Bermain Rahasia

1116 Kata
Menapaknya kakiku ke jalan paving depan gang membuat tanda bahwa Bhanu telah menghentikan laju kendaraanya dan meyuruhku turun dari montor yang telah menjadi transportasinya menuju ke sekolah,mungkin 1 tahun belakangan ini. “Lo serius enggak mau gue antar sampai rumah? Kayaknya rumah lo tuh privasi banget ya?.” “ Bukannya gitu Teman. Gue enggak suka aja ada yang tahu rumah gue. Bokap gue galak soalnya,” alibi ku. Sudah berkali-kali dia ingin mengetahui kejelasan letak rumahku. Tetapi, berkali-kali juga aku enggan mengizinkannya. “Gue khawatir sama lo Na. Kalau misalnya, lo dalam situasi genting tanpa ada bokap nyokap lo, emang mau minta tolong siapa hah? Tetangga lo? Enggak yakin gue kalau meraka mau nolongin. Alamat rumah lo aja mereka enggak tahu Na. Tetangga apaan sih kayak gitu.” Hal itu sontak membuatku tertawa cukup keras “Itu tandanya lo enggak boleh kepo Nu.” Dia kembali menimpali dengan kata-kata yang terdengar kesal, “Terus maksud lo yang selalu bujuk Raham buat ke rumah lo tuh apaan? .” “Kalau itu sih gue cuma bercanda Nu. Toh selama ini, gue juga enggak pernah berhasil bawa dia ke rumah. Intinya buat sekarang belum ada yang boleh tau rumah gue. Ngomong-ngomong lo perhatian kayak gitu, gue jadi makin curiga kalau lo udah enggak cinta lagi sama Yasmin dan sekarang jadi punya perasaan sama gue ya? ngaku hayo…” “Amit-amit deh gue cinta sama walang sangit kek lo. Gue tuh cuman enggak mau aja kalau nanti Ratu kesempurnaan universitas Cakrabrata masuk berita 'seorang mahasiswi dari Cakrabrata yang digadang-gadang menjadi Ratu kesempurnaan berakhir mengenaskan karena tidak ada yang menolong',” ucapnya mengikuti gaya bicara pembawa berita di televisi. Tidak berhenti sampai di situ ia pun meneruskan perkataanya, “Lagian nih ya Na. mungkin untuk sekarang Yasmin enggak tahu perasaaan gue ke dia, tapi gue yakin bahwa suatu saat nanti, Yasmin akan ngelihat gue sebagai salah satu orang yang cinta sama dia dengan tulus.” Disaat semua orang memanggilku Rui, hanya dia satu-satunya orang yang memanggilku Nana. Katanya sih karena panggilan Rui itu terlalu ribet. “Ngebet banget sih lo dapetin Yasmin padahal mah lebih cantikan gue kemana-mana kali.” “Ngaca mbak. Lo juga ngebet sama Raham. Gue sama dia juga gantengan gue kemana-mana tuh,” balasnya membalik perkataanku sepersekian detik tadi. “Udah mau maghrib. Gue balik dulu ya. Helm gue sini balikin. Gih pulang gue tungguin sini sampai lo masuk rumah.” “Enggak deh lo duluan aja. Lagian aneh banget, rumah gue kan dalam gang dan itu jauh. Mana mungkin lo bisa tau kalau gue udah masuk rumah. Dasar Bhanu kurang waras.” Mendengar perkataan ku Bhanu akhirnya menghela napas dan mengalah. “Ya udah deh gue pulang dulu. Lo hati-hati jalannya. Kalau ada semut lompatin aja jangan diinjek, kasian.” “Hahahaha. Garing banget sih lo. Sana-sana cepet jalan. Hati-hati,” suruhku diringi lambaian tangan yang jadi pengiring mengecilnya sahabatku itu dari pandangan. Setelah memastikannya sudah benar-benar jauh barulah aku berani melanjutkan langkahku yang sebenarnya masih jauh dari sini. Mungkin sekitar 350 meter lagi barulah aku bisa menemukan sebuah gang yang lebih kecil dari tempat aku dan Bhanu bercengkrama. Ini salah satu alasanku merahasiakan tempatku berpulang setelah segala aktivitas di luar. *** Penat selalu mendominasi raga yang sudah seharian bersekolah dan berjalan lumayan jauh dari gang sana untuk sampai ke rumah. Ditambah harus lelah batin begitu memandang tempat di depanku ini. Sebenarnya, tidak terlalu buruk untuk dikatakan rumah tapi sangat tidak sepadan dengan julukanku disekolah yang begitu terpandang. Ketika pintu rumah tertutup sempurna akan dorongan tubuhku yang telah masuk sempurna kedalamnya. Mataku mulai menyapukan dikeadaan sekitar. Tarikan akan sebuah gambar didepan sana sudah menjadi hal biasa. Menjadi rutinitasku sepulang sekolah dimana gambar berbingkai warna putih akan ku cengkram kuat sambil bergumam “kangen.” “Sudah maghrib. Lebih baik gue mandi,” putusku, begitu adzan berkumandang. Bergelung dalam tumpukan buku mengisahkan sejarah Indonesia menjadi pilihanku begitu menyelesaikan acara membasuh diri di kamar mandi. “Teuku Umar aja punya taktik cerdik buat ngelawan penjajah. Meskipun, harus nyelundupin harta Belanda dulu sih. Masa, gue juga harus ikutin cara Teuku Umar. Tapi apa yang mau dicuri dari Raham. Hati ibunya? Halah, hati anaknya aja susah buat diambil.” Sepertinya semakin malam otakku semakin tidak bisa bekerja bagaimana semestinya. “Pantes aja udah agak-agak. Ternyata udah jam 11,” sadarku setelah melihat jam digital di atas nakas. “Kayanya makan roti bisa menenangkan laper.” Karena hanya roti yang tersedia di atas meja makan. Makan roti sambil nonton tv menjadi opsi termantap sebelum tidur. “Ambil selimut juga deh. Siapa tahu nanti mager buat balik ke kamar.” Dan ternyata dugaanku itu betul. Setelah roti potongan terkahir melewati mulut. Mataku sudah tidak sanggup untuk melihat cahaya dari barang elektronik yang ku tonton. *** Sayup-sayup suara pembaca berita pagi membuat mataku membuka perlahan. “Ada kelas pagi sih hari ini. Jadi, mari kita mandi...,” lirihku masih mengumpulkan nyawa. Setelah mandi hal selanjutnya pasti adalah mempersiapkan segala keperluan untuk ke kampus. Sepertinya sudah menjadi tabiat perempuan jika bersiap-siap itu harus lama, agar penampilan dari sudut pandang manapun itu bisa terlihat sempurna,begitu juga denganku. Tadi aku memulai rangkaian mandi sejak pukul 06.16. Dan sekarang sudah pukul 07.20. Tapi, sekarang aku masih memakai sepatu. Bahkan, aku belum sarapan. Begitulah wanita dan kebiasaannya. Beruntung aku sudah menelpon Aya untuk menjemputku di tempat biasanya. Sebenarnya sih tanpa menelpon juga dia pasti akan menungguku disana tapi hanya untuk memastikan, ya tak apalah. Beberapa menit kemudian sepasang sepatu berwarna hitam dengan sentuhan putih dibeberapa titik itu membalut kakiku sempurna. Dengan langkah yang cerah dan tangan yang mencekal gagang pintu kukatakan, “ Rui berangkat dulu ya”. Barulah setelahnya aku keluar dari rumah dan bergerak mendekati Aya yang aku pastikan dia belum berada disana. Maka, lebih tepatnya aku mendekati tempat janjianku dengannya. Setibanya aku disana, belum terdapat tanda-tanda Nirbaya. Hanya ada lalu lalang beberapa warga sekitar yang hendak memulai hari. Ternyata aku harus menunggu 11 menit barulah si kampret itu datang dengan mobil putihnya yang mengkilap. “Cepet banget deh datengnya. Sampe gue lumutan,” Ungkapan sarkas yang membuatnya nyengir bak orang gila. Memang sih 11 menit itu tidak lama-lama banget,tapi kalu nungguinnya sendirian kayak aku yang daritadi Cuma plonga-plonga ya jatuhnya lama bangetlah gila. “Sorry ya beib. Gue tadi berantem dulu sama si Yagil tuh.” “Terserah deh intinya sekarang lo kudu ngebut biar cepat sampe ke sekolah. Karena sekarang udah jam 8 kurang 12 menit.” Sebenarnya hanya nada santai yang ku keluarkan. Tetapi,hal itu yang justru membuatnya kalang kabut. “HAH! Beneran lo? demi apa?. kuis sejarah indonesia jam pertama woi gue belum nyiapin contekan buat kuis aaaa.” Jeritan diakhir kalimatnya membuat pengiring lajunya mobil keluaran Korea Selatan tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN