Tara masih sesegukan di dalam dekapan Desi dan semua mata menatapnya penuh iba. Sesungguhnya kesedihan yang ditunjukkannya tak sepenuhnya sekadar sandiwara. Hatinya merasa teriris dan ada rasa lelah yang menyelimuti hatinya. Ia hanya menggunakan keadaan di sekitarnya untuk menikmati kemanangan terakhirnya. “Aku nggak menyangka jika Dania adalah pagar makan tanaman,” Tina menatap kesal bangku kosong tempat di mana Dania duduk, “Maaf karena aku nggak mengetahui hal ini, Tara. Dia memang sudah begitu keterlaluan.” Tara melepaskan diri dan pelukan Desi dan mengukir senyum tipis pada bibirnya. “Sejujurnya, jika saja suamiku nggak membuka peluang, maka Dania nggak akan masuk ke kehidupan kami. Perselingkuhan bukan karena salah satu orang saja, tetapi keduanya.” Desi menatap Tara sendu. “Kamu

