CHAPTER 11

1379 Kata
Saat ini Gladis dan Qila sedang berada di UKS. Gladis, gadis itu benar-benar mengobati luka memar di dahi Qila dengan telaten, gadis itu saat ini sedang duduk di hadapan Qila. Sedari tadi, Qila sebenarnya terus mengoceh mengatakan tentang lukanya yang tak perlu di obati. Itu hanya luka kecil dan bla bla bla. Namun Gladis sama sekali tak mendengarkan perkataan Qila sama sekali. Gadis itu hanya diam sembari tangannya terus fokus mengobati luka Qila. Gladis bahkan juga tak berusaha menghentikan ocehan Qila yang sebenarnya juga cukup menyebalkan. "Nih, udah selesai," ujar Gladis setelah selesai mengoleskan obat merah di luka memar yang ada di dahi Qila. Gadis itu sekarang sibuk membereskan kembali obat-obat itu dan memasukkannya kedalam tempatnya. Sedangkan Qila, gadis itu menghembuskan napasnya pelan. Gadis itu baru berhenti mengoceh ketika Gladis selesai mengobati luka memarnya. "Thanks Gladis," ujar Qila berterima kasih pada akhirnya. Percayalah, meskipun Qila sedari tadi mengoceh dan menolak untuk diobati. Namun, gadis itu tetap saja pasti akan mengucapkan terima kasih secara tulus kepada Gladis pada akhirnya. Qila masih tahu tentang cara berterima kasih. "You're welcome Qil," jawab Gladis. Gadis itu saat ini berpindah posisi untuk duduk di samping Qila. "Maaf juga soal tadi. Gara-gara gue lo sampe nabrak dinding dan bahkan nyaris aja jatuh kalo gak ada Arvin," lanjutnya lagi. Qila tersenyum tulus mendengar itu. "Santai Dis. Itu bukan salah lo kok. Emang kayanya jatuh itu udah jadi hobi gue deh, sering banget gue jatuh soalnya, he he," ujar Qila diakhiri dengan kekehan singkatnya. Gladis ikut tersenyum kecil. "Anyway Qil. Harusnya kita sekarang kan pergi nemuin Ghea buat minta penjelasan soal pagi tadi," ujar Gladis baru mengingat perihal Ghea. "Yah gagal deh," tambahnya. "Nggak bisa sekarang gak apa-apa Dis. Nanti kan masih bisa. Kaya sama siapa aja, orang Ghea temen kita sendiri gini juga kok," ujar Qila tenang. Gadis itu nampak sangat santai tak memiliki beban sedikitpun. Padahal, permasalahan ini menyangkut seseorang yang 'sempat' disukai Qila dalam kurun waktu yang cukup lama. "Iya juga sih," ujar Gladis setuju dengan perkataan Qila. "By the way Qil. Gue mau nanya deh. Tapi lo harus jawab jujur nih," ujar Gladis tiba-tiba. "Hm? Nanya apa?" tanya Qila menatap Gladis dengan tatapan yang nampaknya masih sangat santai. Tak berubah sedikitpun seperti tatapan yang tadi. "Mmm, menurut lo itu, Arvin orangnya kaya gimana sih?" tanya Gladis tiba-tiba. Qila sampai terkejut mendengar pertanyaan mendadak dari Gladis itu. Bahkan saking terkejutnya, Qila sampai termundur sedikit ke belakang. "Tiba-tiba? Lo gak salah nanya gitu ke gue Dis?" Qila balik bertanya menatap Gladis heran. Apa manfaatnya Gladis bertanya tentang itu kepada Qila? Rasanya sangat tidak berguna. "Gak salah kok," jawab Gladis santai. "Lo juga kenapa kaya kaget banget gitu sih Qil waktu gue tanya soal Arvin," ujarnya lagi. Qila masih menatap Gladis dengan tatapan herannya. "Ya gimana gak kaget Gladis, lo tanya soal itu tiba-tiba banget. Mana melenceng banget dari pembahasan lagi," ujar Qila menjawab. "Lo juga aneh banget, kenapa tanya soal Kak Arvin ke gue padahal gue gak kenal sama Kak Arvin sama sekali," tambahnya. "Ya gak apa-apa dong Qil. Gue kan cuma pengen tahu aja, gimana sih Arvin di mata cewek-cewek. Boyfriend-able nggak, idaman nggak," ujar Gladis. "Jadi gimana menurut lo?" tanya Gladis lagi. Namun nampaknya, Qila masih belum bisa mencerna keadaan. Terbukti dari mimik wajah gadis itu yang tampak masih sangat kebingungan. "Gimana? Maksudnya gimananya itu gimana?" tanya Qila berbelit-belit. Gladis sebenarnya sudah cukup geram dengan Qila yang sepertinya sedang dalam mode loading lama itu. "Ya itu Qil, menurut lo Arvin gimana? Boyfriend-able gak? Perhatian gak? Idaman gak? Baik gak?" ujar Gladis memaparkan secara jelas dengan sabar. "Ooh," Qila berseloroh paham. Gadis itu nampak mengangguk-anggukkan kepalanya seraya tangan gadis itu mengetuk-ketuk dagunya sendiri. Qila sedang berpikir. Beberapa saat setelah itu, tak butuh waktu lama, Qila langsung membuka suara. "Mmm menurut gue, Kak Arvin baik kok orangnya. Dia boyfriend-able juga, perhatian juga, sabar, cool. Dan pastinya dia idaman banget sih," ujar Qila menjelaskan pendapatnya tentang Arvin dengan jujur. "Jadi intinya lo beruntung banget sih Dis bisa jadi pacarnya dia. Makanya jangan di sia-siain ya Kak Arvinnya. Dia langka banget soalnya, paket komplit," tambahnya seraya mengangguk yakin. Gladis manggut-manggut paham dengan perkataan Qila. "Ooh, jadi gitu ya Arvin di mata lo," ujarnya. "Bagus-bagus. Jadi Arvin gak minus-minus banget," lanjutnya. Qila nampak menukikkan alisnya bingung. "Ha?" beo Qila. "Kak Arvin minus? Minus dari mananya? Dari akhlak dia baik banget, perfect banget, kepribadian juga, muka apalagi, ganteng perfect banget itu gak ada tanding," papar Qila dengan mulut super jujurnya. Lagi dan lagi Gladis manggut-manggut paham dengan perkataan Qila. "Ah, ternyata seperti itu pandangan Qila tentang Arvin. Sangat sempurna," batin Gladis tersenyum senang. Gladis cukup bangga dengan pesona Arvin yang bisa menembus Qila yang memang anaknya sangat sukit untuk di taklukan dalam waktu sekejap yang sangat relatif singkat ini. Namun, baru saja Gladis membatin seperti itu, tiba-tiba Qila kembali berkata. "Palingan yang kurang dari Kak Arvin cuma satu aja sih," tambah Qila lagi di akhir. Gladis langsung nampak sangat penasaran dengan kata 'kurang' yang disematkan Qila itu. Arvin kurang apa? "Kurang apa dia Qil?" tanya Gladis dengan cepat. Gadis itu sangat penasaran. "Mmm dia kurang senyum aja sih," jawab Qila dengan santai. Diam-diam Gladis langsung menyetujui perkataan Qila di dalam hatinya. Arvin memang terlalu kaku. Cowok itu memang kurang dalam hal senyum. "Tapi, itu justru sebenernya malah bagus buat lo nya Dis menurut gue," tambah Qila lagi membuat Gladis mengerutkan dahinya bingung "Bagus buat gue? Maksudnya? Bagus dari mananya Qil?" tanya Gladis bingung. "Ya kalo menurut gue mah itu bagus soalnya Kak Arvin jarang senyum ke cewek-cewek lain tapi kalo ke pacarnya pasti dia sering senyum. Itu sama aja kaya Kak Arvin cuek ke cewek lain tapi enggak ke pacarnya," Qila menjelaskan pendapatnya panjang lebar secara rinci. "Jadi, kalo jadi pacarnya Kak Arvin tuh rasanya kaya di spesialkan gitu loh Dis. Lo pasti paham kan?" ujarnya lagi. Gladis terdiam sejenak dengan kepala yang mengangguk-angguk pelan. Setuju dengan apa yang dikatakan Qila. Memang benar. Orang yang memiliki pacar seperti itu pasti merasa dirinya di spesialkan. Gladis tentu saja memahami perkataan Qila dengan jelas. "Bener-bener. Gue paham maksud lo," ujar Gladis. "Jadi ini intinya si Arvin banyakan positif nya kan daripada negatif?" tanya Gladis lagi. Qila mengangguk pelan dengan santai. "Yaa, bisa dibilang gitu lah," ujar Qila. "Udah ah Dis, kenapa jadi bahas Kak Arvin mulu sih," lanjutnya kemudian. "Lah iya juga ya," ternyata Gladis juga baru sadar bahwa mereka sedari tadi membicarakan Arvin. Qila memutar bola matanya malas melihat tingkah Gladis. "By the way, makanan gue mana sih Dis? Lo nitip ke siapa tadi? Kok lama?" tanya Qila. "Itu gue nitip ke Ar-," belum sempat Gladis selesai berbicara, tiba-tiba pintu UKS terbuka. Dan munculah sosok laki-laki yang sedari tadi mereka bicarakan. Ya, dialah Arvin. "Ini pesenan lo," ujar Arvin dengan ekspresi datar sembari menyerahkan sekantung kresek kepada Gladis. "Sorry lama. Tadi ngantri," tambahnya lagi. Qila menggaruk tengkuknya yang tidak gatal mendengar perkataan terakhir yang keluar dari mulut Arvin. Qila takut Arvin mendengar perkataannya tadi. Karena malu, Qila lebih memilih diam dan mengalihkan pandangannya dari Arvin. "Itu temen lo kenapa? Risih banget kayanya kalo ada gue disini," ujar Arvin lagi membuat Qila langsung menoleh menatap Arvin panik. "Ah enggak Kak, gak gitu," ujar Qila cepat-cepat menyangkal perkataan Arvin. Sedangkan Arvin, cowok itu nampak menatap Qila aneh. Namun setelah itu cowok itu terlihat menghendikkan bahunya acuh. "Itu makan, jangan sampe magh lo kambuh," ujar Arvin misterius lalu cowok itu berjalan menuju pintu. Sebelum cowok itu pergi, cowok itu menyempatkan diri untuk berbalik lagi. "Tunggu disini, jangan balik ke kelas dulu sebelum gue kesini lagi," peringat Arvin memerintah lalu cowok itu melanjutkan langkahnya dan menghilang dari pandangan Qila dan Gladis. "Dis..., Kak Arvin gak mungkin denger omongan gue tadi kan?" tanya Qila dengan cengo. Gadis itu masih menatap pintu yang baru saja di lalui Arvin. "Kak Arvin juga gak mungkin cenayang kan karena bisa tahu gue punya penyakit magh? Gue gak terlihat se-penyakitan itu kan?" lanjutnya lagi masih bertanya dengan ekspresi cengonya. Gladis sendiri, gadis itu hanya menggeleng entah kenapa. Gadis itu sendiri juga bingung bagaimana Arvin bisa tahu Qila memiliki sakit magh. Padahal, Gladis tak pernah memberitahu soal itu kepada Arvin. Aneh!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN