IAB_BAB 17
***
Zaki pulang ke rumah, dia mendapati ibunya yang sedang duduk dengan koran yang ia baca. Dia menghampiri ibunya, tanpa mengganti pakaiannya sedikit pun. "Mama, Zaki pulang."
Ratna menatap anaknya dari atas hingga bawah. "Kamu?"
"Ma, please." Zaki duduk di samping ibunya dengan tangan yang sudah memegang satu tangan ibunya. Dia usap punggung tangan ibunya dengan sayup mata memelas.
"Are you okay?" tanya Ratna.
"No, i'm not okay. Zaki capek Ma, Zaki pengen Mama dengerin semua keluh kesah Zaki yang selama ini Zaki pendam," ujar Zaki.
Ratna terdiam, lalu mengusap kepala anaknya seolah memberikan ruang untuk berbicara. "Zaki ini laki-laki, Ma. Mama enggak bisa lihat Zaki sebagai anak Mama?" tanyanya. Tangan Ratna berhenti membelai kepala Zaki.
"Kak Saskia adalah anak Mama satu-satunya, dia anak Mama satu-satunya perempuan. Dan Zakiya Ramadan ini adalah anak Mama laki-laki," ujar Zaki dengan sangat hati-hati.
Ratna menggeleng.
"Mama, Zaki sayang sama Mama. Zaki rela lakuin apa pun untuk Mama, tapi kali ini Ma. Tolong bantuin Zaki menjadi anak lelaki sesungguhnya, Zaki enggak bisa lakuin ini tanpa dukungan dari Mama, Mama satu-satunya keluarga Zaki," ujar Zaki.
"Enggak sayang, kenapa kamu tiba-tiba ngomong kayak gini? Kamu putri ib—"
"Putri ibu itu Saskia, Ma! Bukan Zaki! Zaki ini cowok ma, Mama udah lupa punya anak cowok? Mama seterobsesi itu dengan anak perempuan sampai enggak tau kalau Zaki ini cowok?" tanya Zaki.
Plak
Satu tamparan mendarat di pipi Zaki.
"Mama enggak mau denger apa pun itu, Mama sudah cukup sakit untuk semua ini, Zakiya. Jangan tambah beban Mama untuk mikirin semua ini, Mama sakit hati atas kepergian suami dan anak Mama. Kamu putih Mama satu-satunya yang bertahan sampai saat ini, jangan buat pertahanan Mama runtuh dengan ucapan yang kamu lontarkan itu, Mama enggak suka."
"Mama sampai kapan? Zaki ini laki-laki Ma, Mama mau sampai kapan bersikap kayak gini tentang Zaki? Hah? Zaki berhak menata hidup Zaki sendiri buka berarti Zaki melupakan Mama begitu saja," ujar Zaki.
"Sudah cukup, untuk semua sakit ini, Ma. Baik Mama atau aku, sama-sama terluka untuk keadaan ini. Mama bisa ngertikan posisi Zaki?"
"Zakiya, kamu itu putri Mama."
"Putri! Putri! Zaki, Ma! Zaki putra Mama bukan putri Mama, Mama harus bisa pahami perbedaan itu." Zaki sangat marah bahkan dia berani mengucapkan kata-kata itu.
"Kamu bentak Mama?"
Zaki seketika terdiam membatu. "Enggak, Ma. Zaki cuman pengen Mama sadar bahwa, aku ini laki-laki. Bukan perempuan," ujarnya.
"Mama enggak mau denger!"
"Zaki capek Ma!" Zaki pergi begitu saja tanpa mengganti pakaiannya sama sekali, dia biarkan kertas yang sempat dia pegang itu di meja. Awalnya dia ingin memberikannya dengan baik-baik kepada ibunya namun percuma jika keadaan seperti ini sekarang.
Zaki pergi dari rumah, melihat kertas kecil yang diberikan Agatha tadi pagi. Dia berharap bisa tenang bersama dengan Agatha, pikirannya bisa tenang dan jernih seperti ini. Langkahnya menuju sebuah tempat yang menurutnya jarang orang tempati, dia mengirim pesan kepada Agatha.
10 menit menunggu, Agatha datang dengan raut wajah ceria. Keceriaan langsung memudar saat melihat Zaki dengan wajah lesu dan mata sedikit sembab, dan pakaian yang belum diganti.
"Lo kenapa?" tanya Agatha panik sendiri.
"Nih mending lo minum dulu," ujar Agatha memberikan sebotol air.
Zaki menerimanya dan langsung meneguknya habis. "Btw udah gue minum sedikit tadi," ujar Agatha.
"Lo sentuh?" tanya Zaki.
"Enggak sih. Nah ini salah satu cara, kalau mau kelihatan keren ya lo minum kalau pake botol kayak gini enggak usah disentuh ya!" ujar Agatha. Zaki hanya mengangguk lesu.
Agatha menatap ke depan, di sini pemandangannya sangat indah. Walau jarang orang ke sini paling beberapa nenek-nenek dan kakek-kakek, mungkin masa mudanya dia lebih suka ke sini?
Anak jaman sekarang mah, enggak ada yang pengen beginian. Paling lebih terkesima dengan handphone, mall, atau wahana-wahana yang seru. "Kenapa ke sini? Mau diam-diam gini atau mau cerita sebenarnya lo kenapa?" tanya Agatha.
"Gue marahan sama ibu gue," ujar Zaki.
"Kenapa? Kok bisa?" tanya Agatha.
"Hm, soalnya gue langsung bilang gue capek harus pura-pura menjadi anak perempuannya sedangkan gue aslinya cowok," ujar Zaki.
Agatha mengangguk.
"Nyokap memberikan respon kecewa dan marah dengan tindakan dan omongan gue, gue paham akan kekecewaan itu karena gue baru berani ngomong kayak gini sekarang," ujar Zaki.
"Terus gimana akhirnya? Nyokap lo setuju dengan ucapan lo?" tanya Agatha.
"Enggak, pastinya enggak. Gue bingung harus bagaimana lagi," ujar Zaki.
"Tetap aja jadi Ramdan seutuhnya, walau ibumu terus melarang tetap lakuin, bukan gue bermaksud untuk lo jadi anak laknat ya."
"Cuman lo juga butuh kebahagiaan kan? Jangan bebanin pikiran lo deh, mending fokus sama perubahan lo sekarang okay? Nanti gue mau ajarin lo naik motor gede!" ujar Agatha menyemangati Zaki.
"Makasih atas dukungan lo selama ini untuk gue, gue bingung harus balas kayak gimana. Mungkin kalau bukan lo, ya mungkin gue enggak bakal bisa seberani ini sekarang, pokonya lo berjasa banget untuk perubahan gue sekarang," ujar Zaki.
"Kalau lo mau balas budi, cukup dengerin apa yang gue pengen buat lo. Yaitu tetap jadi diri sendiri, jangan ngubah diri lo jadi Zakiya lagi ya? Hehe. Bengek tau enggak," ujar Agatha.
Zaki tersenyum. "Kapan belajar naik motornya?" tanya Zaki penasaran. Jujur jika dia melihat-lihat orang memakai motor besar itu sangatlah keren dan memiliki wibawa sendiri sebagai anak motor.
"Kapan pun kalau bisa mah, gue punya dua motor jarang gue pake soalnya ...."
Zaki menunggu. "Enggak apa-apa, lupain aja."
Zaki mengangguk.
"Lo itu kuat banget hidup sendiri di dunia ini ya? Kalau lo butuh apa-apa jangan segan-segan untuk meminta bantuan kepada gue ya?" tanya Zaki.
"Gue enggak sendiri sekarang, kan ada lo, ada Hiskia dan ada Aluna. Kalian juga baik udah mau nerima semua hal-hal buruk tentang gue."
Setelah sesi curhat selesai, Agatha mengajak Zaki untuk berjalan-jalan sebentar di daerah sini. Melihat banyak sekali pemandangan indah dan juga banyak sekali taman di sini, walau jarang sekali orang ke sini entah kenapa.
"Di sini enggak ramai ya?"
"Iya enggak. Lo lihat jembatan itu? Jembatan besi, di sana itu banyak nenek-nenek dan kakek-kakek yang sering ke sana. Entah kenapa, cuman anak muda jarang ke sana."
"Lo kok bisa tau tempat ini?"
"Karena bokap gue, gue sering main di sini. Enaknya itu di jembatan atas itu kan di atasnya ada atap jadi enggak kehujanan atau kepanasan, enak tau di sini. Gue sering habisin waktu bersama bokap dan nyokap," ujar Agatha.
"Bahagia itu sangat sederhana cukup menjadi diri sendiri aja, dan tersenyum menikmati kehidupan walau banyak tantangan yang menyerang," ujar Agatha.