Malam itu, jalanan terlihat sepi, hanya lampu lalu lintas yang seolah menjadi pengatur gerak kehidupan di persimpangan jalan yang lengang.
Diana duduk di sebelah Sean, di kursi penumpang, menatap lekat wajah pria itu dalam diam. Rasa yang bercampur aduk di hatinya tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Hanya detik demi detik yang berlalu dalam ketegangan yang tak terlihat.
Lampu lalu lintas berubah menjadi hijau, dan Sean dengan tenang kembali fokus pada jalan di depannya, meninggalkan momen sejenak yang menggantung di antara mereka.
"Kamu nggak pernah peka pada perasaan orang lain, Diana," suara Sean tiba-tiba memecah keheningan, nada suaranya datar namun tegas.
"Selama hampir enam tahun kita berteman, kamu selalu menganggap mereka hanya teman dekat. Tapi kamu nggak pernah sadar kalau ada orang yang mencintaimu."
Diana terdiam sejenak, menghela napas panjang, mencoba menata hatinya yang bergemuruh. Ia tahu kemana arah pembicaraan ini akan berlanjut. "Entahlah, Uncle," balasnya pelan, suaranya nyaris tenggelam dalam keramaian yang samar terdengar dari luar.
"Aku terlalu sibuk memikirkan perasaanku sendiri padamu. Bahkan aku nggak pernah tahu kalau ada orang lain yang mungkin suka sama aku."
Sean menyampingkan pandangannya sejenak, memperhatikan Diana dengan sorot mata yang sulit dibaca.
"Lalu, sekarang setelah kamu tahu Bagas mencintaimu, apa kamu mau berhenti mencintaiku?" tanyanya, suaranya terdengar lebih lembut, namun sarat akan arti.
Diana menggeleng cepat. "Only you," jawabnya dengan keyakinan penuh, tanpa ragu sedikit pun.
Sean tersenyum tipis, senyum yang selalu membuat Diana merasa hangat. "Aku usahakan untuk nggak cemburu sama teman kamu itu. Karena aku percaya, kalau kamu memang hanya menginginkanku," katanya dengan nada menggoda, namun ada ketulusan dalam setiap katanya.
Diana tertawa kecil dan menepuk bahu Sean dengan ringan. "Aku akan bersikap biasa aja di depan Bagas. Walaupun sekarang aku tahu dia suka sama aku."
Sean mengusap lembut rambut Diana, sesuatu yang ia lakukan dengan alami, seolah gerakan itu lahir dari kebiasaan yang telah lama terbentuk.
"Terserah kamu saja. Aku percaya kamu nggak akan macam-macam," ucapnya dengan lembut, mengakhiri percakapan itu dengan kepercayaan yang mendalam.
Senyum Diana merekah, begitu manis hingga Sean tak mampu menahan diri untuk tidak tersenyum balik. "Harus!" jawabnya ringan, sambil menatap mata Sean dalam-dalam, seakan mengunci kepercayaan yang baru saja terucap.
Sesampainya di rumah, mereka berjalan masuk sambil berpegangan tangan. Di ambang pintu, mereka berhenti sejenak, saling menoleh, dan lagi-lagi senyum yang sama terbit di wajah keduanya.
Ada sesuatu yang istimewa dalam senyuman itu, sebuah kebersamaan yang hanya dimengerti oleh mereka berdua. Sekali lagi, mereka lupa siapa mereka sebenarnya—pamannya dan keponakannya. Dalam sekejap, dunia luar tak lagi relevan.
Setelah masuk ke dalam kamar Sean, Diana langsung menuju rak DVD yang penuh sesak dengan film-film koleksi. Ia mulai memilah-milih, mencari sesuatu yang bisa mereka tonton malam itu.
"Nonton film apa, Uncle?" tanya Diana sambil menelusuri tumpukan DVD di tangan. Beberapa judul klasik melintas di matanya, tapi tak satupun yang benar-benar menarik perhatiannya.
"Katanya mau yang romantis," jawab Sean sambil duduk di tepi ranjang, mengamati Diana yang masih sibuk mencari. "Nih, Titanic," sambungnya sambil mengangkat satu DVD.
Diana memutar matanya, menghela napas malas. "Isshh! Jadul banget sih! Nggak mau. Udah bosen nonton film itu. Lagian, itu kan cinta terlarang."
Sean tersenyum miring, sorot matanya penuh arti. "Macam hubungan kita. Kalau ada yang tahu, udah pasti dilarang," ucapnya tanpa ragu, sambil menatap Diana yang kini berdiri di depannya, masih memegang beberapa DVD.
Diana hanya mengangkat bahu, tak peduli. Baginya, apapun penilaian orang lain tak akan mengubah apa yang ia rasakan.
"Aku nggak peduli, Sean. Mereka nggak tahu apa-apa tentang kita," jawabnya dengan nada tegas namun lembut, seolah semua kata itu adalah mantra yang memantapkan hatinya.
Sean hanya tersenyum kecil, menatap Diana dengan penuh kasih sayang, membiarkan waktu berlalu tanpa desakan. Dalam keheningan itu, hanya ada mereka berdua—dan dunia mereka sendiri, dunia yang orang lain mungkin takkan pernah mengerti.
"Uncle berani nggak, kasih tahu ke orang lain kalau kita pacaran?" tanyanya tiba-tiba, suara lembutnya seolah menusuk ke dalam ketenangan malam itu.
Sean menghela napas panjang, terdengar berat dan penuh beban. Matanya sejenak terpejam, menimbang-nimbang jawabannya sebelum membuka mata kembali dan menatap Diana dengan tatapan lembut namun tegas.
"Untuk saat ini, belum bisa, Diana," jawabnya dengan nada yang hati-hati. "Seperti yang aku bilang sebelumnya, jalani dulu. Kalau nanti ada yang tahu tentang hubungan kita, aku pasti akan menjelaskannya."
Diana mengembungkan pipinya, seolah-olah menahan perasaan yang berkecamuk di dadanya. Namun, tak lama senyum kecil terbit di wajahnya.
"Rumit ya, Uncle," ujarnya sambil tersenyum tipis, "tapi, aku senang menjalaninya. Rasanya seperti... seolah-olah Uncle bukanlah pamanku, melainkan takdirku."
Sean tak bisa menahan senyum tipis yang muncul di bibirnya. "Perempuan cantik seperti kamu, bisa-bisanya jatuh cinta pada pamanmu sendiri," pikirnya dalam hati, penuh perasaan yang bercampur aduk antara kebanggaan dan rasa tak percaya. Namun, ia memilih diam, membiarkan momen ini tetap tenang, tanpa gejolak.
"Uncle?" panggil Diana, membuyarkan lamunannya.
Sean menoleh, menatapnya lagi. "Kenapa, Din?" tanyanya lembut.
Diana mengangkat sebuah DVD dari tangannya dan menyerahkannya pada Sean. "Ini... film apa? Seru nggak?" tanyanya penasaran.
Sean mengambil DVD tersebut, menatapnya sejenak, lalu menggelengkan kepala cepat. "Nggak cocok ditonton berdua," ujarnya sambil tersenyum kecut, "terlalu menguji adrenalin."
Diana mengerutkan keningnya, jelas semakin penasaran. "Uncle, itu film apa sih?" tanyanya sambil menatap Sean dengan tatapan yang menusuk, seperti detektif yang sedang menginterogasi.
Sean buru-buru mengambil DVD itu dari tangan Diana, seperti menyembunyikan sesuatu. "Bukan film yang bisa dipetik hikmahnya," kilahnya sambil meletakkan DVD tersebut jauh dari jangkauan Diana.
"Kamu kan lagi cari film yang cocok buat pasangan yang baru pacaran, dan film ini nggak cocok ditonton oleh orang yang baru pacaran."
Diana menatapnya dengan alis yang terangkat. "Lalu, cocoknya untuk siapa? Uncle yang sudah berumur?"
Sean langsung bereaksi. "Berumur? Aku masih muda, Diana! Baru kepala tiga," protesnya, merasa tersinggung dengan sebutan "berumur", meski dia tahu bahwa kenyataannya tidak jauh dari itu.
Diana tersenyum geli. "Terserah Uncle aja," ujarnya santai, namun matanya masih memancarkan rasa penasaran yang tak terelakkan. "Pokoknya aku mau lihat film itu. Film apaan sih, Uncle? Horor? Udah biasa kali nonton begituan."
Diana lantas mengambil kembali DVD tersebut dari tangan Sean dengan gerakan cepat. Sean, yang tak ingin membuat suasana lebih canggung, hanya bisa mendesah pasrah.
"Diana, jangan," ucap Sean lesu. "Sayang... nonton yang lain aja, oke?"
Namun, Diana tetap bersikeras. "Nggak! Pokoknya aku pengen nonton film itu," katanya tegas, sampai akhirnya ia berhasil merebut kembali DVD tersebut dan tersenyum penuh kemenangan.
Sean hanya bisa mengeluh pelan, tak berdaya menghadapi keinginan keras Diana.
Dia kemudian menutup pintu kamar, menyiapkan diri untuk menonton bersama Diana meskipun ia tak sepenuhnya setuju. Diana sudah bersiap-siap di depan laptop, menunggu film tersebut dimulai.
"Diana, kamu aja yang nonton. Aku mau tidur," ujar Sean, berdiri di samping Diana, berharap bisa menghindari situasi yang tak nyaman ini.
Diana mendongak cepat, seolah tersentak oleh pernyataan Sean. Dengan gerakan cepat, ia menutup layar laptop dengan keras, membuat suara klik yang tajam. Matanya yang berkilat menatap Sean tajam.
"Uncle," panggilnya, sambil kembali membuka laptop yang tadi ia tutup rapat-rapat. "Diam-diam menghanyutkan," katanya sambil menggelengkan kepala, senyum penuh arti menghiasi wajahnya. "Wajar sih, udah tua," tambahnya, mengejek.
Sean hanya memutar bola matanya perlahan, tak ingin terpancing. "Sudah tahu kalau aku udah tua, tapi masih aja suka," balasnya tak kalah tajam, namun penuh canda.
Diana tersenyum tipis. "Sini, Uncle," katanya sambil menarik tangan Sean dengan lembut. "Jangan berdiri di situ, nanti kena stroke," tambahnya sambil tertawa kecil.
Akhirnya, Sean pasrah. Mereka duduk berdampingan di depan laptop, dan film mulai diputar. Namun, seiring berjalannya waktu, Sean mulai merasa semakin tak nyaman. Adegan-adegan di film itu terlalu... intens.
"Diana, tontonan seperti ini nggak layak buat kamu," ucap Sean, suaranya terdengar khawatir. "Terlalu sensitif, dan aku khawatir kamu nggak bakal mau berhenti."