Malam semakin larut, namun suasana di pasar malam bukannya semakin sepi namun malah bertambah semakin ramai. Kedua remaja yang merupakan Arvin dan Qila itu juga belum berniat untuk pergi dari sana. Mereka masih nampak menikmati suasana pasar malam.
Pasar malam ini bukan pasar malam kecil seperti biasnya. Di pasar malam ini bahkan ada beberapa wahana yang cukup bagus dan lengkap. Kenapa seperti itu? Karena pasar malam ini merupakan pasar malam rutin. Jadi, tempatnya pun memang sudah permanen. Hal itulah yang membuat pasar malam ini memiliki berbagai permainan yang lengkap.
Saat ini, Arvin dan Qila terlihat sedang duduk di kursi yang ada di sana. Mereka, nampak terlihat sedang tertawa bersama, sesekali hanya tersenyum memandangi riuh ramai pasar malam atau terkadang mereka juga nampak sedang memakan beberapa jajanan yang memang di jual di sana.
Seperti saat ini, Qila nampak terlihat sedang menikmati permen kapas yang ada di genggamannya. Tadi, Arvin memang sengaja membelikan gadis itu permen kapas karena dia merasa, akan sangat kurang jika berada di pasar malam namun tidak membeli permen kapas yang memang sudah menjadi makanan ikon di pasar malam.
Apalagi saat ini Arvin bersama Qila. Biasanya yang Arvin tahu, ketika ada seorang laki-laki yang datang ke pasar malam bersama dengan perempuan, pasti si laki-laki akan membelikan si perempuan permen kapas. Dan itulah yang saat ini sedang dilakukan Arvin. Bukannya Arvin berniat modus atau sok care dengan gadis itu. Hanya saja, Arvin memang murni ingin membelikan saja, berniat permen kapas setidaknya bisa menghibur gadis itu.
Ah, sebenarnya Arvin juga pernah membaca di artikel soal laki-laki yang memberikan perempuan boneka saat di pasar malam. Namun boneka itu di dapatkan dari suatu permainan. Bukan membeli. Di artikel itu mengatakan, memberikan boneka kepada perempuan dengan hasil kerja keras memenangkan permainan itu lebih sangat terasa untuk si perempuan. Arvin jadi ingin melakukannya sekarang. Dia juga ingin memberikan gadis itu boneka.
Ya memang benar bahwa Arvin seringkali membaca artikel-artikel semacam itu akhir-akhir ini, atau lebih tepatnya, begitu cowok itu mengenal sosok Qila.
Kalau boleh jujur, sebenarnya niat untuk mengambil hati Qila itu tentu saja terbesit di pikiran Arvin. Namun fokus utamanya hari ini dengan membawa Qila ke pasar malam bukan karena hal itu. Tapi, itu semua murni Arvin ingin menghibur Qila. Meringankan beban gadis itu. Arvin ingin setidaknya dengan dia mengajak Qila ke pasar malam bisa membuat pikiran Qila lebih tenang.
"Gimana hari ini Qil, lp seneng kan?" tanya Arvin sembari memperhatikan Qila yang duduk disebelahnya. Yang Arvin tangan dari penglihatannya, Qila saat ini sedang mengamati sekitarnya. Mata gadis itu terlihat bercahaya karena lampu-lampu pasar malam ini.
"Banget Kak Ar. Aku seneng banget, bahagia juga," ujar Qila menjawab pertanyaan dari Arvin. Rasanya, Arvin sebenarnya tak perlu bertanya seperti itu kepada Qila karena pada kenyataannya gadis itu tentu saja akan senang Siapa yang tak senang diajak jalan-jalan, diperlakukan dengan baik, dituruti semua kemauan oleh seorang laki-laki seperti Arvin. Laki-laki yang sangat gentle dan tampan ini.
Kalau dipikir-pikir, Arvin saat ini sudah jauh berbeda dari Arvin yang sebelumnya. Arvin jauh lebih sering berbicara dan jauh lebih ekspresif. Qila seperti melihat Arvin saat di kantin waktu itu. Sama persis. Hanya saja, saat itu Arvin belum sebanyak perubahan seperti malam ini.
Entah karena apa Arvin menjadi lebih banyak berubah hari ini. Qila tak tahu. Gadis itu juga kalau boleh jujur sampai saat ini masih sedikit terkejut ketika mengingat perkataan Arvin tadi. Menyatakan cinta? Qila tak pernah berpikir sejauh itu perihal Arvin. Dia takut kecewa.
"Bagus deh kalo lo seneng. Jadi usaha gue buat aja lo kesini gak sia-sia," ujar Arvin bernapas lega. Lega rasanya mendengar jawaban dari Qila. Persis seperti yang Arvin harapkan.
"Iya Kak Ar. Terima kasih ya udah ajak gue kesini. Setidaknya, malam ini gue gak ngerasa kesepian. Setidaknya hari ini gue gak ngerasa sedih," ujar Qila menjawab. Kali ini gadis itu tak lagi mengamati sekitarnya. Melainkan dia menunduk menatap kakinya yang memijak tanah. "Kak Arvin, Gladis dan keluarga kalian udah banyak bantu gue. Gue gak tahu harus kaya gimana gue ngebalas budi kalian. Rasanya, ucapan terima kasih aja gak akan cukup untuk mewakili semua bantuan kalian," lanjutnya.
Arvin masih tetap di posisi yang sama. Disebelah Qila dengan mata yang juga masih fokus em atap gadis itu. "Lo gak perlu ngerasa gitu. Lo sebenernya juga gak perlu ngapa-ngapain Qila. Bahkan untuk bilang terima kasih aja rasanya itu gak perlu," ujar Arvin dengan senyum kecilnya. "Gue, Gladis ataupun keluarga gue, itu murni mau nolong lo. Lagipula, apa sih yang kita lakuin buat lo? Hanya ngasih tempat tinggal sementara Mama lo gak ada di rumah kan? Udah, itu aja yang kita lakuin," tambah Arvin lagi.
Kali ini Qila mendongak lalu menoleh untuk menatap Arvin. Mata Qila langsung bertatapan dengan mata Arvin begitu gadis itu menoleh. Arvin, cowok itu sedari tadi memang masih senantiasa menatap Qila.
Qila salah tingkah gara-gara itu. Tentu saja. Namun berbeda dengan Arvin yang nampak masih lempeng-lempeng saja dengan matanya yang masih fokus menatap Qila disertai dengan senyum cowok itu. Qila pun membalasnya. Gadis itu juga tak mengalihkan pandanganya dari Arvin meskipun salah tingkah. Gadis itu bahkan malah balas tersenyum pada Arvin membuat suasana diantara mereka terkesan romantis.
"Kak Arvin, mungkin lo mikir memberi tempat tinggal sementara selagi Mama gue gak ada di rumah itu hal sepele. Nyatanya itu enggak buat gue Kak Ar," ujar Qila sedikit melirih. "Di kondisi gue saat ini yang gue sendiri gak tahu gimana kabar hati gue, gue bener-bener membutuhkan tempat untuk cerita. Gue butuh temen. Dan kalau gue di rumah, itu berarti gue sendiri. Tapi untung aja keluarga Kak Arvin sama Gladis mau nampung aku buat sementara waktu. Terima kasih ya," ujar Qila lagi dengan tulus.
Arvin akhirnya menghela napas pasrah. "Gak masalah," ujarnya. "Dan lagi satu Qil. Lo harus tetep inget untuk langsung kabari gue atau Gladis kalo lo ada apa-apa. Jangan pernah sungkan sama gue ataupun adek gue itu," lanjutnya dengan nada serius.
Qila tampak terdiam sejenak untuk berpikir. Kenapa Arvin? Bukannya dengan begitu dia akan menjadi sangat beban? Namun tak urung gadis itu tetap mengangguk. Meskipun ragu.
"Terima kasih Kak. Dan aku bakalan usahain untuk itu," jawab Qila seadanya. Arvin nampak mengangguk.
"Inget Qila. Jangan pernah sungkan untuk itu," tutup Arvin di pasar malam itu.