ada di sebelahnya itu. "Kenapa?" tanya Gladis setengah berbisik, gadis itu menatap keduanya dengan alis yang terangkat naik dua-duanya. "Ini ada apa sih? Kenapa kita cuma diem doang? Kenapa juga Arvin sama si cewek ramah itu tatap-tatapan lama banget, pegel gue lihatnya, dari tadi diri mulu," ujar cowok itu bertanya sekaligus mengeluh pada Gladis. Gladis sendiri nampak memutar bola matanya malas. Ternyata teman kakaknya ini tak tahu apa-apa, pantas saja mereka terlihat terdiam cengo saja. Tak ada ekspresi lain. "Merek lagi kasmaran, jadi kalian diem aja, gak usah ganggu. Gue juga dari tadi diem kan," ujar Gladis masih setengah berbisik, menjawab pertanyaan teman kakaknya itu. Keduanya nampak mengangguk paham. Oh ternyata karena itu, kalau tau begitu mah, mereka gak akan mengeluh. Mereka sekarang malah menjadi antusias. Kapan lagu coba mereka bisa melihat Arvin kasmaran. Selama menjadi sahabat Arvin, keduanya tak pernah melihat Arvin kasmaran seperti ini. Jadi saat ini adalah hal-hal yang sangat langka. Pantas saja, mereka merasa sedikit aneh melihat Arvin menatap seorang gadis dengan sangat lama seperti itu. Bahkan laki-laki itu seperti tak sadar dengan sekitarnya yang masih ada Gladis dan kedua laki-laki itu. Namun acara tatap-tatapan antara Arvin dan Qila itu akhirnya berhenti ketika Arvin sudah mulai kembali bersuara. "Lo... gak apa-apa kan?" tanya Arvin pada akhirnya, setelah mereka bertatapan dalam jangka waktu yang lumayan sangat lama. Gladis, dan kedua laki-laki itu nampak sangat menanti pembicaraan mereka. Ketiganya menduga pasti setelah ini akan terjadi kecanggungan antara Arvin dan Qila. Nun nyatanya, itu tak terjadi sama sekali. Mereka nampak biasa saja, tak ada canggung sama sekali. Mereka bahkan seperti tak mereka bahwa baru saja selesai bertatapan dengan waktu yang sangat lama. Bagaimana? Gladis benar-benar di buat heran oleh itu. Yang Gladis tahu, Arvin ini tipe cowok yang sangat canggung anaknya. Apalagi kalau cowok itu merasa tak nyaman dengan seseorang uang ada di dekatnya itu. Arvin bukan tipe orang yang mudah akrab dengan orang lain. Berbeda dengan Qila yang sangat anak sosial itu. Namun yang saat ini Gladia lihat, Arvin nampak juga biasa saja, sama seperti Qila. Apa..., virusnya Qila sudah menular pada Arvin. Kalau itu benar, maka itu akan menjadi sangat baik. Setidaknya, Gladis tak akan melihat kakaknya yang selalu tampil dengan wajah datarnya. Jujur saja Gladis sudah bosan dengan wajah kakaknya yang selalu datar saat bersamanya. Hanya selai saja kakaknya itu nampak tersenyum padanya, itu pun hanya disaat Gladis saat itu baru saja putus dengan pacarnya. Gladis tahu, saat itu Arvin tersenyum padanya hanya untuk menghibur dirinya. Agar dirinya tak lagi menangis. Arvin tersenyum tulus padanya sembari mengelus rambutnya lembut. Gladis akui, Arvin itu sosok kakak yang sangat baik. Dia sosok kakak yang sangat peduli dengan adiknya. Mungkin, cowok itu memang terlihat sangat cuek di luar saat bersama dengan adiknya. Tapi saat di dalam, Arvin sangat perhatian dengan adiknya itu. Arvin itu tak menunjukkan perhatiannya secara langsung, namun secara samar. Dia tipe kakak yang seperti itu. Arvin itu gengsi untuk mengakui kalau laki-laki itu menyayangi Gladis, adik satu-satunya. Sementara saat pada Qila, pada awalnya Gladis juga mendapati hal yang sama, Gladis mendapati kakaknya itu menyukai Qila, sahabatnya itu secara diam-diam. Karena kebetulan sekali Qila sedang jomblo dan dia sedikit tak menyukai seseorang yang di sukai Qila, jadi Gladis berniat untuk mendekatkan Qila dengan Arvin. Tak ada niat apapun, semuanya murni ingin mengenalkan mereka saja. Kalau-kalau mungkin Qila tertarik dengan kakaknya lebih lanjut, Gladis dengan senang hati akan membantu dan menerima Qila sebagai kakak iparnya. Tapi, kalau pada kenyataannya Qila tak menyukai Arvin, itu juga tak apa. Gladis tak akan memaksa Qila. Urusan perasaan kakaknya itu, biar jadi urusan kakaknya sendiri. Tapi siapa sangka kan? Ide dari Gladis untuk memperkenalkan Qila pada kakaknya itu berjalan dengan mulus, sesuai dengan keinginannya. Namun sangat disayangkan, saat ini sudah tidak ada lagi Ghea diantara mereka. Andai saja Ghea masih sama seperti dulu, Ghea tak berubah, pasti saat ini Gladis sedang sangat berbahagia bersama Ghea. Merayakan keberhasilan Gladis dalam melaksanakan idenya yang berjalan sesuai keinginan gadis itu. Sebenarnya, Gladis sedikit curiga. Apa benar Ghea berubah? Atau sebenarnya sedari dulu Ghea memang seperti itu? Hanya saja, dia yang tak begitu memahami Ghea dengan baik. Entahlah Gladis tak tahu. Namun yang jelas, sekarang dia kecewa dengan Ghea. Gadis itu sungguh keterlaluan. Meskipun dia berteman lebih lama bersama dengan Ghea, namun Gladis jelas tak bisa membenarkan kelakuan Ghea yang terus menyudutkan Qila lagi. Dan satu fakta yang harus di ketahui. Kalau Ghea itu nampak sangat bangga dan mengagung-agungkan sepupunya itu. Maka Gladis juga nampak sangat bangga bisa memiliki sahabat seperti Qila. Sebelumnya, Gladis tak pernah bisa menemukan seorang seperti Qila. Entahlah, yamg jelas Gladis merasa, Qila sangat spesial. Namun dibalik semua itu, Gladis sebenarnya tetap saja merasa sedih kehilangan sosok Ghea. Sahabatnya dari semasa SMP itu. Gladis tetaplah merindukan sosok Ghea yang dulu selalu ada untuk dia. Ghea yang netral, tak memihak salah satu pihak secara berlebihan sampai menjatuhkan pihak lain yang juga tak bersalah. Bahkan menuduh Qila akan berusaha menghancurkan hubungan sepupu gadis itu dengan Fikri? Gladis rasa itu sudah sangat keterlaluan. Melewati batas. Gladis tak menyangka kalau ternyata pemikiran dari Ghea se-sempit itu. Tapi Gladis tak mau terlalu larut dalam hal itu. Gladis tak mau terlalu larut dalam kehancuran persahabatannya dengan Ghea. Gladis tak menyesal karena sudah kehilangan Ghea mengingat gadis itu baru mengetahui sifat Ghea yang sebenarnya. Gladis malah bersyukur. Setidaknya, dia bisa dijauhkan dari seorang yang toxic seperti Ghea. Gladis juga tak menyesal sudah menampar Ghea demi membela Qila karena memang Ghea pantas mendapatkan tamparan darinya seperti itu. Sekali-sekali Ghea harus mendapatkan pelajaran agar kedepannya gadis itu tak lagi asal berbicara seperti itu. Gladis dengan jelas bisa merasakan rasanya menjadi Qila. Dubamding-bamdingkan dengan orang lain kemudian gadis itu di jelek-jelekkan. Bahkan oleh orang yang sudsh dianggap sebagai sahabatnya sendiri. Gladis sampai saat ini tak habis pikir dengan apa yang ada dipikiran Ghea itu. Bisa-bisanya anak itu mengatakan hal buruk tentang Qila. Padahal gadis itu sendiri tak tahu yang sebenarnya. Harusnya Ghea tahu bagaimana itu Qila, mengingat Ghea juga merupakan sahabat dari Qila. Tapi ternyata Ghea tak begitu mengenal sosok Qila. Gladis jadi curiga, apa selama ini Ghea juga tak mengenal baik sosok dirinya? Apa nanti jika ada sesuatu tentangnya yang bersangkutan dengan sepupu gadis itu, Ghea juga akan memperlakukan Gladis sama seperti apa yang Ghea perlakukan pada Qila tadi? Apa Ghea juga akan menilai Gladia seburuk itu? Ah, sepertinya memang iya. Sungguh sangat miris. Jadi, sampai sini bukannya sudah benar? Gladis mengambil keputusan yang benar untuk membela Qila, memihak gadis itu dan meninggalkan Ghea? Qila nampak menggelengkan kepalanya pelan, sekarang menjawab pertanyaan dari Arvin. "Gue gak apa-apa kok Kak Ar. Emangnya gue kenapa?" jawab Qila pada Arvin sembari bertanya balik. Arvin terdengar menghembuskan napas pelan. "Gue tau kalo ada sesuatu yang mengganjal di hati dan pikiran lo Qila," ujarnya menatap Qila serius. Mulut Qila terbuka, hendak bersuara. Namun Arvin tiba-tiba kembali berbicara. "Gue tau soal itu. Dan lo, gak bisa bohong apalagi ngelak lagi Qil. Mata lo bener-bener gak bisa bohong, mata lo seakan mengatakan kalo lo lagi gak baik-baik aja," ujarnya lagi. "Jadi tolong, gue mau denger pengakuan jujur dari mulut lo sendiri. Tolong bilang, kalo lo lagi gak baik-baik aja," tambah Arvin lagi, memohon agar Qila mengatakan hal jujur kepadanya. Entah kenapa, namun Arvin benar-benar ingin mendengarkan kejujuran langsung dari mulut Qila. Arvin ingin Qila menceritakan tentang semua yang sedang gadis itu pikirkan dan gelisah kan sekarang. Arvin ingin, gadis itu bisa menjadikan dirinya sebagai tempat untuk bercerita. Seperti kesepakatan mereka pada awalnya. Arvin ingin Qila mempercayakan dirinya untuk itu. Arvin ingin Qila membagikan segala keluh kesahnya pada dia. "Kak Ar..," suara Qila mendadak melemah. Benar, Qila saat ini sedang tidak baik-baik saja. Mendengar perkataan dari Arvin, membuat Qila tak lagi dapat menyembunyikannya sekarang. Arvin ternyata mengetahui Qila dengan sangat baik. Mata Qila mendadak memanas. Sekuat tenaga gadis itu berusaha untuk menahan air matanya agar tidak turun. Qila melirik dibelakang Arvin yang masih terdapat Gladis, dan kedua laki-laki yang merupakan teman Arvin itu menatap kearahnya dan juga Arvin. Itulah yang menjadi alasan Qila untuk menahan tangisnya. Masih ada orang lain disini. Entahlah, Qila hanya percaya dengan Arvin. Bukan berarti gadis itu tidak percaya dengan Gladis. Hanya saja gadis itu tak mau membuat Gladis khawatir karena dia menangis. Jadi, Qila tak mau menunjukkan tangisnya pada Gladis. Meskipun Qila menyembunyikannya, namun Gladis di tempatnya jelas bisa melihat dengan jelas bagaimana mata Qila yang nampak berkaca-kaca dengan hidung gadis itu yang memerah. Qila yang memang posisinya menghadap pada Gladis dan kedua laki-laki itulah yang membuat Gladis bisa melihat itu dengan jelas. Sementara Arvin, cowok itu berdiri membelakangi Gladis dan kedua temannya itu. Lama Arvin menatap Qila, gadis itu sadar sedari tadi Qila melirik kebelakangnya. Karena itu, Arvin menoleh melihat kebelakang. Dan disitulah Arvin baru mengingat bahwa di rooftop ini, dia tak hanya sedang berdua bersama dengan Qila. Namun ada satu adiknya dan juga dua temannya di sini. Arvin melirik Qila lagi sejenak. Cowok itu paham kalau Qila merasa tak nyaman dengan keberadaan tiga orang yang ada dibelakangnya itu. Melihat itu, Arvin lalu menggerakkan kepalanya menunjuk kearah pintu. Bermaksud menyuruh mereka bertiga keluar. Tiga orang yang memang sedang tadi melihat Arvin dan Qila jelas melihat itu, mereka juga jelas sangat paham dengan apa yang dimaksud Arvin. Untuk kedua teman Arvin itu, mereka langsung mengangguk paham dan menyetujui. Mereka berdua tahu, Arvin sedang butuh privasi dengan Qila. Namun tidak untuk Gladis. Gadis itu nampak tak setuju dan enggan menuruti perintah kakaknya. Gadis itu menggeleng kuat. Dia tak mau meninggalkan Qila disaat dia tahu, Qila akan menangis. Arvin melotot pada Gladis dan kembali menyuruh adiknya itu untuk keluar. Tapi Gladis masih tetap bertahan pada posisinya. Dia tak bergerak sedikitpun. Arvin menghela napas pelan. Cowok itu kemudian beralih mengisyaratkan kedua temannya untuk membujuk Gladis. Dan untungnya, kedua temannya itu paham dengan apa yang diisyaratkan Arvin hanya melalui gerakan kepala itu. Kedua teman Arvin itu mendekati Gladis. "Dek, biarin Qila sama Arvin aja disini ya? Biar Qila jadi urusan Arvin, lo percaya sama kakak lo kan? Kakak lo gak akan apa-apain Qila Dek," ujar cowok satu pada Gladis. Namun Gladis masih diam di tempatnya. Tak bergerak sedikitpun. "Lo ikut gue sama Doni aja ya? Biar Qila bisa nyaman ceritanya sama kakak lo," ujar cowok yang lain sembari menyebut nama cowok pertama tadi. Untuk cowok itu diketahui bernama Putra. Gladis kali ini menoleh menatap dua teman kakaknya itu. "Emang kalo gue disini dia gak nyaman gitu? Gue ini sahabatnya Kak!" tekan Gladis keras kepala. Putra mengangguk dengan tenang. "Iya, gue tau kok kalo lo sahabatnya," ujarnya. "Justru karena lo sahabatnya Qila, lo harus pergi. Qila gak mau buat lo khawatir Gladis, makanya biar kakak lo aja yang tangani Qila okey? Nanti lo bisa tanya ke kakak lo soal Qila. Ya?" tambahnya lagi, memberi penjelasan. "Itu privasi Qila Dis, kalo dia mau cerita sama Arvin, biarin aja ya? Itu kan hak dia," ujar Doni menyahuti. "Udah yok, lo ikut keluar sama gue sama Putra aja. Kasih mereka privasi," ujarnya lagi. Sedikit butuh waktu yang cukup lama untuk Gladis berpikir, sampai gadis itu akhirnya mengangguk setuju. Dia sepertinya memang harus ikut pergi bersama dengan Putra dan Doni untuk memberi Arvin dan Qila privasi. "Ya udah," ujar Gladis akhirnya. Putra dan Doni tersenyum senang mendengarnya. Kedua cowok itu melirik Arvin sekilas lalu berkata 'Good luck bro' tanpa suara. Sebelum pada akhirnya, kedua cowok itu membawa Gladis pergi keluar dari rooftop bersama mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN