"Kenapa harus paman sendiri, Dind? Mau-maunya jadi boneka paman sendiri. Dipacarin, dihamilin, terus udah hamil malah suruh digugurin. Kok mau-maunya. Elo itu cantik, Dind. Jangan mau sama paman elo. Kena pelet lo, yaa?" "Diana kan, bucin. Nggak denger ya, kalau yang godain pamannya sendiri itu si Diana-nya. Pamannya mungkin merasa dapat ikan segar, yaa diembat aja. Udah berumur gitu yaa pikirannya udah ke hal intim lah." Kata-kata itu bertebaran seperti pecahan kaca, menusuk tanpa ampun, melukai lebih dalam daripada yang bisa dilihat mata. Di antara wajah-wajah yang tertawa puas, Diana hanya bisa membeku, seperti ranting yang dihantam badai hingga patah. Bibirnya gemetar, menahan tangis yang perlahan menggenang di kelopak matanya. Dunia di sekitarnya mendadak berubah menjadi panggu

