Kelas digemparkan, bahkan bukan cuman kelas tapi juga hampir separuh dari sekolah yang mengatasnamakan Hiskia dalam gosip yang sedang hangat kali ini. Zaki yang kebetulan sedang lewat tentunya heran dengan orang-orang yang sibuk dengan handphonenya dan banyak di antara mereka juga sibuk membaca mading, biasanya saat Zaki berada di koridor berjalan ke kelas.
Semua pandangan tertuju pada dirinya, dan pasti berakhir dirinya menjadi bahan olok-olok sebuah notifikasi di handphonenya membuatnya menatap handphonenya.
Pesan dari Agatha: Ke rooftop sekarang, ada berita heboh nih.
Zaki menghela napasnya dengan langsung gonta ganti dirinya kemudian naik ke lantai atas dan naik ke tangga hingga sampai ke rooftop, di sana dia mencari keadaan Agatha hingga batang hidung gadis itu muncul membuatnya tersenyum.
Namun ada seseorang yang sedang berbincang dengan dirinya, sosok yang tinggi, putih, dengan tubuh yang ideal dan mungkin tampan. Zaki tak bisa melihatnya jika pria itu membelakanginya, karena rasa penasarannya dia langsung berlari kecil dan menepuk pelan pundak Agatha.
"Dia siap—"
Baru saja Zaki ingin bertanya, lelaki itu menoleh dan tersenyum. "HISKIA!" Zaki menabok keras lengan Hiskia hingga lelaki itu meringis kesakitan.
"Ngapa woy?" tanyanya sambil mengusap-usap tangannya yang dipukul.
"Gila ya gila, itu kacamata dikemanain ceunah? Sumpah tapi lo ganteng sih, pantes aja orang pada heboh. Ternyata ada cogan baru di SMA ini," ujar Zaki.
"Nah sadar, bentar lagi lo juga bakal nyusul. Atau sekarang emang udah mau nyusul?" tanya Agatha yang mengacak-acak rambut Zaki.
"Eh Ramdan, kok rambut lo enggak berantakan ya gue acak-acak?" tanyanya heran kemudian melihat dengan seksama rambut Zaki.
"Baru sadar ya? Rambut dia itu emang modelnya udah dari lahir kayak gitu sumpah, gue juga heran sih. Cuman cakep kalau dilihat-lihat," ujar Hiskia.
Ramdan tertawa. "Apasih kalian."
"Ipisih kiliin," ejek Agatha.
"Sumpah ya itu kata-kata jijik tau enggak, untuk cewek aja berlakunya. Buat cowok mah beda lagi anjir," ujar Agatha lagi.
"Gue kudu ajarin kalian nih, semua bahasa-bahasa gaul yang harus kalian tau! Kalian mulai saat ini harus dengerin semua kata gue dan semua rutinitas yang harus kalian lakuin setiap harinya akan gue list," ujar Agatha.
"Buset," kaget Hiskia.
"Mau berubah enggak? Ini udah lumayan loh, gue kasih apresiasi buat kehebohan lo saat ini. Pertahanin, di sekolah ini jangan cuman nilai yang harus lo kejar! Tapi kejar juga kenangan yang bisa lo bawa sampai lo tua," ujar Agatha.
"SMA itu cuman sekali doang kecuali untuk anak-anak yang enggak punya masa depan, contohnya dia mau tinggal kelas terus menerus," ujarnya.
"Bijak banget ya bu bos!" ujar Hiskia.
Zaki tertawa, dan untuk pertama kalinya dia tertawa membuat Agatha terpesona. "Sumpah ini ketawa yang gue idam-idamkan, jangan ketawa alay ya. Gue risih sumpah, gue aja risih apalagi yang lain. Tapi tenang aja gue bukan tipe teman yang ninggalin hanya karena alasan risih."
"Cerewet banget sih."
**
Pelajaran kedua dimulai dengan tenang, kebetulan sekali ulangan harian diadakan membuat beberapa siswa memasang wajah cemberut dan juga deg-degan karena belum belajar dan susah mencari contekan apalagi di sini masih pada baru kan, karena masih baru saja masuk kelas 10 SMA.
Zaki dengan tenang dirinya duduk. "Eh Zaki rambut kamu baru ya? Bagusan gini," ujar bu Tika selaku guru fisika.
Zaki hanya manggut-manggut sambil tersenyum, beberapa tatapan beralih pada Zaki kemudian sibuk pada kertas mereka.
"Kalian punya waktu 40 menit untuk mengerjakan 10 soal itu," ujar Bu Tika.
"Jangan ada nyontek, ibu akan awasin kalian. Jika salah satu di antara kalian menyontek, maka satu kelas ibu akan hukum," tegas Bu Tika.
Tentunya penegasan itu membuat banyak sekali siswa IPA satu merasa resah terkhusus Galang dan Reno. Baru saja mereka ingin mencari jawaban dari Zaki sayangnya bangku saja diacak.
Dan mereka duduk bersama dengan cewek astaga, sebuah kesialan bagi Galang sekarang. Dia mencari kertas dan menuliskan sesuatu lalu menggulungnya dan melemparkannya kepada Zaki.
Zaki yang terkena di bagian kepala langsung menoleh ke belakang dan mengambil kertas itu dan membacanya. "Eh itu! Apa itu Zaki?" tanya Bu Tika. Zaki yang terkejut langsung menyembunyikan kertas tersebut.
Bu Tika berjalan mendekat, Galang hanya bisa melihat dari belakang dan berdoa tidak ada hal sial yang terjadi padanya untuk saat ini. Sehari saja. "Apa itu? Kenapa kamu sembunyikan?" tanya Bu Tika langsung merampas kertas itu dan membacanya, seketika pandangannya tertuju pada Galang. Dalam hati Galang berdecak.
"Galang! Kamu ke depan sekarang!" pinta ibu Tika dengan sarkas, Galang yang tak mau ambil susah kemudian langsung berdiri dan berjalan malas ke depan.
"Kalian semua ibu hukum, karena sesuai dengan persyaratan awal. Tidak ada seorang pun yang boleh menyontek, dan bila ketahuan maka berakibat untuk semua siswa," jelas Bu Tika.
"Ya ... ibu! Tapi kan, Galangnya gak jadi nyontek gimana sih ibu," keluh Lilis—salah satu murid di kelas itu.
"Tidak ada penolakan, kerjakan cepat selama jam istirahat kalian hanya boleh memberikan lapangan sekolah," jelas Bu Tika.
*
Setelah ujian selesai berhubung setiap pelajaran hanya memerlukan waktu 2 jam, dan ujian hanya 40 menit. Maka mereka sekarang disuruh untuk membersihkan lapangan sekolah, dan juga halaman perpustakaan. Dengan langkah yang biasa, Agatha mengambil beberapa botol yang berserakan dan menyimpannya di kantong plastik.
Dirinya yang sibuk dengan aktivitas membersihkan akhirnya terusik karena keramaian di lapangan yang membuatnya penasaran. Dia membelah kerumuman walau yang mengerumuni mereka hanya teman kelas tapi tetap saja banyak.
"Lo salah, karena lo semuanya jadi dihukum kan. Lo enggak bisa apa buang kertas itu langsung biar enggak ketahuan?" tanya Galang sambil menarik kerah baju Zaki.
Pria itu masih tetap tenang menatap Galang. Dia mengingat beberapa perkataan Agatha yang mengatakan bahwa dirinya harus melakukan beberapa hal jika ada yang mengajaknya berantem; jangan pernah bersikap seolah kita takut, diam saja sampai dia bermain tangan, biarkan dia berbicara lalu balaslah dengan pernyataan singkat.
"Kenapa lo diam, banci?" tanya Galang dengan kata banci sebagai penekanan.
Zaki mendorong pelan tubuh Galang dan mengusap pelan pundaknya. "Udah?" tanya Zaki dengan santainya.
"Daripada sibuk nyalahin gue, mending lo sapu semua ini. Karena bagaimanapun lo yang salah, bukan gue." Zaki langsung pergi begitu saja, Agatha yang melihat itu langsung tersenyum senang dan berlari menyusul Zaki.
"Gila sih, emang the best! Gini dong biar kayak cool gitu," ujar Agatha.
"Please lah, asli gue tetap deg-degan dan takut dia benar-benar main kasar. Gue belum bisa membalas hantaman orang-orang yang berani memukul, perlu lo tau kalau gue masih punya sikap feminim yang harus gue rubah," ujar Zaki.
Agatha paham. "Iya, gue paham semuanya. Dan semua itu emang butuh waktu."