CHAPTER 13

1351 Kata
Beberapa menit sudah berlalu semenjak kepergian Gladis yang meninggalkan Arvin dan Qila berdua di UKS. Namun sampai saat ini, gadis itu belum juga kembali. Diantara Qila dan Arvin sendiri, keheningan sudah menyelimuti mereka sejak beberapa menit lalu. Dikarenakan pembahasan mereka yang sangat minim itu telah usai. Mereka tak tahu harus membicarakan apa lagi. Qila sebenarnya adalah tipe gadis yang tak bisa diam. Seperti yang di ketahui, Qila adalah gadis yang sangat ramah dan mudah akrab dengan orang baru. Namun ketika bersama Arvin, Qila mendadak menjadi lumayan segan. Qila merasa tak enak. "Lo itu pacarnya Fikri ya? Gue lihat kalian deket banget," ujar Arvin memecahkan keheningan diantara mereka. Qila senang mendengar Arvin mulai membuka topik baru. Meskipun itu topik yang sebenarnya sedang tak ingin Qila bahas. Namun tak apalah, lagipula itu tak berpengaruh untuk Qila kan? "Ah bukan Kak. Fikri cuma sahabat gue kok," ujar Qila membenarkan. Memang masih banyak sekali warga sekolah yang mengira Qila dan Fikri berpacaran saking dekatnya mereka. "Oh, gue kira kalian pacaran. Kelihatan deket banget soalnya," ujar Arvin. "Kemarin waktu gue anterin lo pulang juga ada Fikri yang nungguin lo di rumah lo," lanjutnya lagi. Qila mengangguk sekilas. "Iya Kak, dia emang biasa main ke rumah gue gitu, buat sekedar nongkrong atau kalau nggak curhat gitu," ujar Qila menjelaskan. "Lagipula kemarin itu dia ke rumah gue cuma buat kasih kabar ke gue soal dia yang mau dijodohin sama Mamanya," lanjutnya lagi. "..." Arvin bingung harus bereaksi seperti apa. Jadi cowok itu memilih untuk diam terlebih dahulu. "Mmm Kak," panggil Qila pada Arvin. Arvin yang mendengar namanya dipanggil itu langsung menoleh menatap Qila yang duduk disampingnya dengan kedua alisnya yang terangkat naik juga dengan tatapan bertanya miliknya. Tanpa menunggu Arvin bersuara, bahkan hanya dengan melihat tatapan Arvin Qila sudah tahu bahwa Arvin mengizinkannya untuk bersuara. "Gue boleh cerita sama lo nggak sih? Gue gak tahu lagi harus cerita sama siapa. Mau cerita sama Gladis atau Ghea, tapi gue takut mereka khawatir sama keadaan gue," ujar Qila lagi meminta persetujuan. "Gue cuma butuh pendengar doang kok Kak. Janji deh gue gak akan ngrepotin lo. Seenggaknya kalo gue cerita sama Kak Arvin, gue gak akan takut membebani pikiran seseorang karena jelas Kak Arvin gak mungkin repot-repot mikirin masalah gue. Iya kan?" tambah Qila lagi. Beberapa saat Arvin masih diam belum membuka suara sama sekali. Qila harap-harap cemas dalam menunggu jawaban dari Arvin. Takut mendapatkan penolakan. Namun pada akhirnya Qila bisa bernapas lega ketika gadis itu melihat anggukan singkat dari Arvin yang seakan menjawab seluruh pertanyaan yang menumpuk di pikirannya. "Iya, lo boleh cerita sama gue kok," jawab Arvin. "Lo bisa anggep gue sebagai temen cerita lo. Lo boleh cerita apapun dan kapanpun ke gue. Lo gak usah sungkan," ujar Arvin lagi. Cowok itu menatap Qila dengan tatapan tulus. Murni berniat membantu Qila. Tak ada sedikitpun tatapan kasihan yang dipancarkan mata Arvin saat melihat Qila. "Lo sahabat Gladis. Mungkin lo udah banyak ngebantu dia. Jadi, biarin gue ikut balas budi dengan cara itu," tambah Arvin lagi. Qila tersenyum tipis. Gladis benar-benar beruntung memiliki Arvin. "Sebenernya gue gak butuh balasan untuk itu Kak. Gue beneran tulus bantuin Gladis," ujarnya. Arvin hanya menampakkan senyumnya mendengar itu. Tentu saja dia percaya dengan apa yang Qila katakan. Gadis itu benar-benar tulus ketika membantu Gladis. Gladis sudah banyak bercerita tentang Qila kepada Arvin. "Iya, gue tau," ujar Arvin singkat. "Jadi, kapan lo mau mulai cerita ke gue?" lanjutnya bertanya. Qila nampak menaruh jari telunjuknya di atas dagu miliknya. Gadis itu sedang berpikir. "Nanti sore aja bisa?" tanya Qila meminta persetujuan Arvin. Arvin nampak hanya mengangguk menjawabnya. "Gue selalu free," ujarnya. "Tapi sebelum itu, gue mau nanya sama lo," ujarnya lagi. "Nanya apa Kak?" tanya Qila bingung. "Lo yakin mau cerita ke gue tentang semua yang lagi ngeganggu pikiran lo? Tentang masalah lo? Lo gak takut gue bocorin semua cerita lo?" tanya Arvin. Cowok itu sebenarnya heran dengan Qila. Kenapa gadis itu sangat mudah sekali percaya dengan orang asing seperti Arvin. Padahal mereka sebelumnya tak pernah saling kenal. Namun kenapa Qila nampaknya sangat mempercayai cowok itu? Arvin jadi heran. "Ya gampang aja Kak. Kalo lo bocorin cerita gue, paling juga gue tinggal bakar rumah lo aja," ujar Qila dengan nada bercanda. Gadis itu terkekeh pelan. Arvin ikut terkekeh mendengar itu. Cowok itu menggelengkan kepalanya heran dengan tingkah Qila. "Lo serem juga ya ternyata," ujar Arvin masih dengan kekehan kecilnya. "Itu masih level satu Kak. Ntar bisa level up. Bisa aja gue nanti culik Kak Arvin terus gue siksa," ujar Qila bercanda lagi. Arvin hanya menggelengkan kepalanya mendengar perkataan Qila. Ada-ada saja gadis ini. "Gladis nemu temen kaya lo dimana sih?" ujar Arvin yang dibalas Qila dengan kekehan singkat. "Ha ha ha. Nggaklah Kak, mana mungkin aku kaya gitu," ujar Qila klarifikasi. "Gue percaya kok sama Kak Arvin. Lagian mana mungkin Kak Arvin sebarin ceritaku yang gak penting itu. Apa untungnya buat Kakak coba. Kaya kurang kerjaan aja," ujar Qila lagi. Gadis itu mulai serius. Kembali ke topik awal. Arvin manggut-manggut setuju dengan apa yang dikatakan Qila. Cowok itu memang tidak mungkin menyebarkan cerita Qila sesuai dengan alasan seperti yang gadis itu katakan. "Iya, lo bener. Gue gak mungkin se-kurang kerjaan itu buat nyebarin cerita lo," ujar Arvin membenarkan. "Jadi ini nanti sore lo mau cerita dimana? Online atau offline?" tanya cowok itu lagi. "Kayanya lebih enakan offline nggak sih Kak? Kita ketemu di cafe? Sekalian perkenalan kita he he," ujar Qila memberi saran. Arvin manggut-manggut mulai menyetujui saran dari Qila. Masuk akal juga. Sepertinya seperti itu memang akan seru. "Boleh boleh. Ntar tempatnya lo yang tentuin aja," ujar Arvin. Qila mengangguk setuju. "Oh iya Kak. Ntar kita juga harus izin sama Gladis dulu. Takut dia salah paham di akhir. Mending di antisipasi dengan kita izin lebih dulu di awal," kata Qila begitu gadis itu mengingat Gladis yang menurut Qila gadis itu memang perlu tahu perihal Arvin dan Qila yang akan pergi bersama. "Iya. Ntar izinnya masing-masing aja ya," ujar Arvin. "Jadi lo bilang sendiri sama Gladis, gue nanti juga bakalan bilang sendiri," tambahnya. Qila mengangkat kedua jempolnya nampak setuju dengan saran Arvin. "By the way, lo bukannya gak ada nomor gue ya? Gimana cara lo ngabarin gue tempatnya kalo lo sendiri aja gak tau nomor gue?" tanya Arvin lagi. Cowok itu baru mengingat satu fakta baru bahwa Qila memang tak mengetahui nomor ponselnya. "Lo mau gue kasih nomor gue sekarang atau gimana?" lanjutnya masih bertanya. "Gak usah Kak. Ntar gue minta nomor lo sama Gladis aja. Sekalian," ujar Qila menjawab. Arvin mengangguk paham dengan jawaban yang diberikan Qila. Beberapa saat kembali hening. Qila baru ingat bahwa gadis itu terlalu lama berada di uks. Bahkan sepertinya bel masuk sudah masuk sedari tadi. "Loh Kak?! Lupa! Ini kan udah jam masuk, aku ada pelajaran!" panik Qila ketika gadis itu baru mengingat sekarang waktunya gadis seharusnya kembali ke kelasnya. "Lo gak usah khawatir. Gue udah izinin sama lo Qia," sahut Arvin memberi tahu. Qila yang tadinya sedang panik akhirnya kembali tenang. "By the way, Gladis kenapa lama banget sih, kenapa dia gak balik-balik," gumam Qila yang masih bisa di dengarkan oleh Arvin dengan jelas. Arvin sendiri pun tak tahu gadis itu kemana karena sedari tadi gadis itu memang belum kembali dari toilet. Sampai akhirnya Arvin membuka ponselnya yang sedari tadi tidak cowok itu sentuh sama sekali karena cowok itu sedang fokus dengan Qila. Terlihat nama Gladis terpampang jelas di layar ponsel Arvin. Nama itu terlihat mengirimi Arvin pesan. Arvin pun segera membacanya. Gladisya Aurora: Gue balik duluan ke kelas Vin. Ada guru. Lo tenang aja soal Qila, dia udah gue izinin ulang. Lo juga sekalian gue izinin ke guru lo tadi Gladisya Aurora: Lo tolong jagain Qila sampe jam pulang nanti. Tungguin gue sama Qila disana. Ntar gue bawain tas lo berdua. Setelah membaca itu Arvin segera membalas pesan dari Gladis itu. Arvin Ardiansyah: Oke. Setelah membalas pesan dari Gladis, Arvin memasukkan ponselnya kedalam saku celana seragamnya kembali. "Gladis udah balik ke kelas Qil," ujar Arvin singkat namun dapat dipahami Qila dengan baik. Gadis itu dibuat kesal mendengar apa yang dikatakan Arvin itu. "Gladisya Aurora," gumam Qila berbisik dengan suara geramnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN