CHAPTER 32

1114 Kata
Siswa-siswi berhamburan keluar dari kelasnya, parkiran yang tadinya sepi menjadi sangat ramai sekarang. Arvin dan Qila juga sudah tidak lagi duduk lesehan di samping mobil Arvin. Mereka sekarang sudah masuk kedalam mobil untuk menunggu kedatangan Gladis yang membawakan tas milik Qila dan Putra serta Doni yang membawakan tas milik Arvin. Arvin dan Qila sudah banyak mengobrol tadi. Meskipun memang hanya Qila saja yang bercerita, tapi setidaknya sedari tadi ada topik yang mengalir diantara mereka. Arvin yang dengan senantiasa senang hati mendengarkan cerita Qila serta Qila yang sangat senang ceritanya di dengarkan dengan baik oleh Arvin. Setelah beberapa saat Arvin dan Qila menunggu, akhirnya Gladis, Putra dan juga Doni datang secara bersamaan. Mereka datang dengan Gladis yang berjalan di tengah-tengah keduanya. Gladis mengetuk kaca jendela mobil Arvin pelan. Ketukan itu tepat di samping Qila. Arvin yang mendengar itu sontak saja menurunkan kaca jendela mobilnya. "Hey yo welcome back to my guysss," ujar Doni sok asik dengan gaya tengilnya begitu kaca mobil sudah diturunkan oleh Arvin. Qila yang mendengar itu sedikit memundurkan dirinya. Pasalnya, Doni mengatakan itu dengan suara yang cukup keras. Apalagi, wajahnya yang ikut masuk kedalam mobil membuat jarak antara wajah Qila dengan wajah Doni menjadi sangat dekat. Melihat Qila memundurkan tubuhnya atau lebih tepatnya wajahnya gara-gara Doni, Arvin sontak saja langsung mendekat dan tangannya terulur untuk mendorong wajah Doni keluar dari dalam mobilnya dengan geram. "Jangan deket-deket," ujar Arvin menatap Doni dengan tajam. Gladis yang mendengar itu langsung saja tertawa secara spontan. Dibarengi juga dengan Putra yang sama-sama tertawanya. "Ha ha ha, makanya lo jangan sok ngide deh Kak," ujar Gladis tertawa dengan puas. Tangan gadis itu tiba-tiba terulur untuk mencubit pinggang Doni dengan gemas. "Jangan deket-deketin temen gue ya lo. Bisa najis temen gue kalo deketan sama lo," lanjutnya kemudian dengan wajahnya yang berubah datar. Doni meringis kesakitan saat merasakan cubitan di pinggangnya yang jelas saja itu adalah ulah dari Gladis. Tangan adik dari sahabatnya itu benar-benar terasa menyakitkan saat menyubitnya. "Awh, sakit Dis," ringis Doni melas. Sementara Putra masih saja menertawai penderitaan temannya itu. Lain halnya dengan Qila yang ikut meringis seolah ikut merasa sakit atau Arvin yang hanya cuek saja. "Rasain! Makanya jangan kaya gitu sama temen gue lo!" jawab Gladis enteng. Tapi tak berapa lama setelahnya, gadis itu melepaskan cubitannya dan hal itu berhasil membuat Doni bisa kembali bernapas lega. "Jingan, sakit banget tangannya ni bocah kalo nyubit," gumam Doni memegangi pinggangnya yang menjadi bekas cubitan Gladis tadi. Mata Gladis melotot begitu mendengar perkataan Doni, tangannya kembali terangkat ingin kembali mencubit Doni. "Mau gue cubit lagi lo?" ancamnya dengan garang. Qila yang sedari tadi hanya diam tiba-tiba menyahut. "Udah kali Dis, jangan. Kasihan tuh dia kesakitan," selanya sebelum Gladis benar-benar kembali mencubit pinggang Doni. Mendengar dirinya dibela oleh sosok gadis yang duduk di kursi penumpang samping Arvin, senyum lebar tiba-tiba merekah di bibir Doni. Akhirnya, setelah sekian lama dia ternistakan, ada juga orang yang sudi membelanya. "Wahh, gue baru nyadar kalo ternyata disini ada bidadari baik penyelemat gue," ujarnya dengan mata yang menatap Qila berbinar senang. Apa yang dikatakan Doni tadi entah kenapa berhasil memancing amarah Arvin dan Gladis secara bersamaan. Arvin yang tak suka Doni mengatakan seperti itu kepada Qila dan Gladis yang tak suka Qila digodai oleh Doni. Bagi Gladis, Qila itu sudah menjadi calon kakak iparnya, dan dia tak suka jika ada orang lain yang menggoda kakak iparnya selain kakaknya sendiri, Arvin. Dan hal itulah yang membuat Gladis kembali ingin mengamuk. "Heh Kak! Dibilangin jangan deketin temen gue juga, kenapa bebal banget sih?!" murka Gladis menarik Doni menjauh dari mobil Arvin. Ah, sepertinya Arvin tak perlu repot-repot untuk memarahi Doni sekarang, nyatanya memang sudah ada Gladis yang menggantikannya. Gladis sudah mewakilinya untuk memarahi Doni agar tak terlalu dekat-dekat dengan Qila. "Lo kenapa sih Dis astaga, salah mulu gue perasaan," ujar Doni nelangsa. "Gue ada salah apa sama lo, spill sama gue coba sini, terdzolimi banget gue dari tadi perasaan," lanjutnya lagi dengan muka memelas. "Salah lo itu cuma satu ya Kak! Lo godain temen gue, itu point utama salah lo!" jawab Gladis tanpa pikir panjang. Melihat perdebatan yang ada tepat di depannya, Putra yang tadinya sedang menertawai Doni kini berubah menjadi menonton perdebatan itu dengan seksama. Lalu Qila yang nampak bingung, sedangkan Arvin yang nampak sudah mulai jengah dengan semuanya. "Kalian kalo mau debat lanjutin aja sampe selesai," kata Arvin tiba-tiba dari dalam mobil berhasil mengalihkan perhatian Putra, Doni dan Gladis untuk menatapnya. "Tapi bawa sini dulu tas punya gue sama tas punya Qila. Kita mau pulang, kita gak ada minat nonton perdebatan kalian," lanjutnya lagi meminta tas miliknya dan milik Qila dikembalikan. Setelah mendengar itu, Gladis tiba-tiba menatap Doni penuh permusuhan sebelum pada akhirnya gadis itu memilih menjauh meninggalkan Doni untuk menuju ke arah mobil Arvin. Dia tidak ingin ditinggalkan Arvin dan Qila pulang lebih dulu. "Urusan lo sama gue belum selesai ya Kak, awas aja lo," ujar Gladis menatap Doni nyalang sebelum berjalan menjauhi cowok itu. Gladis berangsur mendekati mobil Arvin lalu langsung saja membuka pintu belakang mobil Arvin dan memasukinya. Dia meletakkan tas milik Qila yang tadi dia bawa di kursi sebelahnya lalu Putra yang membawa tas milik Arvin itu mendekati Gladis dan memberikannya kepada gadis itu yang langsung juga diletakkan di sebelah tas milik Qila. Setelah dirasa sudah tak ada lagi yang tertinggal, Arvin kembali menolehkan kepalanya ke arah dua temannya yang masih ada di samping mobilnya. "Gue duluan ya, thanks juga Put udah bawain tas gue," ujar Arvin berterimakasih dengan tulus meskipun wajahnya terkesan datar. Putra mengangguk dengan senyumnya yang mengembang seraya mengangkat jempolnya. "Siap!" katanya. Doni merasa tak dianggap disini, cowok itu seketika memasang wajah sok sedih lalu menatap Qila. "Tuh lihat bidadari baik gue, gue gak dianggap disini," adunya yang entah kenapa terlihat sangat menjijikkan dimata Arvin, Qila, Gladis dan Putra. "Jijik b*****t!" tukas Arvin tajam lalu langsung menutup kaca jendela mobilnya kemudian melajukan mobilnya meninggalkan area sekolah. Gladis yang masih cukup kesal dengan Doni kembali membuka jendela mobilnya lalu kepala gadis keluar dari mobil dan menoleh kebelakang, lebih tepatnya kearah Putra dan Doni berada. "Qila gak akan suka sama yang modelannya kaya lo Kak! Selera Qila tinggi, kaya Kakak gue contohnya!" katanya dengan angkuh, dia menjulurkan lidahnya kearah Doni, mengejek. Setelah mengatakan itu, Gladis kembali duduk di kursinya dengan anteng. Tanpa ada yang menyadari bahwa sekarang ini mata Gladis sedang menatap Qila dan Arvin bergantian. Sementara Arvin, dia terlihat cuek saja, tak peduli, padahal hatinya dengan jelas terada sangat senang saat Gladis mengatakan bahwa tipe Qila mungkin saja seperti dirinya. Dan untuk Qila, dia terdiam canggung sekarang, entah kenapa yang baru diucapkan Gladis itu tadi terlihat sedikit mengganggu pikirannya sendiri. Namun Qila berusaha menepisnya. Tidak, itu tidak benar-benar terjadi. Qila terus mengatakan itu di dalam otak dan hatinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN