Semua masih berlanjut. Saat ini hanya keheningan yang menyelimuti ketiga sahabat ini. Baik Qila, Ghea ataupun Gladis semuanya menutup mulutnya tak berbicara sama sekali.
Menit demi menit berlalu, ketiganya masih diam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Qila, Ghea dan Gladis terlihat kompak menundukkan kepalanya. Menatap sepat mereka masing-masing.
Entah kenapa, memang itulah yang sering mereka lakukan ketika sedang sibuk dengan pikiran masing-masing.
Sampai pada akhirnya keheningan itu di pecahkan oleh Qila yang mulai membuka mulutnya, berbicara.
"Ghe," panggil Qila pada Ghea mampu membuat perhatian kedua gadis yang duduk di kanan kiri Qila terfokus pada gadis itu.
Padahal hanya Ghea yang dipanggil, namun yang menoleh dan memfokuskan pandangannya pada Qila adalah keduanya. Ghea dan Gladis.
"Ya?" balas Ghea seraya menaikkan sebelah alisnya entah itu tanda bertanya atau kebingungan. Qila tidak tahu.
"Mmm, gue pengen tau deh. Sebenernya, lo tahu soal perjodohan Fikri itu dari mana? Bukannya itu privasi ya? Rasanya aneh kalo sampe lo bisa tahu soal itu padahal itu privasi banget," ujar Qila panjang lebar menyampaikan apa yang sebenarnya sedari tadi dia pikirkan. Gadis itu benar-benar penasaran bagaimana Ghea bisa tahu tentang perjodohan Fikri itu. Pada kenyataannya, sebenarnya bukan hanya Qila yang dibuat penasaran dengan itu, namun Gladis diam-diam juga penasaran. Namun gadis itu memilih diam karena dia tahu, bahwa Qila pasti akan menanyakan tentang hal itu. Dan benar saja, Qila pada akhirnya menanyakannya. "Okelah kalo mungkin pertunangan itu biasanya gak terlalu privasi. Tapi, ini kan masih rahasia, baru pertemuan keluarga juga. Jadi gue ngerasa aneh aja kalo lo bisa tahu itu, apalagi setahu gue, lo gak deket sama Fikri sama sekali meskipun kalian temen sekelas," lanjut Qila lagi. Kali ini gadis itu menyampaikan rasa 'curiga'nya mungkin?
Memang rasanya aneh ketika Ghea bisa tahu hal se-privasi itu dari Fikri padahal Ghea sama sekali tidak dekat dengan Fikri. Meskipun mereka teman sekelas, tapi itu tak menjadikan alasan untuk Ghea dan Fikri menjadi dekat. Bahkan mereka hanya sekedar mengetahui nama masing-masing. Tanpa tahu lebih lanjut.
Mungkin Ghea hanya mengetahui bahwa Fikri itu adalah sahabat Qila. Dan begitupula sebaliknya, Fikri mungkin hanya mengetahui bahwa Ghea adalah sahabat Qila.
Beberapa menit kembali hening. Ghea tak kunjung menjawab pertanyaan Qila. Gadis itu bahkan hanya diam dengan pandangan yang dapat Qila dan Gladis lihat bahwa gadis itu sedang bimbang. Ghea bergelut dengan pikirannya sendiri.
Entah apa yang membuat gadis itu bimbang. Namun, sepertinya gadis itu sedang mem-bimbangkan apakah dia harus jujur dan memberitahu Qila yang sebenarnya? Ataukah malah diam saja tanpa menjawab dan membuat semuanya menjadi menggantung? Yang tentu saja di opsi kedua itu, akan membuat Qila dan Gladis diliputi rasa penasaran yang besar.
Bel masuk tiba-tiba berbunyi disaat Ghea belum sempat menjawab pertanyaan dari Qila. Mendengar bel itu, Gladis rasanya ingin marah saat itu juga saking kesalnya. Disaat seperti ini, bisa-bisanya bel masuk menghancurkan semuanya.
"Ck. Yahhh, aishhhh bel sialan," terdengar decakan, desahan malas dan u*****n keluar dari mulut Gladis secara berurutan. Raut wajah kesal tak lagi dapat Gladis sembunyikan. Jelas saja, wajah gadis itu tampak sangat keruh.
Mungkin jika saat ini tidak dalam situasi semacam ini, Qila pasti akan mencibir komuk wajah Gladis yang nampak sangat lucu itu. Namun, saat ini tidak bisa. Situasi sedang tak mendukung Qila untuk melakukan itu.
"Jadi gimana Ghe? Bisa lo jelasin lo tahu darimana soal perjodohan Fikri itu?" ujar Qila kembali mengulang pertanyaannya tadi. "Jujur aja gue ngerasa penasaran sekaligus aneh ketika lo tahu tentang itu. Tapi, gue rasa lo punya penjelasan yang kuat. Lo gak perlu merasa terintimidasi karena gue gak sedang mengintimidasi lo. Gue cuma nanya," lanjut Qila lagi.
"Gue cuma pengen tau aja Ghe, gak lebih," tambah Qila lagi diakhir.
Beberapa saat masih hening. Tak ada jawaban dari Ghea. Gadis itu masih senantiasa terdiam menutup mulut di tempatnya. Disisi lain, Qila dan Gladis masih senantiasa menunggu jawaban Ghea. Meskipun sudah mendengar bel, mereka tak beranjak dari duduknya barang sedetik pun.
Sampai pada akhirnya, terdengar suara helaan napas pelan dari Ghea. Oknum yang sedari tadi Qila dan Gladis tunggu untuk bersuara.
"Qil," ujar Ghea pelan. "Gue akan kasih tahu lo, tapi nanti. Enggak untuk sekarang. Ceritanya terlalu panjang dan butuh waktu untuk mencernanya," lanjut Ghea lagi.
"Jadi gue putusin buat cerita nanti. Gue pasti cerita Qil, gak mungkin enggak. Lo tau gue," tambah Ghea. "Jam istirahat Qil. Gue akan ceritain semuanya. Dari awal sampe akhir," ujarnya.
Qila dan Gladis masih terdiam tak menjawab.
"Sekarang udah bel masuk. Gue balik ke kelas dulu ya. Jangan terlalu dipikirin soal itu. Gue pasti akan cerita kok. Fokus pelajaran Qil," peringat Ghea tak mau Qila sampai kepikiran dan membuat konsentrasi gadis itu terganggu. Ghea kemudian beranjak dari duduknya untuk berdiri. Diikuti dengan Qila dan Gladis yang juga ikut beranjak dari duduknya untuk berdiri.
Qila tersenyum tipis. "Kaga lah Ghe, gue pasti fokus kok," ujar Qila menenangkan Ghea. Agar gadis itu tak terlalu mengkhawatirkan Qila.
"Iya Ghe, lo tenang aja. Qila aman sama gue, entar kalo dia mulai meleng gak fokus, gue tinggal noyor palanya aja biar balik fokus," tambah Gladis menyahuti dengan sedikit tawanya. Bercanda.
"Menang banyak lo bisa noyor pala emas gue," ujar Qila menyahuti perkataan Gladis. "Na na na," lanjutnya sembari menjentikkan jari telunjuknya lalu menggoyangkan ke kiri dan kanan.
"Lo gak bisa seenak jidat noyor pala gue yang berharga ini," Qila menggelengkan kepalanya. "Enggak bisa ya!" tekannya lagi dengan mulut yang dibuat cemberut galak.
Gladis dan Ghea tertawa melihat tingkah Qila itu. Hmmm, gadis ceria ini. Bagaimana bisa mengalami kisah cinta yang begitu rumit. Mencintai sahabatnya sendiri selama 3 tahun dan tak kunjung mendapatkan balasan atas cintanya.
"Udah ah, kalo ngeladeni Qila terus mah gak akan kelar-kelar," pisah Ghea. "Gue balik kelas dulu ya guys. Babayyy," pamit Ghea kemudian gadis itu melakukan high five sebelum pada akhirnya benar-benar berjalan menjauh dari area depan kelas Qila dan Gladis.
Setelah Ghea benar-benar menghilang dari pandangan Qila dan Gladis, kedua gadis itu pada akhirnya juga memasuki kelas mereka secara bersamaan.
"Qil, lo beneran gak apa-apa kan? Hati lo beneran baik-baik aja kan? Gak sakit kan?" tanya Gladis beruntun begitu mereka duduk di bangku masing-masing.
Qila menatap Gladis dengan pandangan aneh. Namun sedetik kemudian gadis itu tersenyum. Ah, ternyata Gladis juga benar-benar mengkhawatirkan keadaannya. Sama seperti Ghea tadi. Qila merasa beruntung memiliki sahabat seperti Gladis dan Ghea. Meskipun terkadang mereka sangat jahil dan usil juga menyebalkan. Namun di balik itu semua, mereka sangat menyenangkan dan sangat perhatian kepada sahabatnya.
"Gue gak apa-apa beneran Dis. Lo gak perlu khawatir, secara fisik gue baik, hati gue baik, perasaan gue juga baik," jawab Qila menenangkan Gladis. "Mental gue juga udah pasti baik," lanjutnya disertai kekehan kecil.
Gladis masih menatap Qila intens. "Beneran deh Qil, lo bisa cerita ke gue tentang apapun. Tentang apa yang lo rasain sekarang," ujar Gladis. "Gue siap jadi pendengar lo. Gue janji gak akan motong cerita lo, gue juga janji akan jaga rahasia lo secara baik-baik. Semua aman sama gue. Lo gak perlu khawatir gue bakalan ember. Suer," tambah Gladis lagi seraya mengangkat kedua jari tangannya membentuk peace.
Qila terkekeh kecil mendengar perkataan gadis itu. Sedangkan Gladis, gadis itu menatap Qila bingung. Apa yang salah? Kenapa Qila tertawa? Itulah yang saat ini ada di pikiran Gladis.
"Lo kenapa sih Dis? Gue beneran gak apa-apa. Gue juga lagi gak ada yang mau di ceritain," ujar Qila. Gladis hendak menyahut namun dengan cepat Qila berbicara sebelum Gladis membuka suara. "Bahas yang lain aja Dis. Jangan soal itu, gue bosen lama-lama," potong Qila.
Gladis yang awalnya sudah membuka mulut siap bersuara menjadi kembali menutup mulutnya. Mengurungkan niat.
Namun tak berselang lama, Gladis kembali membuka mulutnya.
"Ah iya!" ujar Gladis penuh semangat. "Bahas kemarin lo pulang bareng Arvin aja! Jadi gimana?" tanya Gladis kemudian dengan senyum cerianya.
Qila mendadak diam bingung harus menjawab apa. Bukan apa-apa, hanya saja memang Qila tidak tahu apa yang bisa di bahas dari itu. Mereka kemarin hanya pulang bersama, Arvin mampir ke rumahnya sebentar dan setelah itu Arvin pulang.
Sudah, hanya se-simple itu. Tidak ada hal penting yang bisa di ceritakan.
"Ha?" bingung Qila. "Apa yang mau di ceritain dari itu?" Qila balik bertanya karena kebingungan.
"Ya ituu, jadi gimana waktu kemarin lo pulang bareng Arvin?" Gladis mengulang pertanyaannya yang tadi. Dan itu semakin membuat Qila tidak paham.
"Ya dia anterin gue ke rumah. Emang apa yang bisa di ceritain dari itu sih Dis? Aneh lo mah," ujar Qila.
Gladis masih tak memudarkan senyumnya meskipun gadis itu dibuat sedikit kesal oleh jawaban Qila. "Ish Qila yang cantik, maksud gue itu waktu Arvin main di rumah lo," ujar Gladis menjelaskan. "Kemarin dia cerita katanya dia pulangnya agak lama gara-gara dia main di rumah lo dulu, numpang sholat sama makan. Katanya dia juga, dia ketemu sama Mama lo ya kemarin?" tanya Gladis antusias.
Qila malah dibuat kicep oleh pertanyaan Gladis. Bukan apa-apa, Qila hanya terkejut kalau ternyata Gladis sudah mengetahui itu semua. Ya walaupun itu sederhana namun tetap saja, rasanya aneh ketika pacar sahabatnya mengantarkan dia pulang bahkan sampai bertemu dengan Mamanya.
Qila jadi khawatir, apa Gladis tahu soal Mamanya yang kemarin sempat menggoda Qila dan Arvin? Ah! Sebelum terjadi kesalahpahaman, lebih baik Qila menjelaskan terlebih dahulu.
"Ohhh soal itu," ujar Qila. "Ya gak gimana-gimana sih. Iya, Kak Arvin kemarin sempet mampir ke rumah. Inget ya Dis, ini mampir bukan main. Kak Arvin mampir juga karena Mama gue paksa soalnya waktu itu pas banget deket maghrib. Takutnya nanti Kak Arvin di jalan gak keburu, terus juga gak baik kan maghrib-maghrib naik motor. Jadi ya gitu, Mama gue minta Kak Arvin buat mampir ke rumah gue dulu bentar buat sholat sekalian makan," jelas Qila panjang lebar.
"Tapi waktu itu juga ada Fikri kok. Jadi ya kita makan ramean tuh sama Mama dan Fikri juga," lanjut Qila menjelaskan. Mendengar nama Fikri, wajah Gladis yang tadinya ceria mendadak sedikit suram. Namun tak lama setelah itu wajahnya kembali berseri-seri ketika Qila melanjutkan perkataannya. "Oh iya Dis. Sebelum ada kesalahpahaman, gue mau cerita juga nih sama lo. Tapi please, lo jangan marah ya," ujar Qila yang langsung dijawab dengan anggukan semangat dari Gladis.
"Ya! Pasti!" semangatnya.
"Jadi, kemarin Mama gue sempet bercanda soal Kak Arvin sama gue gitu," tambah Qila lagi. Dan perkataan itu tak membuat senyum ceria di wajah Gladis memudar. Qila jadi takut sendiri melihat itu. Aneh rasanya. "Inget ya Dis, Mama gue itu bercanda. Tapi tenang aja sih, gue udah langsung klarifikasi ke Mama kok kalo Kak Arvin itu pacar lo," jelas Qila lagi kemudian.
Gladis masih diam dengan senyumnya yang tak kunjung memudar. Qila benar-benar dibuat cemas melihat itu.
"Dis, lo kenapa senyum-senyum terus sih?" tanya Qila pelan pada akhirnya. "Lo aneh tahu gak. Lo harusnya marah ke gue atau seenggaknya sedih gitu gara-gara pacar lo ketemu Mama gue. Kenapa lo malah seneng?" Qila kembali bertanya.
Gladis tiba-tiba memudarkan senyumnya. Wajah gadis itu sudah kembali kesedia kala. "Gak gitu Qila. Gue seneng aja karena lo mau jujur sama gue tentang semuanya yang terjadi tanpa lo kurangin atau lebihin," ujar Gladis jujur. "Gue juga gak masalah soal apa yang dibilang sama Mama lo. Itu terlalu sepele Qila," lanjut Gladis lagi.
Qila akhirnya bisa bernapas lega mendengar jawaban Gladis. Memang Qila tak salah pilih sahabat.
Beruntung juga Arvin bisa mendapatkan gadis sebaik dan se-pengertian Gladis. Qila berharap hubungan mereka terus berlanjut. Mereka benar-benar pasangan yang sangat sempurna menurut Qila.
"Syukurlah lo gak marah Dis. Gue kira lo bakalan marah sama gue," ujar Qila bernapas lega.
"Kaga lah. Santai aja sama gue mah," balas Gladis tulus.
Gladis benar-benar mengapresiasi kejujuran Qila kepadanya. Sahabatnya itu, benar-benar sangat baik. Ketika sahabat lain mungkin memilih berbohong dengan embel-embel 'menjaga persahabatan' Qila malah dengan berani berkata jujur agar tak ada kebohongan. Bahkan Qila mengatakan sejujurnya padahal Gladis tak bertanya tentang itu sama sekali.
Gladis benar-benar salut dengan Qila. Gladis yakin, Qila adalah gadis yang baik dan ceria. Namun sayangnya, gadis itu memiliki kisah percintaan yang pahit. Padahal Gladis juga yakin, Qila adalah gadis yang tulus, perhatian, pengertian dan yang pastinya setia.
Ah entahlah, Gladis tak paham kenapa di jaman sekarang banyak gadis baik seperti Qila malah di sia-siakan. Benar-benar tak masuk akal.