CHAPTER 17

1272 Kata
Qila nampak terdiam cengo mencerna perkataan yang baru keluar dari mulut Arvin. Maksud cowok itu apa? Gladis dan Arvin? Masuk kedalam rumah yang sama? Ganti baju? Apa itu maksudnya? Qila mendadak menjadi bodoh dalam sekejap hanya karena itu. Lagian, perkataan Arvin memang sangat ambigu. Qila rasanya sangat sulit mencerna perkataannya. Padahal, kalo dilihat-lihat, Qila memiliki kapasitas otak yang lumayan. Namun kenapa mendadak otak gadis itu menjadi tak berfungsi hanya karena ini? "Ha?" beo Qila bingung dengan raut wajah cengonya. Sekarang yang ada di pikiran Qila hanya tiga hal. Memang ada tiga kemungkinan alasan kenapa Arvin dan Gladis akan berganti baju di rumah yang sama. Lain halnya dengan Qila yamg kebingungan dengan makna dari perkataan Arvin itu. Lain halnya lagi dengan Gladis yang malah tampak semakin keringat dingin ditempatnya. Galdis nampak menegang mendengar perkataan Arvin. Ingin sekali rasanya Gladis me-lakban mulut cowok itu agar lain kali tak bocor seperti saat ini. Dan lain lagi dengan Arvin, sang pelaku dari perkataan itu nampaknya masih sangat tenang dan santai. Ditengah-tengah kebingungan Qil dan keringat dingin Gladis, cowok itu bahkan sekarang mulai berjalan mendekati Galdis. Lalu cowok itu berhenti tepat di depan gadis itu. Gladis masih diam tak bergeming di tempatnya. Sedangkan Qila, mata gadis itu terus mengikuti pergerakan Arvin. Pandangannya tak lepas barang sedetikpun dari cowok itu. Seakan-akan, jika Qila mengalihkan pandangannya ke lain, Arvin bisa saja hilang kapan saja. Dan Qila tak mau itu. "Ayo Dis masuk. Gue juga mau ganti baju nih," ujar Arvin lagi, mengulang perkataan cowok itu sebelumnya. Namun masih tetap sama, Gladis tak bereaksi sama sekali. Gadis itu hanya dia menegang di tempatnya. Sekarang, tampak semakin jelas ada yang ditutup-tutup i oleh Gladis. Namun saat ini bukan hanya Gladis, namun ternyata Arvin juga terlibat di dalamnya. "Ini kenapa sih? Ini maksudnya apa?" tanya Qila lagi setelah sekian lama terdiam Gadis itu sudah berpikir keras untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Untuk mencerna semua ini. Namun, Qila gagal menemukan alasannya. Masih tetap diam, tak ada yang menyahut perkataan Qila. "Dis," panggil Qila lagi pada Gladis. Berharap sahabatnya itu mau membalasnya Atau menjawab pertanyaannya. Karena Qila tahu bertanya pada Gladis tak akan memiliki titik terang sama sekali. Akhirnya saat ini Qila beralih menatap Arvin yang masih berdiri tegak di depan Gladis. "Kak Arvin, ini kenapa sih? Ada apa? Maksud Kak Arvin ngomong tadi itu apa?" tanya Qila terus, beruntun. Satu menit berlalu, Arvin juga ikut tak kunjung menjawab pertanyaannya. Qila sampai rasanya ingin nyerah saja sekarang. Namun tiba-tiba, suara Arvin terdengar. "Lo bisa tolong sebutin apa yang sekarang masih jadi pemikiran lo tentang maksud dari perkataan gue tadi?" ujar Arvin balik bertanya(?) Qila menatap Arvin bingung. Kenapa Arvin jadi balik menanyakannya soal itu kepadanya? Namun karena Qila benar-benar sangat ingin tahu, pada akhirnya Qila memilih pasrah dan menjawab pertanyaan dari Arvin. "Mmm, gue rasa, mungkinkah kalian ini suami istri?" ujar Qila pelan, gadis itu nampak ragu. Baru satu hal yang Qila katakan, itu berhasil membuat Arvin tersedak ludahnya sendiri. "Uhuk" batuk Arvin tersedak air liurnya sendiri tak dapat dihindari. Memang sialan nih Qila. Baru pertama saja sudah seperti ini. Semoga untuk kedepannya tidak saja. "Eh," ujar Qila ketika melihat Arvin tersedak karenanya. "Gak apa-apa Kak?" tanya Qila memastikan kemudian. Arvin hanya menjawabnya dengan anggukan tenang. Sedangkan Gladis, gadis itu tentu saja terkejut dengan apa yang dipikirkan Qila tentangnya dan Arvin. Namun belum juga selesai tersadar dari keterkejutannya, gadis iru malah dibuat nyaris tertawa karena Arvin spai tersedak ludahnya sendiri saking terkejutnya dengan pemikiran absurd Qila itu. "Lanjut aja lanjut," ujar Arvin mempersilahkan Qila untuk melanjutkan perkataan gadis itu yang sempat tertunda karena dia tersedak air liurnya sendiri itu. Qila terlihat mengangguk menanggapi perkataan Arvin. "Mmm, mungkin juga karena Kak Arvin emang sering main kesini? Jadi ada bajunya Kak Arvin yang ketinggalan disini?" ujar Qila. Kali ini pemikiran gadis itu normal-normal saja. Tak membuat Arvin dan Gladis terkejut lagi. Arvin hanya manggut-manggut santai saja menanggapinya. "Atau..., mungkin juga kalian saudara? Kalian keluarga?" tebak Qila terakhir kali. Dan lagi, Arvin manggut-manggut, dan kali ini disertai dengan senyuman misteriusnya. Gladis dan Arvin saling lirik kemudian. Gladis seperti mengisyaratkan sesuatu kepada Arvin. Mata gadis itu melotot tajam. Namun yang dilakukan Arvin hanya berdiam diri saja. Cowok itu santai. Bahkan senyum misteriusnya nampak sangat jelas. "Gue cuma mikirin kemungkinan tiga itu sih Kak," ujar Qila tiba-tiba membuyarkan mata Gladis dan Arvin yang tadinya saling bertatapan. Mereka berdua nampak kompak langsung menatap kearah Qila. Arvin tak lagi menyahut. Apalagi Gladis, gadis itu benar-benar bungkam. Gadis itu juga sudah pasrah dengan nasibnya. Nampaknya semua akan segera terbongkar begitu saja. Sia-sia Gladis berusaha menyembunyikan semuanya. "Ayo Dis," ujar Arvin lagi mengajak Gladis masuk. Sebenarnya ada apa di dalam sampai-samapi Gladis nampaknya sangat kaku. Karema terlalu muak dan sudah tak sanggup menutupinya semuanya karena gadis itu mendapatkan tekanan terus menerus dari Arvin, Gladis akhirnya mulai membuka mulutnya angkat suara. "Jadi sebenarnya gue sama Arvin itu saudaraan Qil" ujar Gladis menyampaikan fakta dengan jujur. Fakta itu jelas membuat Qil terkejut bukan main. Bagiamana bisa mereka ternyata adalah sepasang saudara? Mengingat, satu sekolah SMA Rajawali mengetahui Gladis dan Arvin adalah sepasang kekasih, bukan saudara. "A-apa?! Sa-saudara?" ujar Qila terbata-bata karena masih terkejut dan tak percaya dengan fakta yang baru saja gadis itu ketahui. Napas Qila tersengal. Sampai pada akhirnya Qila jatuh pingsan. "Qila!" pekik Gladis terkejut melihat Qila tiba-tiba terjatuh ke tanah. Tak ada yang menyangka Qila akan merespon separah ini. Gladis maupun Arvin tak menyangka respon yang diberikan Qila ternyata separah ini. Bahkan gadis itu sampai pingsan secara tiba-tiba hanya karena mengetahui fakta itu? Fakta bahwa Arvin dan Gladis adalah saudara? Tanpa ba bi bu lagi, Arvin langsung berjalan mendekati Qila yang terjatuh di tanah itu. Lalu, cowok itu berjongkok untuk mengangkat Qila dan menggendong gadis itu ala bridal style. Gladis yang panik langsung berlari mendahului Arvin yang sedang menggendong Qila untuk membukakan pagar rumahnya agar Arvin bisa dengan mudah masuk membawa Qila kedalam rumah. Gladis juga melakukan hal yang sama dengan membukakan pintu utama rumahnya. Setelah Arvin masuk kedalam rumahnya, cowok itu segera menaiki tangga untuk menuju ke lantai dua. Cowok itu membawa Qila masuk kedalam kamarnya. Gladis yang melihat Arvin membawa Qila kedalam kamar cowok itu menjadi protes. Bisa-bisanya kakaknya itu membawa Qila ke dalam kamar Arvin padahal di rumah ini ada kamar Gladis. "Heh Kak, bisa-bisanya lo bawa Qila ke kamar lo. Dia bisa di kamar gue aja gak? Daripada di kamar lo, gak baik!" protes Gladis pada Arvin yang nampak dengan tenang meletakkan Qila di kasur king size miliknya, setelah sebelumnya cowok itu kesulitan membuka pintu kamarnya karena Gladis tak mau membantunya membuka pintu kamarnya itu. Setelah memposisikan Qila secara nyaman dan menyelimuti gadis itu, Arvin lalu merapikan rambut Qila yang tampak sedikit berantakan. Gladis terus mengomel namun omelan itu berhenti ketila melihat perhatian yang Arvin berikan untuk Qila. Fiks! Ini sih Kakaknya memang suka Qila! "Kak!!" panggil Gladis lumayan keras karena Arvin sama sekali tak menghiraukan perkataannya. For your information. Gladis memang memanggil Arvin dengan sebutan Kak saat berada di rumah atau lebih tepatnya di area luar sekolah. Ketika di sekolah, Gladis lebih sering memanggil Arvin hanya dengan nama saja supaya banyak yang berpikir bahwa Gladis adalah pacar Arvin. Supaya juga, tak ada cabe-cabe modus yang mendekati kakaknya itu. Gladis tak rela. "Kamar lo kaya kapal pecah. Lo yakin mau naruh Qila disana?" jawab Arvin datar. "Lo tolong tungguin dulu dia. Gue mau ambil kotak P3K sekalian makanan dan minuman buat dia," ujar Arvin lagi, lalu cowok itu berlalu keluar dari kamarnya meninggalkan Qila sendiri bersama dengan Gladis "Itu tadi abang gue?" ujar Gladis cengo. Gadis itu lalu beralih menatap Qila yang masih nampak menutup matanya. "Gila Qil, power lo kuat banget," lanjut Gladis lalu terkekeh geli.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN