Bab 9

1049 Kata
Setelah jam pelajaran selesai, Zaki langsung melangkahkan kakinya menuju perpustakaan. Langkah gontaganti bersama dengan Hiskia, Zaki sedikit aneh dengan tatapan orang-orang yang sedang melihat ke arah dirinya. Apakah ada yang aneh? Padahal penampilannya seperti biasa saja, tidak ada yang berubah. "His, kenapa sih mereka natapnya kayak gitu?" tanya Zaki mulai risih. Hiskia hanya mengidikkan bahunya, tanda tidak tahu. "Udahlah enggak usah diladenin, udah lo cepet minjem bukunya gue mau ke kantin." Selang beberapa menit setelahnya, sekolah dihebohkan dengan tanda orang-orang yang sedang berteriak histeris membuat Zaki dan Hiskia terlonjak kaget dan memutuskan untuk ke sumber keributan. Terlihat jelas Agatha yang terus menerus melayangkan tinjunya ke muka Galang dan Reno. Zaki langsung berteriak dan berusaha untuk menghentikan aksi yang tak patut dilakukan di sekolah tersebut. Bahkan guru-guru tak bisa menahan Agatha, melihat gadis itu sangatlah marah. "Agatha! Kenapa? Lo kenapa?" tanya Zaki berusaha menahan tangan Agatha untuk berhenti membabi buta Galang dan Reno yang sudah lemas di tengah lapangan. "b*****t lo pada! Mainnya kurang ajar, emang ga pantes di sekolah ini!" ujar Agatha. Saat setelah itu dia langsung pergi meninggalkan lapangan. Seketika pandangan tertuju kepada Zaki, dengan cepat Zaki menyusul Agatha. Agatha berdiri di depan mading sambil merobek-robek yang entah apa itu, Zaki yang penasaran langsung berlari menuju Agatha. "Gata, lo kenapa sih? Ada apa? Kenapa lagi dengan Galang dan Reno?" tanya Zaki. Agatha menoleh. Zaki memandang mading di depannya, diam sejenak lalu tertawa renyah. "Hahaha, aib ini mah udah sering dibongkar sama dia," ujar Zaki. Agatha melongo tidak percaya melihat respon Zaki yang seperti itu. "What? Anjirlah sesering itu ya dia ganggu lo sampai semua ini sudah menjadi kebiasaan buat lo?" tanya Agatha. "Yaiyalah, udah sering kena mental gue. Kalau gini mah biasa dibully satu sekolah juga gue udah pernah, santai aja. Selagi lo ada kan buat gue?" tanya Zaki. Agatha menggeleng tidak percaya. "Gue emang bisa lindungin lo, tapi enggak setiap saat." Zaki terdiam. "Yaudah iya, nanti deh dibahasnya. Kita langsung ke kelas aja deh," ujar Zaki merangkul Agatha. *** "BANCI HAHAHA! BANCI!" "Ada banci guys!" "Anjir kira-kira dia pakai celana dalam pink enggak ya?" "Hahah, mungkin aja dia pake daleman serba pink kali ya? Secara hidupnya banci sih." Banyak sekali cacian dan hinaan orang-orang untuk Zaki namun dia berusaha tegar, bukannya ini sudah sering terjadi ya? Kenapa dirinya jadi lebih emosional sekarang ya? Padahal dirinya harusnya lebih kebal untuk semua cacian dan hinaan ini. Zaki pasti bisa jalanin semuanya seperti biasa! Zaki berusaha menahan semuanya sampai dia tiba di sebuah gerbang, dia sudah melihat Agatha dan Hiskia yang sedang menunggu dirinya. Rasanya berbeda dari biasanya jika dulunya Zaki hanya ditunggu oleh satu orang kini bertambah menjadi satu orang. Zaki melangkah dengan senyum layaknya orang bahagia pada umumnya, hingga beberapa perkataan orang membuat dirinya kembali berhenti. "Iweeh! Hiskia ternyata ganteng gitu ya? Kok dia mau-mau aja temenan sama si banci itu ya?" Persis jelas itu suara Sheryl dan kedua temannya yang terkenal akan mulutnya yang pandai mengata-ngatai orang-orang. "Iya anjir, si banci itu beruntung sih menurut gue. Karena dia bisa deket dengan Hiskia dan Agatha, secara jika dilihat-lihat Agatha itu cantik dan Hiskia itu ganteng." "HAHAH BEDA KASTA KALI YA?" Zaki mengepalkan tangannya ingin sekali dia berteriak dan mengucapkan semua yang ada di dalam hatinya sekarang. Zaki bisa kok melakukan apa yang dia inginkan terlebih menjadi sosok laki-laki yang pada umumnya, sayangnya semua agan dan mimpi itu tak bisa dia gapai selama masih ada ibunya yang terobsesi dengan dirinya menjadi seorang perempuan. Zaki galau dan merana bukan karena percintaan tapi karena raga ibunya yang menurutnya di luar batas wajar untuk orang-orang normal lainnya. Agatha menoleh ke samping di sana bisa dia lihat jelas Zaki dengan beberapa ciwi-ciwi di belakangnya yang sedang berceloteh entah mengatakan apa yang pasti Agatha tau. Cewek-cewek itu pasti sedang menghina dan mencaci maki Agatha. Zaki berjalan menemui keduanya, senyum yang awalnya dia pudarkan karena omongan orang kini kembali terbit karena kedua sahabatnya yang sedang menatap dirinya seperti tatapan prihatin dan kasian? Mungkin saja. "Ayo pulang." Zaki memegang kedua tali tasnya dan tersenyum. Hiskia berdecak sebal. "Zaki, perasaan lo udah—" "Please lah, jangan nanya itu lagi. Gue udah denger untuk kesekian kalinya dan gue udah berjanji dan bertekad untuk tetap seperti ini walau ngorbanin perasaan gue yang penting perasaan nyokap gue tetap terselamatkan," jelas Zaki. Agatha tersentak kecil. "Susah ya emang kalau udah janji dan memiliki tekad seperti lo gini, jadi susah banget. Bahkan untuk memberitahukan bahwa dunia ini keras aja susah," ujar Agatha. "Gata, His. Tanpa kalian kasih tau kalau dunia ini keras gue udah tau duluan kali, santai aja. Kalian enggak usah prihatin atau kasian sama gue karena perlu kalian tau bahwa pembullyan dalam hidup gue selama sekolah sudah menjadi sebuah kebiasaan," ujar Zaki disambut kekehan dirinya sendiri. "Miris tau enggak. Jangan biarin itu terus menerus tertanam dalam kehidupan lo, gue yakin lo bisa jalanin semuanya dengan baik. Tanpa ngorbanin perasaan siapa-siapa, termasuk lo ataupun ibu lo," ujar Agatha. "Gue tau sebijak apa yang lo katakan itu enggak bisa semudah itu untuk buat gue paham dan alihin semua janji yang udah gue berikan kepada nyokap gue," ujar Zaki menepuk pelan pundak Agatha. Agatha menghela napasnya kemudian beralih ke Hiskia yang juga sedang menatapnya. Mungkin semuanya butuh waktu baik untuk Zaki ataupun ibunya, dan ingatlah perjuangan Agatha untuk merubah pemikiran, dan juga keseharian Zaki tidak berhenti seperti ini saja. Ketiganya berjalan seperti biasa, ngobrol layaknya sahabat. "Eh tapi gue tetap bisa panggil gue Ramdan, kan? Karena gue punya hak untuk manggil lo apa pun," ujar Agatha. "Iya bebas." Zaki tersenyum. "Cuman ...." "Cuman lo jangan manggil dia Ramdan di depan nyokapnya nanti kena tinjuan lagi," canda Hiskia membuat keduanya tertawa. "Iya gue biasain deh, cuman kalau keceplosan maaf aja yaaa," ujar Agatha. Gadis yang unik, punya wibawa sendiri sebagai seorang perempuan. Dia bisa menjaga dirinya sendiri, walau kadang kasar namun itu sudah menjadi sifatnya. "Kita bisa kapan-kapan ke rumah lo enggak?" tanya Hiskia membuat Agatha menoleh dengan alis yang terangkat. Agatha menggaruk kepalanya. "Em gimana ya, gue belum cerita soal kehidupan gue ya?" tanya Agatha. "Belum." "Nanti juga tau sendiri, ada saatnya gue bakal ngomong ya. Gue juga belum bisa ajak kalian ke rumah gue soalnya persahabatan kita belum sampai setahun," ujarnya. "Emang ada persyaratannya?" "Ya jelas ada, dan harus ada. Biar gue tau lo pada enggak ada maksud tertentu," ujar Agatha.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN