Ujian Akhir

1169 Kata
“Banci mau sekolah dimana nanti?” tanya Reno menatap Zakiya sebelum ujian berlangsung. Jam kelas menunjukkan pukul setengah tujuh pagi, masih ada waktu setengah jam untuk mereka belajar. Zakiya tidak menjawab, dia menghiraukan panggilan Reno. Dia ingin segera menyelesaikan ujian hari ini dan pulang. “Wah, si banci budeg juga ternyata sekarang.” “WOI!” teriak Reno tepat di telinga Zakiya. BUGH. Sebuah pukulan melayang di wajah Reno, siapa lagi kalau bukan Hiskia, dia menatap Reno dengan tatapan tajam. “Lo berani pukul gue?” ucap Reno membusungkan dadanya hendak melawan Hiskia. “Kenapa? Lo mau mukul gue? Bales gue? Inget ya bapak lo bawahan bokap gue. Ati-ati lo dipecat tau rasa.” Hiskia mengucapkan dengan tatapan tajam. Kalau soal Reno dia masih berani, namun jika masalah Galang, dia mundur teratur. Reno meneguk ludahnya, dia lalu mundur, kalau sudah menyinggung soal orang tuanya Reno tidak berani melawan lagi, ayahnya bekerja di pabrik milik ayah Hiskia. Melihat Reno yang mundur, Hiskia tertawa, dia lalu duduk di samping Zakiya dan memberi semangat untuk kembali belajar. Zakiya hanya menanggapi dengan senyuman sembari menopang tangannya di dagu, dia kembali membaca buku dan menatap begitu banyak latihan soal ujian di hadapannya. Sejenak dia menghela napas menatap bangunan sekitar, dia harap ini hari terakhirnya dia sekolah. Dia tidak mau lagi ada panggilan banci dalam dirinya. Dia enggan lagi sekolah disini, dia harap Galang dan Reno tidak ada lagi dalam hidupnya. Cukup sekali saja dia menderita, masa remaja SMA jangan sampai ada yang menganggapnya banci. “Kok ngelamun?” tanya Hiskia “Enggak, gue capek belajar. Apa nanti SMA gue home school aja?” Zakiya menutup bukunya, memasukkan ke dalam tas. “Nanti SMA lagi sama gue,” ucap Hiskia dengan menunjukkan gigi rapinya. Leta—teman sekelasnya datang menghampiri bangku mereka. “Eh banci, gue pinjem penghapus lo dong,” ucapnya. Gadis yang berponi tengah dan rambut yang dikucir ekor kuda serta lesung pipinya membuat gadis ini terlihat manis cantik. Dia cinta pertamanya Zakiya, dulu dia sangat menyukai Leta sepenuh hatinya namun semenjak dia ikut memanggilnya banci, Zakiya menjadi tidak lagi suka. Tanpa menjawab ucapan Leta, dia mengambil penghapus dalam kotak pensilnya lalu memberikan kepada Leta. “Thank you.” Leta berlalu dan memakai penghapus Zakiya. Kalau saja Leta tidak menganggapnya banci, Zakiya sudah pasti memberanikan diri mengungkapkan perasaanya. Bel berbunyi menandakan waktu mulai ujian, Zakiya merenggangkan tubuhnya, gurunya sudah mulai masuk sembari membawa kertas soal ujian. Zakiya dan Hiskia mengerjakan dengan semangat, mereka optimis untuk mendapatkan nilai terbaik. *** SMA Garuda Harapan, sekolah favorit seantero jagad raya. Hiskia kini dengan tampilan berbeda, kawat gigi yang melekat di giginya, rambut yang style undercut, kacamata bulat masih melekat di wajahnya. Lebih tampan dan manis daripada dulu SMP. Mulai hari ini dia mau menutup semua ocehan para temannya, kali ini dia bukan lagi anak culun, tapi dia mau dijuluki cool boy. "Astaga, gue kaget sumpah." Zakiya menatap Hiskia dari atas dan bawah. Style nya sangat berbeda, sedangkan Zakiya masih sama, rambut dengan poni mangkuk, membuat wajahnya nampak cantik seperti perempuan, bagaimanapun juga ini style dari ibunya. "Gue yang harusnya bilang gitu, rambut lo makin culun sumpah," balas Hiskia dengan menahan tawa. Dia mengacak-acak rambut Zakiya. "Ck! Ish ini udah disisir rapi sama nyokap."   Zakiya mengambil sisir dari tasnya lalu menyisir kembali rambutnya seperti mangkuk. Mereka berdua lalu melangkah masuk, dia sangat yakin di dalam SMA ini tidak akan ada lagi Reno dan Galang tukang pengganggu mereka. Dia yakin 100 persen karena murid yang masuk di sekolah ini hanyalah murid dengan nilai terbaik. Dia tau nilai Galang peringkat dua dari bawah. Tidak mungkin bisa masuk sekolah ini. Dengan langkah ceria mereka menyusuri SMA Garuda Harapan ini. Hari ini adalah lembaran baru bagi mereka. Satu-satunya SMA yang tidak menggunakan ospek, langsung masuk kelas, namun hari pertama pasti tidak terlalu kondusif. Mata elang Hiskia mengedarkan pandangannya, menangkap sosok yang selama ini dia jauhi. Dia mendesah pelan, bagaimana bisa dua begundal itu ada di SMA ini, batin Hiskia. Galang dan Reno lagi-lagi satu kelas dengan mereka, sama berada di jurusan IPA. Hiskia heran, takdir macam apa yang mengikat mereka sampai bisa satu kelas lagi. Dia melirik ke arah Zakiya, sahabatnya pasti akan menderita lagi, dia tidak mau sampai Zakiya kembali menderita dibully atau diejek lagi dengan mereka. "Zak, lo—" Ucapan Hiskia terhenti ketika seorang guru datang melangkahkan kakinya masuk ke dalam kelas. "Sebelum memulai pelajaran, kita perkenalan dulu ya, dimulai dari kamu." Bu Lyra—wali kelas mereka menunjuk Zakiya yang duduk di pojok paling depan. Zakiya dengan semangat dan senyum penuh keceriaan melangkah kedepan memperkenalkan diri. Tanpa sengaja saat dia sudah di depan matanya bertemu dengan mata Galang, seketika Zakiya menjadi gentar. Dia memasukkan tangan di saku celananya. Zakiya sama sekali tidak menyangka akan bertemu lagi di kelas ini. "Nama saya ...." "BANCII!! HAHAHAHA!!" ucap Galang tiba-tiba. Sontak semua murid sekelas tertawa. Kecuali seorang gadis yang duduk sembari menopang dagu dan menatap malas kepada Zakiya, seolah acuh dengan olokan Galang. Tidak tertawa ataupun tersenyum. Tanpa ekspresi. Seolah malas sekolah. Bu Lyra lalu menegur Galang yang membuat suasana gaduh lalu menyuruh Zakiya kembali memperkenalkan diri. "Nama saya ... Zakiya Ramadhan." "Panggil aja Zakiyaaa," balas Reno. Bu Lyra sudah tidak tahan dengan sikap mereka yang tidak sopan. "KALIAN BERDUA KELUAR!" teriak bu Lyra sembari menunjuk Reno dan Galang. Keduanya tidak sama sekali takut mereka lalu keluar dengan santai, bahkan masih sempat berbisik kepada Zakiya mengatai banci. "Ayo ulangi perkenalannya." Bu Lyra menyuruh Zakiya memperkenalkan dirinya lagi. Zakiya menatap teman sekelilingnya, beberapa menertawai dirinya, beberapa nampak masih serius menunggunya memperkenalkan diri. "Nama saya, Zakiya Ramadhan. Saya dari SMP Pelita Jaya. Teman-teman bisa panggil saya Zaki atau Ramdan." "Kayanya cocok Zakiya deh," balas seorang anak laki-laki yang belum Zakiya kenal. Beberapa tertawa karena lelucon yang dibuatnya, menurut Zakiya hal itu sama sekali tidak lucu. Dia memilih diam lalu kembali duduk. Bu Lyra hanya menegur anak yang tadi memanggil Zakiya. "Kalian sudah SMA. Kelakuan jangan seperti anak SMP." Bu Lyra menatap nyalang semua murid, membuat mereka semua menutup mulut. Mereka semua berkenalan masing-masing, hanya saja satu murid perempuan enggan berkenalan sama sekali. "Ayo giliran kamu," ucap Bu Lyra menunjuk murid perempuan yang duduk di baris kedua. Dia menggeleng dan menjawab, "Saya enggak perlu kenalan Bu, mereka semua pasti kenal saya." Bu Lyra hanya tersenyum lalu melanjutkan pelajaran pertama. *** Bunyi bel menandakan waktu pulang, baru saja guru keluar, Zakiya melangkahkan kaki keluar, dia dicegat oleh Reno dan Galang. Keduanya menarik paksa Zakiya menggeretnya menuju gudang belakang yang sepi. Hiskia tak tinggal diam, dia hendak memukul Galang namun ditepis olehnya dan diikat oleh Reno. Gadis yang tadi tak mau berkenalan di kelas diam-diam mengikuti mereka. Dia mengintip apa yang dilakukan Galang dan Reno. Keduanya mengolok-olok Zakiya dan Hiskia. Mereka juga menampar serta memukul mereka. Tindakan seperti ini sudah tidak bisa dibiarkan. Gadis itu lalu mendobrak gudang, dia melepaskan roknya dan terlihat jelas celana training merah nyalang. "WOI! NGAPAIN LO HAH?!" teriak gadis itu. "Wah, berani juga ini anak. Lo mending keluar enggak usah ikut campur sebelum lo babak belur," ucap Galang. ***            
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN