SE 2
"Ratu sudah sadar?" Pertanyaan itu membungkam Mega saat dia sekarang berada di sebuah tempat tidur singgasana layaknya ratu kerajaan. Mega menatap sekeliling, bajunya juga sekarang seperti baju ala-ala kerajaan kuno, namun sangat pas di tubuhnya.
"Aku di mana? Dan ... kalian siapa?" tanya Mega.
Salah satu dayang datang menghampiri Mega dan memberikan sebuah s**u hangat. "Kami menemukan tuan putri dalam keadaan pingsan di dekat sumur, bajunya basah. Makanya kami bawa ke sini," ujar dayang itu.
Mega mengingat saat dirinya terjatuh di sebuah lubang yang ternyata sumur di goa dekat candi Borobudur. Mega menatap dirinya dari pantulan cermin yang ada di ujung sana. Dia melihat wajahnya yang sama, dia menatap tangan hingga kakinya, dia Savana Mega.
Bukan tuan putri kerajaan.
Kenapa dirinya bisa ada di sini?
Mega harus kemana? Di mana Bagas? Dan di mana semua orang-orang teman-teman Mega? Di mana Rinai ibunya? Di mana Adhitiya Papanya? Di mana Lintang.
"Kenapa saya bisa ada di dekat sumur?" tanya Mega menghiraukan dirinya bingung kenapa bisa di sini.
Dayang-dayang itu saling tatap menatap, hingga ada seseorang datang masuk ke kamar itu, bajunya khas seperti Ratu, penampilannya tak jauh beda dengan dirinya, dan wajahnya ... sudah seperti ibunya, Rinai. Mega menatap wanita itu, wanita itu tersenyum kepadanya, layaknya seperti senyum ibu kepada anaknya. Wanita paruh baya itu memerintahkan para dayang untuk pergi meninggalkan Mega dan dirinya saja.
"Bagaimana keadaanmu anakku?" tanya wanita itu lalu mengelus pelan kepala Mega.
Mega menatapnya cukup lama lalu akhirnya mengalihkan pandangannya ke arah lain. "Ada apa denganmu putriku? Apakah ibunda memiliki kesalahan kepadamu? Kenapa kamu jadi pendiam seperti ini setelah dirimu tak sadarkan diri hampir seminggu ini?" Pertanyaan yang sangat formal itu membuat Mega tercengang.
Mega harus menjawab seperti apa, ini bukan dirinya! Kenapa dia bisa ada di sini? Tolong Mega-gadis itu terus membatin seperti itu. Wanita yang sepertinya notabenenya ratu di kerajaan ini, menghela napasnya. "Baiklah kalau putriku tidak ingin bercerita dengan ibundanya, istirahatlah dan jangan banyak pikiran," ujarnya lalu pergi meninggalkan Mega.
Mega melihat pakaian yang dikenakan wanita itu, seperti baju kerajaan jepang yang sering dia tonton, bukan Jepang lagi! Tapi Korea. Ini benar-benar ajaib.
Mega menyukai desain keraton di sekelilingnya, rasanya benar-benar nyata! Apakah ini benar-benar nyata? Mega mencubit pipinya, rasanya sakit. Kenapa? Kok bisa?
Mega menyipakkan selimutnya lalu berjalan ke segala penjuru kamarnya, dia melihat desain yang benar-benar langka, desain yang sudah tak ada di dunia masa depan miliknya, Mega terdiam. Gadis itu mencoba menerawang soal hal-hal tentang ini, bagaimana dirinya menyesuaikan semuanya?
"Permisi."
Tok tok
Suara ketukan itu membuat dirinya menoleh. "Silahkan masuk." Mega duduk di depan meja riasnya, melihat satu dayang dengan baju khas pelayan kerajaan.
"Ini makan malam seperti biasa, apakah tuan putri butuh sesuatu lagi?" Mega mendengar pertanyaan itu terdiam.
"Aku butuh Ibunda ku," ujar Mega.
"Baik akan saya panggilkan." Pelayan itu menunduk lalu pergi meninggalkan Mega yang terdiam. Andai dari dulu dirinya berada di sini mungkin tak ada lebam di bagian tubuhnya, tidak ada tekanan batin yang ada di pikirannya.
Mega menatap sebuah bingkai foto kuno, yang desainnya tak pernah dia dapatkan di dunia masa depannya. Dia meraihnya, di sana benar-benar ada dirinya, dirinya ada di tengah-tengah dari seorang raja dan ratu. Itu yang ada di pikirannya.
Mega melihat ke arah samping, yang sangat menarik perhatiannya. Itu seperti gaun yang sangat indah, sepertinya gaun yang digunakan untuk acara-acara penting? Namun desainnya sangatlah apik, dan berbeda dengan desain masa depan miliknya.
"Ada apa putriku? Apakah kamu memanggil ibunda?" tanyanya membuat Mega yang tadinya fokus dengan foto dan gaun menoleh kaget.
"Eh? Iya ...." Mega menggaruk-garuk tengkuknya, bingung ingin berbicara apa lagi.
"Kenapa?" Melihat ada yang aneh degan anaknya itu, dia menghampiri dan mengelus pelan kepalanya.
"Ini luka ...." Mega merasakan perih saat bagian ubun-ubunnya dipegang oleh Ibundanya.
Tunggu? Ibundanya? Apakah sekarang Mega harus berpura-pura bermain drama dalam sebuah cerita kerajaan? Kerajaan apa ini? Mungkin Mega sedang bermimpi panjang, anggap saja ini adalah sebuah mimpi di tidurnya yang sangat nyenyak.
"Ada apa sayang?" Pertanyaan yang masih sama diucapkan oleh orang di depannya.
"Aku bingung," ujar Mega pelan.
Wanita di depannya itu menggiring Mega duduk bersama dengannya. "Bingung kenapa putriku? Apakah ada yang membuat dirimu resah?" tanyanya.
"Aku tidak mengingat apapun tentang kerajaan ini ... apakah kamu ibundaku? Aku tidak mengingat namamu, aku tidak tau apa yang terjadi denganku ...." Mega menahan napasnya untuk mengucapkan itu, dan akhirnya benar-benar berhasil.
Wanita di depannya itu lama menatapnya membuat Mega menjadi over thinking apa yang akan dikatakan, dan apa yang akan dijawab jika saja banyak ditanyakan tentang dirinya? Sedangkan dia tak tau apapun dengan apa yang ada di sekitarnya ini.
"Aku adalah ibundamu, aku Sekar Arum, ibundamu. Dan kamu putriku Pramodhawardani," ujarnya membuat Mega langsung ciut.
Apa katanya Pramo? Pramo apa? Pramodhawardani? Terlalu sulit untuk dikatakan, bahkan Mega tak pernah sangka dirinya akan mempunyai nama seribet itu.
"Pramo? Pramodhawardani? Itu namaku? Sungguh ibunda, aku tidak mengingatnya." Untung saja Mega lancar dalam berbahasa formal seperti ini, namun kenapa sekarang lidahnya tidak sekeluh tadi?
Sekarang jauh lebih lancar.
Sekar Arum mengangguk. "Kamu putriku, Pramodhawardani," ujar Sekar lalu memeluk Mega dengan erat, terdengar tangisan kecil. Membuat Mega mengernyitkan dahinya bingung. "Ada apa denganmu ibunda?" tanya Mega.
Sekar Arum melepas pelukannya, dia menghapus air matanya. "Tidak apa-apa Putriku, kamu tidurlah, ini sudah larut malam. s**u kamu jangan lupa diminum," ujar Sekar.
Mega menatap Sekar lama, dia hanya mengangguk. Hingga akhirnya dia kembali sendirii di kamar besar ini, pintu kembali tertutup rapat, tubuhnya serasa belum nyaman menggunakan pakaian ini.
Namun terlihat sangat cantik.
Dan dirinya seperti pas memakai ini, Mega sama saja. Tapi sepertinya dia bukan berumur 16 tahun di sini, dirinya nampak seperti jauh lebih dewasa. Mega menarik nampan dan melihat isi makanan.
Dan wow!
Kebanyakan adalah sayuran.
Namun sepertinya ini sangatlah lezat, Mega mencobanya dan benar. Ini benar-benar lezat, Mega rasanya berada di surganya dunia. Mega bingung kenapa dirinya bisa di sini! Ini adalah surga yang nyata. Mega menyelesaikan makanannya, lalu berjalan menuju ruang di samping meja riasnya, ada pintu di sana.
Mega membukanya dan benar, di sini banyak sekali peralatan make up, dan sangat berbeda dengan di dunia yang nyatanya. Mega melihat pakaian yang banyak sekali, dan macamnya pun sama semua, hanya berbeda motif dan gambar saja.
Mega melongo, dia mencari baju tidur yang pas, namun tidak ada. Ah dia lupa! Kalau di sini bukan dunianya, yang ada baju piyama, di sini hanya ada baju sejenis namun.
"Sepertinya ini baju tidur, terlihat dari motifnya." Tanpa pikir panjang dia langsung memakainya, sebelumnya dia masuk ke kamar mandi membersihkan tubuhnya.